
Bright menyandarkan punggungnya pada mobil audi
berwarna hitam sambil memainkan kunci di telunjuknya. (Dorrrrr) terdengar suara
tembakan dari tempat dimana Lakorn(ayah angkat Bright) bertemu dengan
seseorang, Bright berlari sekencang mungkin dilihatnya Ayahnya tergeletak di
tanah dengan bekas luka tembak di dada sebelah kirinya.
“Kornn!” Thanat berteriak dengan pistol di
tangannya
Bright sudah mengira
bahwa Thanatlah yang membunuh ayahnya, dengan cepat Bright mengambil pistol
dari balik jaketnya yang memang selalu ia bawa. Belum sempat ia menembak
Thanat, Thanat menembak Bright duluan di bagian tangan kanan membuat Bright
ambruk. Thanat dengan wajah panic melangkahkan kakinya terlihat ingin menolong
Bright dan ayahnya namun terhenti dan segera lari meninggalkan mereka. Bright memegang
tangannya yang terluka dengan tangan kirinya, dilihatnya sang ayah lalu
dipangkunya dengan satu tangan menempatkan kepala sang ayah di pangkuannya.
“Ayahh! ! tolong
bangun! Kau bilang kau tidak akan mati
hanya karena satu tembakan.. kau berbohong! Ayahh! !” Bright memanggil manggil
ayahnya dan menggoyang goyangkan badannya sambil menangis histeris berharap
ayahnya kembali.
“Tuan! tuannn! Bangunlah
tuan!” Alex sambil mengguncang badan bright, membuat sang empu terbangun.
“Apa kau bermimpi
tuan? Kau tidur sambil menangis” kata Alex
Bright tidak menjawab
dan berlalu meninggalkan Alex ke kamar mandi.
Selesai mandi dan
berpakaian Bright meraih 2 handphone lalu keluar dari kamar, Bright masuk
keruangan dimana tempat Win disandera dilihatnya wajah Win yang pucat akibat
dari 2 hari tidak makan. Bukannya tidak dikasih makan tapi Winlah yang membuang
makannannya, jadi aku tidak salah pikir Bright. Win menatap Bright dengan
tatapan sayu
“Aku sudah mengurus
tentang ibumu, aku bilang kau ada pekerjaan ke luar kota dan tidak sempat
pamitan… dan dia percaya”
“Apa kau janji tidak
akan menyakiti ibuku” kata Win dengan lemah, namun Bright tidak menjawab
“Kumohon berjanjilah
padaku.. kau tidak akan menyakiti ibuku kumohon! Aku kan menuruti apapun
keinginanmu, aku berjanji!” Win merapatkan kedua tangannya dan menempatkannya
di dadanya memohon dengan suara lemahnya. Sedangkan Bright tersenyum menang,
entah kenapa keadaan Win yang terpuruk membuat geli hatinya.
“Lalu jadilah anjing
yang patuh pada majikannya!” kata Bright sambil meninggalkan ruangan
“Beri dia makan dan
minum” kata Bright sebelum punggungnya benar benar tidak terlihat
“Baik tuan” kata Alex
Bright berjalan
diikuti dua anak buahnya yang lain di belakang, satu anak buahnya menjinjing
tas kerja berwarna hitam sedangkan yang lainnya membukakan pintu mobil untuk
Bright. Mereka tampak sedang terburu buru, audi hitam itu terlihat melaju
dengan cepat.
.
.
Di ruangan salah satu
mension megah berlatar hitam, duduk pria berumur 60 tahun di sebuah sofa big
berwarna hitam pula. Dengan sekuntung rokok di antara jari telunjuk dan jari
tengahnya pria tersebut duduk santai seperti sedang menunggu seseorang
“Dia sudah sampai
tuan” salah satu anak buahnya mengkonfirmasi
“Biarkan dia masuk!”
Bright masuk diikuti
anak buah pria pemilik mension menahan mereka. Anak buah Bright berontak namun
mengangguk kepada mereka memberi isyarat, lalu mereka menuruti Bright dan
membiarkan Bright masuk sendiri.
“Silahkan duduk!”
kata si pria pemilik mension yang diketahui bernama Zhen, tanpa menjawab Bright
mengangguk dan segera duduk. Hubungan antara Bright dan Zhen sepertinya tidak
baik baik saja, dilihat dari bagaimana mereka saling menatap.
“Senang bisa bertemu
lagi tuan Bright” kata Zhen memecah keheningan
“Tentu saja” Bright
memiringkan bibirnya sebelah
“Emmm aku tidak suka
basa basi aku akan ke intinya saja tuan Bright (menyodorkan sebuah amplop
coklat) itu adalah kontrak kerjasama”
“Kerjasama apa
maksudmu”
“Emmm aku butuh
bantuanmu, aku mengajakmu bekerjasama untuk mengambil alih tanah bagian selatan
Opas iam-kajorn”
“Bukankah itu tanah
kekuasaan keluarga Thanat, kudengar kau juga punya hak seperempat dari tanah
tersebut? Bukankah kau teman Thanat?”
“Aku memang punya
seperempat tapi aku menginginkan setidaknya setengahnya, jika Tuan Bright
bersedia kita akan membaginya menjadi 2” Zhen berusaha membujuk Bright
“Jika aku
mendapatkannya lalu apa gunanya bagiku?”
Zhen terlihat sedang
berfikir mencari alibi
“ Kau bisa
menghancurkan keluarga Thanat berkeping keeping, kau tidak akan tinggal diam
terhadap orang yang membunuh ayahmu bukan?”
Bright yang tadinya
duduk dengan santai langsung mengubah posisi duduknya, wajahnya menatap Zhen
dengan tajam
“Bagaimana kau tahu
itu!?”
“Euuuu.. aku
mendengar humornya” Zhen menjawab dengan kikuk
Bright kembali
menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua tanganya yang melipat didepan
dadanya
“Jadi apa kau
bersedia bekerja sama?” kata Zhen lagi
Bright membenarkan
duduknya dan mengambil amplop tersebut, Zhen terlihat sangat senang melihat hal
itu satu senyuman mengembang di bibirnya.
(Rwekkkk) Bright
merobek amplopnya menjadi empat bagian dengan wajah datarnya, Zhen membelakan
matanya melihat kelakuan Bright Zhen kecewa dan marah terlihat dari rahangnya
yang mengeras.
“Bagaimana aku bisa
mempercayai teman dari orang yang membunuh ayahku?” Bright beranjak dari tempat
duduknya
“Bukankah kau teman
Thanat? Seharusnya kau malu bertemu denganku dan melindungi perusahaannya
bukan? Hah dan satu lagi, jika tanah bagian selatan sangat menguntungkan untuk
bisnisku lalu aku akan mendapatkannya sendirian” Bright tersenyum licik sedikit
membungkukan badannya member hormat kepada Zhen lalu meninggalkan berjalan
keluar.