One Paid Two

One Paid Two
25


Setelah selesai merengek pada Bright ingin bertemu ibunya akhirnya Win


tertidur juga, Bright masuk lagi ke kamar ia langsung menghampiri Win yang kini


tidur memunggungi dirinya. Di lihatnya memar keunguan memenuhi beberapa bagian


tubuh Win itu semua dibuat tak lain dan tak bukan adalah oleh Bright, bekas


luka di dahi saat Bright mendorongnya hingga jatuh dan tertimpa buku, memar di


pipinya bekas tamparan dari tangan Bright, kulit lehernya yang terkelupas


akibat di borgol dan disandera zhen akibat ulah Bright, bekas sayatan di


lengannya akibat menyelamatkan Lyn yang tak lain dan tak bukan adalah adik


Bright semua luka pada Win adalah karena Bright. Memikirkan hal itu Bright


langsung ambruk ke lantai sambil menutup matanya yang sudah meneteskan air mata


dengan sebelah tangannya, Bright menggigit bibir bawahnya agar tak terdengar


isakan. Saat ini ia sedang membandingkan dirinya dengan Pim (ibu Win), Bright selalu


marah dan sedih saat Lyn adik kesayangannya terluka bahkan tergores sekalipn


lalu bagaimana jika Pim tahu bahwa anak kesayangannya penuh luka dan memar di


seluruh tubuhnya? Bright tak bisa membayangkan betapa sakitnya ia, apapun yang


Bright lakukan pada Win dia akan menyesalinya saat melihat Win tertidur seperti


itu.


Tangis Bright terhenti tatkala Win membalikan badannya menjadi menghadap


Bright dengan tak nyaman, namun untungnya matanya tetap terpejam dan masih di


alam mimpinya jika tidak ia akan tertawa melihat seorang Bright menangis


seperti anak kecil pikir Bright. Bright menyeka air matanya lalu perlahan


membuka borgol yang mengekang leher Win hingga darah merah muda kembali


terlihat, ia menggendong badan Win (ala ala Bridal style gitu lah ya) lalu


merebahkannya di kasur miliknya, Bright meraih selimut lalu menyelimuti badan


Win yang entah kapan terakhir kali Win tidur menggunakan alas dan selimut. Bright


menatap Win sepersekian detik lalu berjalan menuju kamar mandi, setelah


menyalakan shower Bright merenungi kelakuannya yang seperti iblis itu (upsss


author suka kepeleset) ia mengusak rambutnya kasar jika tak ada siapa siapa di


rumah itu rasanya Bright ingin berteriak mengeluarkan unek uneknya. Kini Bright


telah memakai piyamanya dengan rambut sedikit basah ia berjalan kearah kasur


lalu mengambil bantal, seperti biasa Bright menatap Win dengan intens sekian


detik lalu berjalan kearah sofa. Bright merebahkan tubuh tingginya di sofa


hingga membuat kakinya tak menapak karena sofanya yang terlalu pendek bagi


ukuran tubuh Bright, tak butuh lama Bright memejamkan matanya dan langsung


masuk kea lam mimpinya.


Pagi hari Win kebingungan karena mendapati dirinya terbangun di atas


kasur Bright, karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya Win cepat cepat


beranjak dari kasur dengan panic karena takut Bright memarahinya karena sudah lancing


tidur di kasurnya. Namun setelah sadar sepenuhnya ia lalu berfikir jernih “Ehh tunggu


tunggu perasaan semalam aku tidur di lantai?  Lalu bagaimana aku bisa tiba tiba di kasur? Mungkin


aku sleep walking? Eitss aku kan di borgol” Win celingak celinguk dengan


tampang bodoh sambil meraba lehernya yang tak lagi memakai borgol. “Hanya P’Bright


yang punya kuncinya, yappp pasti P’Bright yang membuatku tidur di kasur” Win


sambil mengangguk angguk kecil “Ehh tapi kenapa P’Bright melakukan itu? Tak masuk


akal” Sekarang Win menggeleng gelengkan kepalanya.


(Brakkk) suara pintu yang terbuka mengagetkan Win, ternyata itu adalah


Bright yang masuk dengan setelan pakaian yang sudah rapih. Seperti biasa Bright


berjalan santai dengan wajah datarnya. Bright berhenti di dekat sebuah rak buku


dengan tangan yang sibuk menyingkabkan beberapa dokumen, hal itu membuat Win


terheran heran. Win menelan salivanya lalu memutuskan untuk bertanya


“Emmmmm P’Bright aku ingin bertanya sesuatu” Win sambil mengangguk angguk


kecil dengan kedua tangannya di gandengkan di belakang (Kayak cewek yang malu


malu gitu lah)


Namun Bright tak menjawab dan masih sibuk dengan aktivitasnya


“P’Bright” Win dengan suara masih pelan


“Kau merengek sangat keras tadi malam, tidurku terganggu karena itulah


aku membiarkanmu tidur di kasur” Bright dengan suara santai, ia sudah tahu jika


Win akan menanyakan hal itu


“Aku merengek?” Win sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya


tak lupa wajah yang melongo


Bright tak menjawab


“Aku rasa tidurku pulas tadi malam” Win tak mau kalah


“Karena kau tidur di kasurku!” Bright


Win memiringkan wajahnya dan menggaruk tengkuknya tak


gatal


“Terimakasih Phi” Win


“Berhentilah mengecoh aku sedang sibuk! !” ketus Bright masih dengan beberapa dokumen di


tangannya


Win tersenyum lalu mendaratkan bokongnya di lantai,


matanya tak luput dari perhatian Bright yang sedang sibuk mencari dan membaca


sesuatu.


Kini Bright sudah berada di ruang kerjanya bersama


Alex yang sedang mengamati jadwal Bright


“Tuan kau hanya punya waktu hari ini untuk bertemu


dengan Louis, satu hari kedepan jadwalmu sangat padat” Alex masih mengamati


jadwal di ipadnya.


“Emmm apa kita akan ke rumah ibu Win?” Bright


“Ya karena Louis ada di sana” Alex


“Siapkan segalanya! Aku akan menunggu di mobil” Bright sambil beranjak


“Baik tuan” Alex


Ketika Bright hendak ke luar rumah lalu datanglah Poy


dengan beberapa orang di belakangnya, Bright menatap tajam salah satu orang di


belakang Poy. Orang itu adalah Cadeo (Ayah kandung Bright), orang yang sangat


tidak diinginkan keberadaannya oleh Bright. Meskipun ia percaya tak percaya


jika ayahnya tak membunuh ibunya namun Bright masih marah padanya bahkan sangat


marah


“Bright ayah ingin bicara” Cadeo


“Aku tak ada waktu untuk berbicara denganmu!” Bright berjalan melewati Cadeo namun Cadeo langsung


menahan lengannya


“Aku yakin kau sangat ingin mengetahuinya, ini sangat


penting bagimu” Cadeo dengan sabar meyakinkan Bright


“Tak ada yang ingin aku ketahui darimu” Bright dengan


mata melototnya


“Ini tentang ayah angkatmu Lakorn” Cadeo


Bright kaget bagaimana dia bisa mengetahui sesuatu


tentang ayah angkatnya


“Apa yang kau ketahui tentangnya? !” Bright seperti meremehkan Cadeo


“Jika kau ingin mengetahuinya ayo kita bicara” Cadeo


Dengan terpaksa Bright mengiyakan permintaan Cadeo


lalu mereka duduk di ruang tamu dengan posisi saling berhadapan


“Aku mengetahui jika kau sedang meneliti kejadian


penembakan Lakorn” Cadeo membuka percakapan


Bright kembali kaget mengapa Cadeo bisa mengetahui hal


itu


“Itu bukan urusanmu” Bright


“Namun aku sedang berusaha membantumu mengungkap


kebenarannya” Cadeo


“Terimakasih tapi aku bisa mengurusnya sendiri tanpa


campur tangan darimu!” Bright


Cadeo memberikan sebuah rekaman cctv yang di dalamnya


terlihat seseorang dengan memakai jaket dan topi serba hitam sedang berjalan


terburu buru, namun terlihat jelas bahwa ia seorang wanita.


“Aku menemukan ini dari cctv apartemen dekat


terjadinya kejadian, setelah Lakorn lalu datang wanita itu kearah tempat sama


seperti Lakorn” Cadeo


Namun Bright tak langsung percaya apa yang Cadeo katakan,


lalu datanglah Alex untuk mengkonfirmasi keberangkatan mereka ke rumah Pim. Alex


terkejut karena disana sudah ada Cadeo


“Tuan kita tak banyak waktu” Alex sedikit berbisik


“Batalkan hal itu, aku ada urusan yang lebih serius”


Bright


“Tapi tuan..” Alex


Bright lalu menatap Alex dengan tajam sukses membuat


Alex membungkam mulutnya


“Bisa saja itu hanya orang yang lewat kesana” Bright


pada Cadeo


“Namun gerak geriknya sangat mencurigakan, lalu


lihatlah ini” Cadeo kembali memperlihatkan video yang lain, di video itu


terlihat wanita bertopi tadi berlari seperti seorang yang ketakutan. Bright menyaksikan


itu dengan sangat serius


“Video itu diambil dari cctv dan tempat berbeda, lalu


lihat clip selanjutnya” Cadeo meneruskan kembali videonya, karena wanita itu


terburu buru ia lalu menabrak seorang  laki laki


“Apa kau kenal laki laki itu?” Cadeo menzoom videonya


Bright meneliti orang itu dan langsung mengenalinya


“Itu Thanat tersangka utama penembak ayahku” Bright


“Ini bisa di jadikan bahan bukti selanjutnya, aku akan


membantumu mengungkap kebenarannya” Cadeo


“Kau tak perlu melakukannya aku bisa mencarinya


sendiri” Bright


“Kau masih sama keras kepalanya seperti kau masih


kecil” Cadeo menggeleng pelan sambil tersenyum, lalu Cadeo bertingkah seperti


tahu sesuatu namun hal yang belum pasti ia seperti ingin mengatakan sesuatu


pada Bright


“Tahu apa kau tentang masa kecilku,bahkan aku lupa apa


kau pernah memperhatikanku atau tidak” Bright


Cadeo menggeleng pelan berusaha sabar


“Bright tolong berhati hatilah terhadap orang terdekatmu!, ayah permisi” Cadeo lalu beranjak dari kursi,


melihat kearah Alex sebentar lalu berlalu meninggalkan Bright. Bright tak


mengerti sedikitpun apa yang di katakan cadeo, ia hanya memikirkan orang yang


ada di video tadi  Ia bertanya Tanya siapa


wanita yang ada di video itu.


Yeee Up lagii…


akhirnya author selesai juga bikin laporan guys Alhamdulillah jadi bisa update,


author tinggal nunggu jadwal sidang Degggggg


Pokoknya kalo suka


silahkan di Like, komen sama follow author ya! Happy Reading><