
Bright duduk bersandar pada bantal
di kasurnya, seperti biasa ia membaca buku kesukaannya. Sedangkan Win duduk
termenung di pojok kamar sana, ia memainkan telunjuknya pada murmer yang
menjadi alas kamar itu. Ujung mata Bright tak sengaja melihat ke arah Win namun
Bright berusaha tak peduli, hening adalah kata yang tepat untuk menggambarkan
suasana di sana. Waktu menunjukan pukul 20:25 namun kali ini Bright sudah
berada di rumah (tek tek tek) suara jam dinding terdengar sangat keras saking
sunyinya. Bright kembali melirik ke arah Win namun Win masih dalam posisi yang
sama, 20:50 Bright melirik lagi Win masih dalam keadaan yang sama, 21:05
Win masih duduk seperti saat pertama. Bright menutup bukunya dan bernafas
kasar,sekian detik ia menatap Win
“Ada apa denganmu?”
Bright yang penasaran dengan Win
Yang ditanya hanya
menengadahkan wajahnya melihat sebentar ke arah Bright lalu menggelengkan
kepalanya dan kembali ke posisi semula
“Aku Tanya ada apa!?”
Bright
“Tidak apa apa” ketus Win
“Jangan sampai aku memaksamu!”
Bright
Win memilih tidak menjawab, Bright merangkak ke ujung
kasur lalu duduk menatap Win kesal
“WIN METAWIN! Apa kau tuli!?”
Bright
“Aku tidak apa apa Phii!”
Win
“Kau berani meninggikan suara padaku?” Bright
memiringkan wajahnya dengan mata melotot, ia mengambil nafas berusaha untuk
tidak menyiksa Win
“Maaf” Win masih seperti mengabaikan Bright, akhirnya
Bright turun dari kasur dan menghampiri Win ia meraih tangannya untuk menghadap
ke arah Bright
“Aku sedang berbicara padamu!”
Bright
Win hanya menatap Bright
“Ada apa denganmu hah?” Bright
“Kau peduli padaku?” Win dengan wajah malas
“Apa kau bodoh? Aku bertanya padamu berarti kau harus
memberi jawaban! Bukan pertanyaan lagi!”
Bright
“Jika aku menjawab apakah kau akan mengatasinya? !” Win dengan mata yang sudah berair
“Jawab!” Bright
“AKU RINDU IBUKU!
! apa kau puas??? Apa
kau bisa membuatku bertemu dengannya? ! TIDAK! !” Win
Bright mendengar hal itu diam membeku, ia teringat
mendiang sang ibu ia juga merindukan ibunya andai ibunya masih ada.
“Jika aku saja tidak bisa bertemu ibuku kau juga tidak
bisa! !” Bright
“Aku tahu itu”Win memalingkan wajahnya ke arah
jendela, air matanya mulai turun namun Win menahan bibirnya agar tidak terisak
Bright berdiri ia menatap Win sebentar lalu menuju
tempat tidur dan menyelimuti badannya hingga leher.
Rasa dingin sudah menjadi sahabat Win setiap malam,
terkadang kakinya mati rasa, kaku, dan keram karena hawa dingin. Tentang Bright
benar ia lakukan.
“Ibuuuu..” Win sampai mengigau
“Ibuu” karena Win terus mengigau sukses membuat Bright
terbangun, matanya terbuka lalu melihat Win yang sedang tertidur tak nyaman
dengan badan menekuk dan tangan yang menjadi bantalnya. Ia melihat dirinya
sendiri dengan piyama hangat dan selimut tebal tapi dingin masih terasa, lalu
bagaimana Win yang tertidur tanpa alas, tanpa bantal, tanpa selimut dan baju
hangat?. Namun Bright tidak ingin mendramatisir ia kembali tidur dan berusaha
tidak peduli akan Win.
.
.
“Tuan ada kejanggalan dalam kasus penembakan Tuan
Lakorn(Ayah angkat Bright)”Alex
“Apa itu?” Bright yang sedang bersandar di kursi
langsung mengubah posisi menjadi lebih serius
“Nanti akan kujelaskan, sekarang ikuti aku tuan” Alex
Bright berdiri dan mengancingkan kemejanya lalu
mengikuti Alex dengan wajah yang tampak serius. Alex seperti biasa membukakan
pintu untuk Bright lalu berjalan memutar dan masuk ke tempat kemudi, Alex
membawa Bright ke tempat penyelidikan rahasia milik Bright.
“Ini tuan” Alex menunjukan 2 peluru di atas kain putih
Bright menyatukan alisnya ia tampak sedang berpikir,
Bright meraba 2 peluru itu dan mengamatinya. Bright membelakan matanya dan
mengangkat wajahnya menatap Alex
“Kedua peluru itu berbeda!”
Bright mengambil ke2 peluru itu
“Iya tuan peluru yang menembakmu dan yang menembak
tuan Lakorn berbeda, ada kemungkinan orang yang menembak tuan Lakorn dan yang
menembakmu adalah orang berbeda” Alex
“Apa kau yakin? Jangan asal mengartikan sesuatu!”
Bright
“Saya hanya berbicara sesuai bukti yang ada tuan” Alex
“Apa tidak ada kemungkinan satu orang membawa 2 pistol
yang berbeda?” Bright
“Itu memang mungkin tuan, tapi yang menembak tuan
Lakorn peluru yang jarang digunakan” Alex
“Selidiki ini lebih lanjut! Jangan sampai ada kesalahan!”
Bright
“Baik tuan” Alex
“Aku akan kembali sendiri” Bright
“Tapi itu berbahaya tuan” Alex
“Kau meremehkan kemampuan bela diriku?” Bright
“Ini bukan saatnya untuk pamer tuan” Alex
Bright tersenyum ia menepuk bahu Alex member kode
bahwa jangan mengkhawatirkannya
“Tuan!” Alex saat Bright sudah memunggunginya
Bright mengangguk menengadahkan Wajahnya
“Besar kemungkinan Thanat tidak membunuh tuan Lakorn”
Alex
Degggg hati Bright terasa meledak mendengar hal itu,
wajahnya memucat bahkan menelan saliva pun rasanya sulit
“Namun tidak menghapus kemungkinan dia juga yang
membunuh Ayahku!” Bright membalikan badannya dan segera
meninggalkan Alex
Like!! And Happy Reading!!