
“Untunglah pasien dapat bernafas kembali setelah
saluran pernafasannya terhalang beberapa saat, kami akan berusaha semaksimal
mungkin namun tidak menutup kemungkinan jika pasien akan siuman dalam waktu
yang lama” ujar seorang dokter yang baru keluar dari ruangan UGD tersebut.
Bright tak berdaya, badannya terasa kehilangan tenaga
bahkan untuk berdiripun seakan tak mampu. Ibu Win menderita kanker pancreas ia
berada di ruangan operasi sedangkan Win berada di ruang UGD mereka sama sama
sedang bertahan untuk tetap hidup.
“Aku pikir dendamku akan terbalaskan dengan melihat
anak dan istrinya menderita, tapi kenapa ini justru menyakitkan, aku tak tahu
betapa mengerikannya melihat mereka di ambang kematian seperti ini” Bright
dengan tatapan kosong dan senyum palsunya, Alex hanya melirik ke arah Bright
sambil mengambil nafas kasar
“Kenapa aku malah masuk ke perangkapku sendiri?”
Bright
“Tenanglah tuan, aku yakin Win bisa melalui ini” Alex
“Lalu bagaimana dengan ibunya? Kau lihat betapa banyak
perjuangan Win untuk ibunya? Hampir setiap hari Win memohon untuk menjaga
ibunya,tidak berbuat macam macam pada ibunya semua tentang ibunya” ujung mata
Bright sudah mulai berair lagi
Jujur saja Alex pun baru kali ini melihat Bright
frustasi parah, melihat Alex menangisi orang lain bahkan keluarga yang menjadi
tersangka pembunuh ayah angkat yang sangat Bright sayangi.
“Tentang penyakit ibu Win, itu bukan salahmu tuam
bahkan kau tidak melakukan apapun pada ibu Win” Alex berusaha menenangkan
tuannya itu
“Lalu bagaimana dengan Win? Hah?” Bright
“Jujur saja tuan kenapa kau menjadi sangat takut jika
Win akan mati sekarang? Bukankah sebelumnya kau…?” Alex berfikir dua kali untuk
mengatakannya
“Bukankah kau yang bilang ada kemungkinan bukan Thanat
yang membunuh ayahku?” Bright
Alex baru menyadari kenapa Bright begitu takut Win
meninggal
“Ohh jadi itu alasannya?” Alex berbicara dalam
hatinya, Alex mengira Bright menyukai Win sehingga Bright sangat takut
kehilangan Win. Padahal? Entahlah.
.
.
Tak terasa hari sudah malam, namun ketegangan masih
belum hilang. Terlihat Poy lari ke
arah Bright dengan wajah penuh pesan, badan Bright
kembali menegang saat melihat Poy berlari kearahnya.
“Ya tuhan aku mohon sampaikanlah kabar baik” batin
Bright saat Poy semakin mendekat dengan nafas terengah engah
“Tuan” Poy
Wajah Bright Nampak sangat serius
“Operasinya berjalan lancar” Alex
“hahhhhhhh” Bright menurunkan bahunya bersamaan dengan
nafas yang keluar dari hidungnya, Bright bisa sedikit bernafas lega. Bisa di
lihat secercah ketenangan di wajahnya, Bright mengambil amplop berwarna coklat
dari kursi tunggu lalu perlahan menggulungnya
(Plakkkkkk) amplop itu sukses mendarat di kepala Poy
dengan kencangnya
“Lalu kenapa kau berlari lari kearahku seperti sesuatu
yang buruk terjadi? hah! !” Bright berteriak kesal pada Poy,
sedangkan yang di pukul memegang kepalanya sambil mengaduh
“Maafkan aku tuan” Poy dengan wajah tak berdosanya
“Apakah sangat menyenangkan melihatku tegang seperti
orang bodoh? ! hah!”
Bright sambil melayangkan kembali pukulannya dengan amplop pada kepala Poy,
namun kali ini tidak terlalu keras
“Tapi memang menyenangkan tuan” Alex yang sedari tadi
tertawa kecil ikut berbicara. Bright hendak memukul kepala Alex
menghindari pukulan Bright.
Alex sangat lega melihat Bright bertingkah normal
kembali itu berarti hati Bright kembali menenang.
“Bawa aku ke ruangan ibu Win” Bright pada Poy
Poy hanya mengangguk lalu berjalan duluan diikuti
Bright di belakang, sampailah mereka pada ruang rawat tempat ibu Win berbaring.
Rasa sakit dan perih di hatinya kembali terasa saat dilihatnya wanita yang
telah merawat dan melahirkan Win berbaring tak berdaya disana, terlintas di
pikirannya saat ia menyiksa Win lalu saat Win memohon untuk ibunya.
“Tuan sebaiknya kau kembali dulu, kau belum makan
sejak pagi” Poy
“Tidak aku akan tetap di rumah sakit” Bright
“Ayolah tuan kau juga perlu istirahat” Poy
Bright keras kepala terlihat seperti anak kecil, ia
menggelengkan kepalanya
“Aku akan mengabarimu jika Win dan ibunya sudah siuman,
atau kau bisa kembali lagi setelah mandi dan makan” bujuk Poy
“Yasudah aku akan pulang, nanti malam aku akan
kembali” Bright
Poy mengedipkan kedua matanya sambil mengangguk
mengiakan
“Kabari aku jika terjadi apa apa!”
Bright
“Iya tuan” Poy hanya menggelengkan kepalanya tak
percaya.
.
.
Sampainya dirumah Bright disambut Lyn yang sedang
duduk di sofa mansion itu seorang diri, Lyn menghampiri Bright
“P’Bai apa semuanya baik baik saja?” Lyn
“Semuanya baik baik saja Lyn” Bright
Lyn memeluk Bright dan menyandarkan kepalanya di dada
Bright
“Aku khawatir padamu Phi, kenapa kau baru pulang laruh
malam begini?” Lyn
Bright mengusap kepala Lyn dengan satu tangannya
“Lalu kenapa kau belum tidur?” Bright
“Aku menunggumu Phi” Lyn menengadahkan wajahnya
memandang orang yang lebih tinggi darinya itu
“Maafkan Phi telah membuatmu khawatir naa” Bright
“Apa yang terjadi Phi? Apa kau menemukan Win?” Lyn
“Emm Win sudah ketemu, namun dia harus masuk rumah
sakit sekarang” Bright
“Dia kenapa Phi?” Lyn
“Tidak apa apa, kau tak perlu tahu” Bright tidak ingin
Lyn dihantui rasa bersalah
“Phi ke kamar dulu ya, badan Phi terasa lengket Phi
ingin mandi” Bright
Lyn melepaskan pelukannya lalu mengangguk.
Sesampainya di kamar Bright membuka jasnya lalu
mengambil handuk berwana putih dan segera masuk ke kamar mandi
(Wrrrrrrrr) suara air yang turun dari sower, Bright
berdiri di bawah sower tanpa membuka pakaiannya. Hari ini terlalu melelahkan
untuk Bright dari mulai menyakitkan, menegangkan, menyedihkan, marah ,semuanya
Bright rasakan dalam satu hari penuh.
Waktu menunjukan jam 02:00 pagi, otaknya meminta
Bright untuk kembali ke rumah sakit saat matahari sudah muncul namun hatinya
bersikeras untuk kembali saat itu juga. Mau tak mau Bright harus menuruti kata
hatinya.
Kini Bright sudah berada di luar ruangan dimana Win
dirawat, Bright meraih gagang pintu lalu memutarnya secara perlahan lalu masuk.
Gimana ceritanya? Komentar di bawah ya! Kalo suka silahkan di Like! Happy Reading! !