
Bright memasuki kamar lalu dilihatnya Win yang sedang tertidur tak
nyaman, ia tidur dengan posisi badan terduduk sambil tangan sebelah kanannya
menahan borgol agar tak bersentuhan dengan bekas luka di lehernya. Namun siapa
sangka Bright diam diam melepaskan borgol agar tidak menyentuh bekas luka di
leher Win, bukan Bright namanya jika ia tak mempunyai gengsi. Meski ia telah
meringankan rasa sakit Win namun ia tak memberikan Win alas tidur atau
setidaknya selimut.
Pagi hari Win
terbangun dan menyadari ia sudah tak lagi di borgol, sempat terlintas di
pikiran Win untuknya melarikan diri dari sana untuk menemui ibunya apapun
caranya. Namun saat di pikirkan lagi Win langsung mengingat bahwa Bright bisa
melakukan apapun di luar dugaannya, Win tetap memikirkan ibunya jadi ia
mengurungkan niatnya kembali. Terlihat Bright masih tertidur pulas waktu itu
menunjukan pukul 05:40 AM, Win menatap Bright ia selalu bertanya Tanya kenapa
Bright melakukan hal hal kejam pada orang lain dengan tampangnya yang sangat
tampan dan sangat lucu saat ia tertidur. Sekejap Win mengingat ingat apa yang
ia dengar saat Bright sedang berbicara dengan Alex di balik pintu kemarin
"Lalu bagaimana keadaan ibu Win?"
Bright
"Walau sudah operasi namun ternyata
tak ada perubahan" Alex
“Operasi?” gumam Win, Win baru mengingat kata operasi pikiran pikiran
buruk tentu saja langsung menyerbu otaknya. Tentu saja Win menduga bahwa ibunya
sedang sakit parah mengingat kesehatannya yang memburuk bahkan saat Win masih
berada disisinya, sayangnya Win tak pernah mengetahui penyakit yang di derita
ibunya itu.
Singkatnya Bright sudah bangun dan selesai mandi, ia sudah mengenakan
kemeja berwarna putih dan celana abu. Melihat Bright sedang dalam mode tenang
sambil menyisir rambutnya Win merasa bahwa tak masalah jika ia bertanya pada
Bright, namun Win mulai dengan basa basi dulu
“Terimakasih” Win
Namun Bright yang seperti es itu hanya diam tak menghiraukannya
“Terimakasih telah melepas borgolku tadi malam, aku bisa tidur dengan
nyaman” Win
“Aku hanya tidak ingin tidurku terganggu karena rengekanmu” Tentu saja
itu hanya alasan klasik dari Bright
“Apapun alasanmu itu tetap menguntungkan bagiku, terimakasih” Win
“Apa jika aku membiarkanmu tidur di kasurku tadi malam, apa kau akan
menyembahku sepanjang hari? Berhentilah bilang terimakasih aku tak
membutuhkannya” Bright dengan wajah datarnya sambil mengancingkan lengan
kemejanya. Sedangkan Win menjadi kikuk karena akan berbicara masalah sebenarnya,
Bright hendak beranjak entak kemana namun tertahan oleh Win
“Euuu P’Bright apa aku boleh bertanya sesuatu?” Win sedikit gemetar,
padahal ia sempat berani mengumpat Bright kemarin
“Cepatlah aku tak punya banyak waktu!”
Bright
Win berdiri dan mendekat kea rah Bright yang posisinya
memunggungi Win, Win membungkukan tubuhnya sambil berkata
“Bisakah aku bertemu ibuku?”Win dengan sedikit berteriak dan masih membungkukan badannya seperti semula,
Bright yang mendengar pertanyaan dari Win langsung membalikan badannya melihat
Win
“Jika aku bilang tidak apa kau akan marah?” Bright
masih dengan wajah datarnya padahal itu semua berkebalikan dengan hatinya yang
bingung dengan pertanyaan sekaligus permintaan Win. Perlahan Win mengangkat
badannya kembali tegak dengan raut wajah kecewa, namun ia tak patah semangat ia
masih terus mencoba
“Aku akan menuruti apapun keinginanmu! Apa saja kumohon! Ini hanya sekali Phi aku hanya akan
bertemunya sekali setelah itu aku tak akan meminta lagi” Win dengan wajah
memohon
“Apa gunanya untuk mu memohon padaku?” Bright
“Phi bayangkan jika kau ingin bertemu orang
tersayangmu, lalu kau tak dapat menemuinya apa yang kau akan lakukan?” Win
“Kenapa kau bertanya padaku?” Bright
Win menyerah ia sadar tak ada gunanya memohon pada
Bright, meskipun ia menangis darahpun jika Bright tak mengkehendakinya maka itu
tak akan terjadi
“Seharusnya aku tak meminta belas kasihanmu” Win
membalikan badannya lalu duduk kembali di posisi biasa saat ia tidur. Bright tak
mengambil pusing hal itu ia melanjutkan langkahnya yang di ketahui akan ke
ruang pribadinya, terlihat Bright duduk di kursi lalu tangannya meraih telpon
rumah dan menekan bebrapa digit nomor tersebut
“Datang ke ruanganku!”
Bright
lama suara pintu di ketuk seseorang dari luar
“Masuk” Bright
Ternyata yang Bright panggil adalah Alex, terlihat
Alex memasuki ruangan dan langsung membungkuk memberi hormat pada Bright.
“Siapa orang terpecaya ibu Win?” Bright
“Louis tuan, dia adalah pemegang grup thanat sekaligus
adik dari ibu Win” Alex
“Atur jadwalku! Aku ingin bertemu dengannya!” Bright
“Baik tuan” Alex langsung undur diri dari ruangan
Bright guna melaksanakan tugas yang ia terima dari Bright sesegera mungkin.
Hari sudah sore, di tempat lain Louis sedang berjalan
dengan sekantung plasik makanan di tangannya ia membuka pintu gerbang sebuah
rumah yang merupakan rumah Win. Namun saat memasuki kamar Pim (ibunya Win+
Kakaknya Louis) Louis sangat terkejut melihat kakanya yang sedang tergeletak
kesakitan memegang perutnya, wajahnya memucat dengan bibir yang bergetar.
“Phii apa yang terjadi padamu?” Louis menjatuhkan
bawaannya itu dan langsung memegangi badan Pim, ia memegangi kedua lengan
kakaknya itu sambil menengok kesana kemari seakan mencari sesuatu untuk
menolong Pim.
“Phii kenapa seperti ini? Ayo ke dokter” Louis hendak
mengangkat badan Pim untuk memapahnya pergi ke dokter, namun sepertinya Pim
sudah kehabisan tenaga. Melihat kakaknya terkulai lemas sukses membuat Louis
kehilangan akalnya ia menjadi tak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Jangan ke dokter aku hanya ingin istirahat” Pim
berusaha bicara dengan sisa tenaganya, mendengar kakaknya bicara Louis akhirnya
bisa bernafas lalu mengangkat tubuh Pim dan membantunya berbaring di tempat
tidur. Louis mencari obat Pim untuknya diminum hari ini, namun semua tabung
obat itu sudah kosong. Louis sangat kebingungan ia benar benar tak memegang uang
sepeserpun, setelah grup Thanat hancur beberapa hari ke belakang akibat
tanahnya di ambil Louis benar benar tak memiliki harta sedikitpun. Ia mendaratkan
bokongnya di lantai dengan wajah frustasi, ia menjambak rambutnya berkali kali.
Bright yang sedang duduk di kursi kerjanya tiba tiba
dihampiri Alex
“Tuan sebaiknya kita datangi saja rumah Ibu Win untuk
bertemu dengan Louis disana, karena sepertinya Louis banyak menghabiskan waktunya
di sana untuk merawat ibu Win” Alex
“Ayo kita kesana besok” Bright
“Baik tuan” Alex
Hari sudah malam seperti biasa Bright kembali ke
kamar, betapa terkejutnya Bright ketika membuka pintu ia melihat Win yang
sedang duduk tepat depan pintu layaknya anjing yang sedang menunggu majikannya
pulang
“Aaaaiss shiaaaa” Bright dengan wajah terkejutnya
Namun Win hanya tersenyum polos melihat Bright
terkejut
“Selamat malam P’Bright” Win sambil tersenyum
“Huhhh” Bright mengabaikan sapaan Win lalu berjalan melewatinya
Win berdiri dan langsung kembali ke tempat biasa ia
duduk, Bright menarik dasinya lalu membuka satu kancing atas bajunya
“P’Bright apa kau lelah?” Win di pojok sana
Sedangkan Bright hanya menengok Win sebentar lalu
mengabaikan pertanyaannya, ia duduk di ujung kasur sambil membuka kancing
tangan kemejanya
“P’Bright apa kau sudah makan?” entah mengapa Win
bertingkah seakan sedang menginginkan sesuatu dan Bright pun menyadari hal itu
“Diam dan tak usah bersikap seperti itu! Aku terlalu lelah mendengar ocehanmu semenjak aku
pulang, apa maumu?” Bright
Win senang karena Bright peka dengannya
“Aku berfirasat buruk tentang ibuku, aku memimpikan
hal aneh tentang ibuku siang bolong tadi” Win
“Jangan gunakan alasan konyol itu untuk memanipulasiku
agar aku membawamu menemui ibumu!” Bright
“Tapi aku benar benar merasakan hal buruk” Win
memastikan
“Jika seperti itu sama halnya kau berharap sesuatu
yang buruk tentang ibumu!, kau menyebalkan” Bright yang terlalu
kelelahan mendengar ocehan dari Win memilih untuk keluar meninggalkan Win.
Maaf telat update
lagi, author masih dalam rangka mempersiapkan sidang…
Kalo suka silahkan
like+vote sama bantu follow juga! !pokoknya selamat
membaca><