
Setelah selesai merengek pada Bright ingin bertemu ibunya akhirnya Win
tertidur juga, Bright masuk lagi ke kamar ia langsung menghampiri Win yang kini
tidur memunggungi dirinya. Di lihatnya memar keunguan memenuhi beberapa bagian
tubuh Win itu semua dibuat tak lain dan tak bukan adalah oleh Bright, bekas
luka di dahi saat Bright mendorongnya hingga jatuh dan tertimpa buku, memar di
pipinya bekas tamparan dari tangan Bright, kulit lehernya yang terkelupas
akibat di borgol dan disandera zhen akibat ulah Bright, bekas sayatan di
lengannya akibat menyelamatkan Lyn yang tak lain dan tak bukan adalah adik
Bright semua luka pada Win adalah karena Bright. Memikirkan hal itu Bright
langsung ambruk ke lantai sambil menutup matanya yang sudah meneteskan air mata
dengan sebelah tangannya, Bright menggigit bibir bawahnya agar tak terdengar
isakan. Saat ini ia sedang membandingkan dirinya dengan Pim (ibu Win), Bright selalu
marah dan sedih saat Lyn adik kesayangannya terluka bahkan tergores sekalipn
lalu bagaimana jika Pim tahu bahwa anak kesayangannya penuh luka dan memar di
seluruh tubuhnya? Bright tak bisa membayangkan betapa sakitnya ia, apapun yang
Bright lakukan pada Win dia akan menyesalinya saat melihat Win tertidur seperti
itu.
Tangis Bright terhenti tatkala Win membalikan badannya menjadi menghadap
Bright dengan tak nyaman, namun untungnya matanya tetap terpejam dan masih di
alam mimpinya jika tidak ia akan tertawa melihat seorang Bright menangis
seperti anak kecil pikir Bright. Bright menyeka air matanya lalu perlahan
membuka borgol yang mengekang leher Win hingga darah merah muda kembali
terlihat, ia menggendong badan Win (ala ala Bridal style gitu lah ya) lalu
merebahkannya di kasur miliknya, Bright meraih selimut lalu menyelimuti badan
Win yang entah kapan terakhir kali Win tidur menggunakan alas dan selimut. Bright
menatap Win sepersekian detik lalu berjalan menuju kamar mandi, setelah
menyalakan shower Bright merenungi kelakuannya yang seperti iblis itu (upsss
author suka kepeleset) ia mengusak rambutnya kasar jika tak ada siapa siapa di
rumah itu rasanya Bright ingin berteriak mengeluarkan unek uneknya. Kini Bright
telah memakai piyamanya dengan rambut sedikit basah ia berjalan kearah kasur
lalu mengambil bantal, seperti biasa Bright menatap Win dengan intens sekian
detik lalu berjalan kearah sofa. Bright merebahkan tubuh tingginya di sofa
hingga membuat kakinya tak menapak karena sofanya yang terlalu pendek bagi
ukuran tubuh Bright, tak butuh lama Bright memejamkan matanya dan langsung
masuk kea lam mimpinya.
Pagi hari Win kebingungan karena mendapati dirinya terbangun di atas
kasur Bright, karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya Win cepat cepat
beranjak dari kasur dengan panic karena takut Bright memarahinya karena sudah lancing
tidur di kasurnya. Namun setelah sadar sepenuhnya ia lalu berfikir jernih “Ehh tunggu
tunggu perasaan semalam aku tidur di lantai? Lalu bagaimana aku bisa tiba tiba di kasur? Mungkin
aku sleep walking? Eitss aku kan di borgol” Win celingak celinguk dengan
tampang bodoh sambil meraba lehernya yang tak lagi memakai borgol. “Hanya P’Bright
yang punya kuncinya, yappp pasti P’Bright yang membuatku tidur di kasur” Win
sambil mengangguk angguk kecil “Ehh tapi kenapa P’Bright melakukan itu? Tak masuk
akal” Sekarang Win menggeleng gelengkan kepalanya.
(Brakkk) suara pintu yang terbuka mengagetkan Win, ternyata itu adalah
Bright yang masuk dengan setelan pakaian yang sudah rapih. Seperti biasa Bright
berjalan santai dengan wajah datarnya. Bright berhenti di dekat sebuah rak buku
dengan tangan yang sibuk menyingkabkan beberapa dokumen, hal itu membuat Win
terheran heran. Win menelan salivanya lalu memutuskan untuk bertanya
“Emmmmm P’Bright aku ingin bertanya sesuatu” Win sambil mengangguk angguk
kecil dengan kedua tangannya di gandengkan di belakang (Kayak cewek yang malu
malu gitu lah)
Namun Bright tak menjawab dan masih sibuk dengan aktivitasnya
“P’Bright” Win dengan suara masih pelan
“Kau merengek sangat keras tadi malam, tidurku terganggu karena itulah
aku membiarkanmu tidur di kasur” Bright dengan suara santai, ia sudah tahu jika
Win akan menanyakan hal itu
“Aku merengek?” Win sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya
tak lupa wajah yang melongo
Bright tak menjawab
“Aku rasa tidurku pulas tadi malam” Win tak mau kalah
“Karena kau tidur di kasurku!” Bright
Win memiringkan wajahnya dan menggaruk tengkuknya tak
gatal
“Terimakasih Phi” Win
“Berhentilah mengecoh aku sedang sibuk! !” ketus Bright masih dengan beberapa dokumen di
tangannya
Win tersenyum lalu mendaratkan bokongnya di lantai,
matanya tak luput dari perhatian Bright yang sedang sibuk mencari dan membaca
sesuatu.
Kini Bright sudah berada di ruang kerjanya bersama
Alex yang sedang mengamati jadwal Bright
“Tuan kau hanya punya waktu hari ini untuk bertemu
dengan Louis, satu hari kedepan jadwalmu sangat padat” Alex masih mengamati
jadwal di ipadnya.
“Emmm apa kita akan ke rumah ibu Win?” Bright
“Ya karena Louis ada di sana” Alex
“Siapkan segalanya! Aku akan menunggu di mobil” Bright sambil beranjak
“Baik tuan” Alex
Ketika Bright hendak ke luar rumah lalu datanglah Poy
dengan beberapa orang di belakangnya, Bright menatap tajam salah satu orang di
belakang Poy. Orang itu adalah Cadeo (Ayah kandung Bright), orang yang sangat
tidak diinginkan keberadaannya oleh Bright. Meskipun ia percaya tak percaya
jika ayahnya tak membunuh ibunya namun Bright masih marah padanya bahkan sangat
marah
“Bright ayah ingin bicara” Cadeo
“Aku tak ada waktu untuk berbicara denganmu!” Bright berjalan melewati Cadeo namun Cadeo langsung
menahan lengannya
“Aku yakin kau sangat ingin mengetahuinya, ini sangat
penting bagimu” Cadeo dengan sabar meyakinkan Bright
“Tak ada yang ingin aku ketahui darimu” Bright dengan
mata melototnya
“Ini tentang ayah angkatmu Lakorn” Cadeo
Bright kaget bagaimana dia bisa mengetahui sesuatu
tentang ayah angkatnya
“Apa yang kau ketahui tentangnya? !” Bright seperti meremehkan Cadeo
“Jika kau ingin mengetahuinya ayo kita bicara” Cadeo
Dengan terpaksa Bright mengiyakan permintaan Cadeo
lalu mereka duduk di ruang tamu dengan posisi saling berhadapan
“Aku mengetahui jika kau sedang meneliti kejadian
penembakan Lakorn” Cadeo membuka percakapan
Bright kembali kaget mengapa Cadeo bisa mengetahui hal
itu
“Itu bukan urusanmu” Bright
“Namun aku sedang berusaha membantumu mengungkap
kebenarannya” Cadeo
“Terimakasih tapi aku bisa mengurusnya sendiri tanpa
campur tangan darimu!” Bright
Cadeo memberikan sebuah rekaman cctv yang di dalamnya
terlihat seseorang dengan memakai jaket dan topi serba hitam sedang berjalan
terburu buru, namun terlihat jelas bahwa ia seorang wanita.
“Aku menemukan ini dari cctv apartemen dekat
terjadinya kejadian, setelah Lakorn lalu datang wanita itu kearah tempat sama
seperti Lakorn” Cadeo
Namun Bright tak langsung percaya apa yang Cadeo katakan,
lalu datanglah Alex untuk mengkonfirmasi keberangkatan mereka ke rumah Pim. Alex
terkejut karena disana sudah ada Cadeo
“Tuan kita tak banyak waktu” Alex sedikit berbisik
“Batalkan hal itu, aku ada urusan yang lebih serius”
Bright
“Tapi tuan..” Alex
Bright lalu menatap Alex dengan tajam sukses membuat
Alex membungkam mulutnya
“Bisa saja itu hanya orang yang lewat kesana” Bright
pada Cadeo
“Namun gerak geriknya sangat mencurigakan, lalu
lihatlah ini” Cadeo kembali memperlihatkan video yang lain, di video itu
terlihat wanita bertopi tadi berlari seperti seorang yang ketakutan. Bright menyaksikan
itu dengan sangat serius
“Video itu diambil dari cctv dan tempat berbeda, lalu
lihat clip selanjutnya” Cadeo meneruskan kembali videonya, karena wanita itu
terburu buru ia lalu menabrak seorang laki laki
“Apa kau kenal laki laki itu?” Cadeo menzoom videonya
Bright meneliti orang itu dan langsung mengenalinya
“Itu Thanat tersangka utama penembak ayahku” Bright
“Ini bisa di jadikan bahan bukti selanjutnya, aku akan
membantumu mengungkap kebenarannya” Cadeo
“Kau tak perlu melakukannya aku bisa mencarinya
sendiri” Bright
“Kau masih sama keras kepalanya seperti kau masih
kecil” Cadeo menggeleng pelan sambil tersenyum, lalu Cadeo bertingkah seperti
tahu sesuatu namun hal yang belum pasti ia seperti ingin mengatakan sesuatu
pada Bright
“Tahu apa kau tentang masa kecilku,bahkan aku lupa apa
kau pernah memperhatikanku atau tidak” Bright
Cadeo menggeleng pelan berusaha sabar
“Bright tolong berhati hatilah terhadap orang terdekatmu!, ayah permisi” Cadeo lalu beranjak dari kursi,
melihat kearah Alex sebentar lalu berlalu meninggalkan Bright. Bright tak
mengerti sedikitpun apa yang di katakan cadeo, ia hanya memikirkan orang yang
ada di video tadi Ia bertanya Tanya siapa
wanita yang ada di video itu.
Yeee Up lagii…
akhirnya author selesai juga bikin laporan guys Alhamdulillah jadi bisa update,
author tinggal nunggu jadwal sidang Degggggg
Pokoknya kalo suka
silahkan di Like, komen sama follow author ya! Happy Reading><