One Paid Two

One Paid Two
4


Bright menyandarkan punggungnya pada mobil audi


berwarna hitam sambil memainkan kunci di telunjuknya. (Dorrrrr) terdengar suara


tembakan dari tempat dimana Lakorn(ayah angkat Bright) bertemu dengan


seseorang, Bright berlari sekencang mungkin dilihatnya Ayahnya tergeletak di


tanah dengan bekas luka tembak di dada sebelah kirinya.


“Kornn!”  Thanat berteriak dengan pistol di


tangannya


Bright sudah mengira


bahwa Thanatlah yang membunuh ayahnya, dengan cepat Bright mengambil pistol


dari balik jaketnya yang memang selalu ia bawa. Belum sempat ia menembak


Thanat, Thanat menembak Bright duluan di bagian tangan kanan membuat Bright


ambruk. Thanat dengan wajah panic melangkahkan kakinya terlihat ingin menolong


Bright dan ayahnya namun terhenti dan segera lari meninggalkan mereka. Bright memegang


tangannya yang terluka dengan tangan kirinya, dilihatnya sang ayah lalu


dipangkunya dengan satu tangan menempatkan kepala sang ayah di pangkuannya.


“Ayahh! ! tolong


bangun!  Kau bilang kau tidak akan mati


hanya karena satu tembakan.. kau berbohong! Ayahh! !” Bright memanggil manggil


ayahnya dan menggoyang goyangkan badannya sambil menangis histeris berharap


ayahnya kembali.


“Tuan! tuannn! Bangunlah


tuan!” Alex sambil mengguncang badan bright, membuat sang empu terbangun.


“Apa kau bermimpi


tuan? Kau tidur sambil menangis” kata Alex


Bright tidak menjawab


dan berlalu meninggalkan Alex ke kamar mandi.


Selesai mandi dan


berpakaian Bright meraih 2 handphone lalu keluar dari kamar, Bright masuk


keruangan dimana tempat Win disandera dilihatnya wajah Win yang pucat akibat


dari 2 hari tidak makan. Bukannya tidak dikasih makan tapi Winlah yang membuang


makannannya, jadi aku tidak salah pikir Bright. Win menatap Bright dengan


tatapan sayu


“Aku sudah mengurus


tentang ibumu, aku bilang kau ada pekerjaan ke luar kota dan tidak sempat


pamitan… dan dia percaya”


“Apa kau janji tidak


akan menyakiti ibuku” kata Win dengan lemah, namun Bright tidak menjawab


“Kumohon berjanjilah


padaku.. kau tidak akan menyakiti ibuku kumohon! Aku kan menuruti apapun


keinginanmu, aku berjanji!” Win merapatkan kedua tangannya dan menempatkannya


di dadanya memohon dengan suara lemahnya. Sedangkan Bright tersenyum menang,


entah kenapa keadaan Win yang terpuruk membuat geli hatinya.


“Lalu jadilah anjing


yang patuh pada majikannya!” kata Bright sambil meninggalkan ruangan


“Beri dia makan dan


minum” kata Bright sebelum punggungnya benar benar tidak terlihat


“Baik tuan” kata Alex


Bright berjalan


diikuti dua anak buahnya yang lain di belakang, satu anak buahnya menjinjing


tas kerja berwarna hitam sedangkan yang lainnya membukakan pintu mobil untuk


Bright. Mereka tampak sedang terburu buru, audi hitam itu terlihat melaju


dengan cepat.


.


.


Di ruangan salah satu


mension megah berlatar hitam, duduk pria berumur 60 tahun di sebuah sofa big


berwarna hitam pula. Dengan sekuntung rokok di antara jari telunjuk dan jari


tengahnya pria tersebut duduk santai seperti sedang menunggu seseorang


“Dia sudah sampai


tuan” salah satu anak buahnya mengkonfirmasi


“Biarkan dia masuk!”


Bright masuk diikuti


anak buah pria pemilik mension menahan mereka. Anak buah Bright berontak namun


mengangguk kepada mereka memberi isyarat, lalu mereka menuruti Bright dan


membiarkan Bright masuk sendiri.


“Silahkan duduk!”


kata si pria pemilik mension yang diketahui bernama Zhen, tanpa menjawab Bright


mengangguk dan segera duduk. Hubungan antara Bright dan Zhen sepertinya tidak


baik baik saja, dilihat dari bagaimana mereka saling menatap.


“Senang bisa bertemu


lagi tuan Bright” kata Zhen memecah keheningan


“Tentu saja” Bright


memiringkan bibirnya sebelah


“Emmm aku tidak suka


basa basi aku akan ke intinya saja tuan Bright (menyodorkan sebuah amplop


coklat) itu adalah kontrak kerjasama”


“Kerjasama apa


maksudmu”


“Emmm aku butuh


bantuanmu, aku mengajakmu bekerjasama untuk mengambil alih tanah bagian selatan


Opas iam-kajorn”


“Bukankah itu tanah


kekuasaan keluarga Thanat, kudengar kau juga punya hak seperempat dari tanah


tersebut? Bukankah kau teman Thanat?”


“Aku memang punya


seperempat tapi aku menginginkan setidaknya setengahnya, jika Tuan Bright


bersedia kita akan membaginya menjadi 2” Zhen berusaha membujuk Bright


“Jika aku


mendapatkannya lalu apa gunanya bagiku?”


Zhen terlihat sedang


berfikir mencari alibi


“ Kau bisa


menghancurkan keluarga Thanat berkeping keeping, kau tidak akan tinggal diam


terhadap orang yang membunuh ayahmu bukan?”


Bright yang tadinya


duduk dengan santai langsung mengubah posisi duduknya, wajahnya menatap Zhen


dengan tajam


“Bagaimana kau tahu


itu!?”


“Euuuu.. aku


mendengar humornya” Zhen menjawab dengan kikuk


Bright kembali


menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua tanganya yang melipat didepan


dadanya


“Jadi apa kau


bersedia bekerja sama?” kata Zhen lagi


Bright membenarkan


duduknya dan mengambil amplop tersebut, Zhen terlihat sangat senang melihat hal


itu satu senyuman mengembang di bibirnya.


(Rwekkkk) Bright


merobek amplopnya menjadi empat bagian dengan wajah datarnya, Zhen membelakan


matanya melihat kelakuan Bright Zhen kecewa dan marah terlihat dari rahangnya


yang mengeras.


“Bagaimana aku bisa


mempercayai teman dari orang yang membunuh ayahku?” Bright beranjak dari tempat


duduknya


“Bukankah kau teman


Thanat? Seharusnya kau malu bertemu denganku dan melindungi perusahaannya


bukan? Hah dan satu lagi, jika tanah bagian selatan sangat menguntungkan untuk


bisnisku lalu aku akan mendapatkannya sendirian” Bright tersenyum licik sedikit


membungkukan badannya member hormat kepada Zhen lalu meninggalkan berjalan


keluar.