One Paid Two

One Paid Two
15


Bright duduk bersandar pada bantal


di kasurnya, seperti biasa ia membaca buku kesukaannya. Sedangkan Win duduk


termenung di pojok kamar sana, ia memainkan telunjuknya pada murmer yang


menjadi alas kamar itu. Ujung mata Bright tak sengaja melihat ke arah Win namun


Bright berusaha tak peduli, hening adalah kata yang tepat untuk menggambarkan


suasana di sana. Waktu menunjukan pukul 20:25 namun kali ini Bright sudah


berada di rumah (tek tek tek) suara jam dinding terdengar sangat keras saking


sunyinya. Bright kembali melirik ke arah Win namun Win masih dalam posisi yang


sama, 20:50 Bright melirik lagi Win masih dalam keadaan yang sama, 21:05


Win masih duduk seperti saat pertama. Bright menutup bukunya dan bernafas


kasar,sekian detik ia menatap Win


“Ada apa denganmu?”


Bright yang penasaran dengan Win


Yang ditanya hanya


menengadahkan wajahnya melihat sebentar ke arah Bright lalu menggelengkan


kepalanya dan kembali ke posisi semula


“Aku Tanya ada apa!?”


Bright


“Tidak apa apa” ketus Win


“Jangan sampai aku memaksamu!”


Bright


Win memilih tidak menjawab, Bright merangkak ke ujung


kasur lalu duduk menatap Win kesal


“WIN METAWIN! Apa kau tuli!?”


Bright


“Aku tidak apa apa Phii!”


Win


“Kau berani meninggikan suara padaku?” Bright


memiringkan wajahnya dengan mata melotot, ia mengambil nafas berusaha untuk


tidak menyiksa Win


“Maaf” Win masih seperti mengabaikan Bright, akhirnya


Bright turun dari kasur dan menghampiri Win ia meraih tangannya untuk menghadap


ke arah Bright


“Aku sedang berbicara padamu!”


Bright


Win hanya menatap Bright


“Ada apa denganmu hah?” Bright


“Kau peduli padaku?” Win dengan wajah malas


“Apa kau bodoh? Aku bertanya padamu berarti kau harus


memberi jawaban! Bukan pertanyaan lagi!”


Bright


“Jika aku menjawab apakah kau akan mengatasinya? !” Win dengan mata yang sudah berair


“Jawab!” Bright


“AKU RINDU IBUKU!


! apa kau puas??? Apa


kau bisa membuatku bertemu dengannya? ! TIDAK! !” Win


Bright mendengar hal itu diam membeku, ia teringat


mendiang sang ibu ia juga merindukan ibunya andai ibunya masih ada.


“Jika aku saja tidak bisa bertemu ibuku kau juga tidak


bisa! !” Bright


“Aku tahu itu”Win memalingkan wajahnya ke arah


jendela, air matanya mulai turun namun Win menahan bibirnya agar tidak terisak


Bright berdiri ia menatap Win sebentar lalu menuju


tempat tidur dan menyelimuti badannya hingga leher.


Rasa dingin sudah menjadi sahabat Win setiap malam,


terkadang kakinya mati rasa, kaku, dan keram karena hawa dingin. Tentang Bright


benar ia lakukan.


“Ibuuuu..” Win sampai mengigau


“Ibuu” karena Win terus mengigau sukses membuat Bright


terbangun, matanya terbuka lalu melihat Win yang sedang tertidur tak nyaman


dengan badan menekuk dan tangan yang menjadi bantalnya. Ia melihat dirinya


sendiri dengan piyama hangat dan selimut tebal tapi dingin masih terasa, lalu


bagaimana Win yang tertidur tanpa alas, tanpa bantal, tanpa selimut dan baju


hangat?. Namun Bright tidak ingin mendramatisir ia kembali tidur dan berusaha


tidak peduli akan Win.


.


.


“Tuan ada kejanggalan dalam kasus penembakan Tuan


Lakorn(Ayah angkat Bright)”Alex


“Apa itu?” Bright yang sedang bersandar di kursi


langsung mengubah posisi menjadi lebih serius


“Nanti akan kujelaskan, sekarang ikuti aku tuan” Alex


Bright berdiri dan mengancingkan kemejanya lalu


mengikuti Alex dengan wajah yang tampak serius. Alex seperti biasa membukakan


pintu untuk Bright lalu berjalan memutar dan masuk ke tempat kemudi, Alex


membawa Bright ke tempat penyelidikan rahasia milik Bright.


“Ini tuan” Alex menunjukan 2 peluru di atas kain putih


Bright menyatukan alisnya ia tampak sedang berpikir,


Bright meraba 2 peluru itu dan mengamatinya. Bright membelakan matanya dan


mengangkat wajahnya menatap Alex


“Kedua peluru itu berbeda!”


Bright mengambil ke2 peluru itu


“Iya tuan peluru yang menembakmu dan yang menembak


tuan Lakorn berbeda, ada kemungkinan orang yang menembak tuan Lakorn dan yang


menembakmu adalah orang berbeda” Alex


“Apa kau yakin? Jangan asal mengartikan sesuatu!”


Bright


“Saya hanya berbicara sesuai bukti yang ada tuan” Alex


“Apa tidak ada kemungkinan satu orang membawa 2 pistol


yang berbeda?” Bright


“Itu memang mungkin tuan, tapi yang menembak tuan


Lakorn peluru yang jarang digunakan” Alex


“Selidiki ini lebih lanjut! Jangan sampai ada kesalahan!”


Bright


“Baik tuan” Alex


“Aku akan kembali sendiri” Bright


“Tapi itu berbahaya tuan” Alex


“Kau meremehkan kemampuan bela diriku?” Bright


“Ini bukan saatnya untuk pamer tuan” Alex


Bright tersenyum ia menepuk bahu Alex member kode


bahwa jangan mengkhawatirkannya


“Tuan!” Alex saat Bright sudah memunggunginya


Bright mengangguk menengadahkan Wajahnya


“Besar kemungkinan Thanat tidak membunuh tuan Lakorn”


Alex


Degggg hati Bright terasa meledak mendengar hal itu,


wajahnya memucat bahkan menelan saliva pun rasanya sulit


“Namun tidak menghapus kemungkinan dia juga yang


membunuh Ayahku!” Bright membalikan badannya dan segera


meninggalkan Alex


Like!!  And Happy Reading!!