One Paid Two

One Paid Two
20


“Untunglah pasien dapat bernafas kembali setelah


saluran pernafasannya terhalang beberapa saat, kami akan berusaha semaksimal


mungkin namun tidak menutup kemungkinan jika pasien akan siuman dalam waktu


yang lama” ujar seorang dokter yang baru keluar dari ruangan UGD tersebut.


Bright tak berdaya, badannya terasa kehilangan tenaga


bahkan untuk berdiripun seakan tak mampu. Ibu Win menderita kanker pancreas ia


berada di ruangan operasi sedangkan Win berada di ruang UGD mereka sama sama


sedang bertahan untuk tetap hidup.


“Aku pikir dendamku akan terbalaskan dengan melihat


anak dan istrinya menderita, tapi kenapa ini justru menyakitkan, aku tak tahu


betapa mengerikannya melihat mereka di ambang kematian seperti ini” Bright


dengan tatapan kosong dan senyum palsunya, Alex hanya melirik ke arah Bright


sambil mengambil nafas kasar


“Kenapa aku malah masuk ke perangkapku sendiri?”


Bright


“Tenanglah tuan, aku yakin Win bisa melalui ini” Alex


“Lalu bagaimana dengan ibunya? Kau lihat betapa banyak


perjuangan Win untuk ibunya? Hampir setiap hari Win memohon untuk menjaga


ibunya,tidak berbuat macam macam pada ibunya semua tentang ibunya” ujung mata


Bright sudah mulai berair lagi


Jujur saja Alex pun baru kali ini melihat Bright


frustasi parah, melihat Alex menangisi orang lain bahkan keluarga yang menjadi


tersangka pembunuh ayah angkat yang sangat Bright sayangi.


“Tentang penyakit ibu Win, itu bukan salahmu tuam


bahkan kau tidak melakukan apapun pada ibu Win” Alex berusaha menenangkan


tuannya itu


“Lalu bagaimana dengan Win? Hah?” Bright


“Jujur saja tuan kenapa kau menjadi sangat takut jika


Win akan mati sekarang? Bukankah sebelumnya kau…?” Alex berfikir dua kali untuk


mengatakannya


“Bukankah kau yang bilang ada kemungkinan bukan Thanat


yang membunuh ayahku?” Bright


Alex baru menyadari kenapa Bright begitu takut Win


meninggal


“Ohh jadi itu alasannya?” Alex berbicara dalam


hatinya, Alex mengira Bright menyukai Win sehingga Bright sangat takut


kehilangan Win. Padahal? Entahlah.


.


.


Tak terasa hari sudah malam, namun ketegangan masih


belum hilang. Terlihat Poy lari ke


arah Bright dengan wajah penuh pesan, badan Bright


kembali menegang saat melihat Poy berlari kearahnya.


“Ya tuhan aku mohon sampaikanlah kabar baik” batin


Bright saat Poy semakin mendekat dengan nafas terengah engah


“Tuan” Poy


Wajah Bright Nampak sangat serius


“Operasinya berjalan lancar” Alex


“hahhhhhhh” Bright menurunkan bahunya bersamaan dengan


nafas yang keluar dari hidungnya, Bright bisa sedikit bernafas lega. Bisa di


lihat secercah ketenangan di wajahnya, Bright mengambil amplop berwarna coklat


dari kursi tunggu lalu perlahan menggulungnya


(Plakkkkkk) amplop itu sukses mendarat di kepala Poy


dengan kencangnya


“Lalu kenapa kau berlari lari kearahku seperti sesuatu


yang buruk terjadi? hah! !” Bright berteriak kesal pada Poy,


sedangkan yang di pukul memegang kepalanya sambil mengaduh


“Maafkan aku tuan” Poy dengan wajah tak berdosanya


“Apakah sangat menyenangkan melihatku tegang seperti


orang bodoh? ! hah!”


Bright sambil melayangkan kembali pukulannya dengan amplop pada kepala Poy,


namun kali ini tidak terlalu keras


“Tapi memang menyenangkan tuan” Alex yang sedari tadi


tertawa kecil ikut berbicara. Bright hendak memukul kepala Alex


menghindari pukulan Bright.


Alex sangat lega melihat Bright bertingkah normal


kembali itu berarti hati Bright kembali menenang.


“Bawa aku ke ruangan ibu Win” Bright pada Poy


Poy hanya mengangguk lalu berjalan duluan diikuti


Bright di belakang, sampailah mereka pada ruang rawat tempat ibu Win berbaring.


Rasa sakit dan perih di hatinya kembali terasa saat dilihatnya wanita yang


telah merawat dan melahirkan Win berbaring tak berdaya disana, terlintas di


pikirannya saat ia menyiksa Win lalu saat Win memohon untuk ibunya.


“Tuan sebaiknya kau kembali dulu, kau belum makan


sejak pagi” Poy


“Tidak aku akan tetap di rumah sakit” Bright


“Ayolah tuan kau juga perlu istirahat” Poy


Bright keras kepala terlihat seperti anak kecil, ia


menggelengkan kepalanya


“Aku akan mengabarimu jika Win dan ibunya sudah siuman,


atau kau bisa kembali lagi setelah mandi dan makan” bujuk Poy


“Yasudah aku akan pulang, nanti malam aku akan


kembali” Bright


Poy mengedipkan kedua matanya sambil mengangguk


mengiakan


“Kabari aku jika terjadi apa apa!”


Bright


“Iya tuan” Poy hanya menggelengkan kepalanya tak


percaya.


.


.


Sampainya dirumah Bright disambut Lyn yang sedang


duduk di sofa mansion itu seorang diri, Lyn menghampiri Bright


“P’Bai apa semuanya baik baik saja?” Lyn


“Semuanya baik baik saja Lyn” Bright


Lyn memeluk Bright dan menyandarkan kepalanya di dada


Bright


“Aku khawatir padamu Phi, kenapa kau baru pulang laruh


malam begini?” Lyn


Bright mengusap kepala Lyn dengan satu tangannya


“Lalu kenapa kau belum tidur?” Bright


“Aku menunggumu Phi” Lyn menengadahkan wajahnya


memandang orang yang lebih tinggi darinya itu


“Maafkan Phi telah membuatmu khawatir naa” Bright


“Apa yang terjadi Phi? Apa kau menemukan Win?” Lyn


“Emm Win sudah ketemu, namun dia harus masuk rumah


sakit sekarang” Bright


“Dia kenapa Phi?” Lyn


“Tidak apa apa, kau tak perlu tahu” Bright tidak ingin


Lyn dihantui rasa bersalah


“Phi ke kamar dulu ya, badan Phi terasa lengket Phi


ingin mandi” Bright


Lyn melepaskan pelukannya lalu mengangguk.


Sesampainya di kamar Bright membuka jasnya lalu


mengambil handuk berwana putih dan segera masuk ke kamar mandi


(Wrrrrrrrr) suara air yang turun dari sower, Bright


berdiri di bawah sower tanpa membuka pakaiannya. Hari ini terlalu melelahkan


untuk Bright dari mulai menyakitkan, menegangkan, menyedihkan, marah ,semuanya


Bright rasakan dalam satu hari penuh.


Waktu menunjukan jam 02:00 pagi, otaknya meminta


Bright untuk kembali ke rumah sakit saat matahari sudah muncul namun hatinya


bersikeras untuk kembali saat itu juga. Mau tak mau Bright harus menuruti kata


hatinya.


Kini Bright sudah berada di luar ruangan dimana Win


dirawat, Bright meraih gagang pintu lalu memutarnya secara perlahan lalu masuk.


Gimana ceritanya? Komentar di bawah ya! Kalo suka silahkan di Like! Happy Reading! !