One Paid Two

One Paid Two
19


“Apa kau sudah menghubungi Poy?” Bright


“Belum tuan, aku baru selesai mengurus kontrak aku akan menghubunginya


sekarang” Alex


Bright dengan tangan gemetar mencari salah satu dokumen penting, suasana


risuh dari langkah kaki Bright yang mondar mandir kesana kemari. Begitupun Alex


ia mengapit hp dengan pundak dan telinganya, sedangkan kedua tangannya sibuk


mempersiapkan dokumen untuk nantinya dibawa ke Zhen.


“Poy bagaimana keadaan ibu Win?” Alex (Percakapan telpon)


“Kondisinya masih belum membaik, oh ya Alex ada sesuatu yang harus aku


sampaikan pada tuan Bright” Poy


“Apa kau ingin bicara sekarang?” Alex


“Sebaiknya tidak, aku akan berbicara kepadanya setelah suasana tenang”


Poy


“Baiklah” Alex (pip) telpon berakhir


Bright berlari ke arah Alex dengan wajah yang amat serius dan lebih ke


tegang


“Dokumennya sudah siap?” Bright


“Sudah tuan” Alex ikut berlari kecil mengekori tuannya yang sudah


berlalu di hadapannya, Bright Nampak tak seperti biasanya ekspresinya


menggambarkan bahwa ia sedang sangat khawatir.


Di tempat lain Win sedang bertahan mati matian, tenggorokannya kering


seperti jemuran yang dip eras. Kulit lehernya mulai mengelupas karena gesekan


yang di hasilkan tambang, mata dan wajahnya sudah sama merahnya Win sudah tak


berharap banyak rasa sakit itu membuat Win merasa kalau nyawanya sudah berada


di ujung tanduk. Sedangkan Zhen duduk manis dengan semirk liciknya menonton Win


yang sedang sekarat, sesekali ia melirik jam pasir yang hampir penuh


setengahnya. Tiba tiba anak buahnya datang


“Dia sudah kesini tuan”


“Biarkan dia masuk!”Zhen dengan senyuman mengembang di


bibirnya


Bright masuk sambil berlari menabrak anak anak buah


Zhen di depannya, hatinya sangat sakit dan dadanya sesak tatkala di lihatnya


Win yang sudah tak berdaya dan kesakitan begitupun Alex. Bright mengambil


kertas dari sebuah amplop berwarna coklat lalu memberikannya kasar pada Zhen


“Hentikan Alat itu! Lepaskan Win!” Bright sambil berteriak


“Tenanglah Khun Bright aku harus memastikan dokumen


ini dulu” Zhen dengan menyebalkannya


“Aku tidak akan menipumu! Cepat lepaskan Win!”


Bright hendak meraih kerah kemeja Zhen namun di tahan oleh anak buahnya


“Ohhh oke oke kau selalu terburu buru khun Bright,


heyy matikan mesinnya!” Zhen sambil memandang Bright dengan


sebelah bibir yang ditarik seperti sedang meremehkan Bright atas kemenangannya.


Bright dengan rahang yang sudah mengeras dan gigi yang bergesekan menatap Zhen


melihat perlakuan Alex pada Win di hatinya. Namun itu bukan saatnya


mempermasalahkan hal itu


“Win! Win! sadarlah!” Alex menggoyah goyahkan badan Win


sesekali ia menepuk pipi Win


Bright juga berlari ke arah Win dan segera mengambil


alih tubuh Win dari pangkuan Alex ke pangkuannya, dengan seluruh badan gemetar


dan waktu yang terasa berhenti.


“Win! Win bangun Win!”


Bright melakukan hal yang sama dengan Alex, Deggg Bright bisa merasakan jantungnya berhenti sepersekian detik saat diarasanya tubuh  Win sudah tak hangat lagi, Bright memeriksa pernafasan Win yang ternyata sudah berhenti


“WIN WIN kau tak boleh pergi Win! Win! Aku tak mengizinkanmu pergi” Bright dengan wajah


frustasi melihat ke seluruh ruangan seakan meminta pertolongan, di lihatnya


Zhen sudah menghilang dari tempat itu. Mulut Bright sudah tak bersuara tak ada


kata kata yang dapat keluar dari mulutnya Bright hanya mengeratkan mulutnya


bahkan air matanya pun sudah tak malu lagi untuk keluar. Bright mengangkat


tubuh Win yang dingin dan terkulai, ia menggendongnya seorang diri dan rumah


sakit adalah tujuannya.


Selama perjalanan Bright tak henti hentinya menepuk


pipi Win dengan lembut dan memanggil namanya, ia berharap ada keajaiban yang


membuat Win terbangun.


“Win! Kumohon bangunlah”


“Win”


“Win aku tidak mengizinkanmu pergi!”


“Bukankah kau peduli pada ibumu? Hah?”


“Kau berbohong”


“Jangan pergi kumohon”


Kata kata itu terus keluar dari mulut Bright, sekeras


apapun Bright mencoba namun Win tak pernah menjawab, sampai di rumah sakit


Bright menggendongnya keluar dari mobil hingga seorang suster membantunya


meletakan Win di atas hospital bed lalu di dorongnya sampai masuk UGD, langkah


Bright terhenti tatkala pintu UGD di tutup oleh salah satu suster dan tidak


membiarkan Bright masuk. Bright menyandarkan punggungnya pada dinding dan


perlahan merosot ke bawah hingga bokongnya mendarat pada lantai. Bright menjambak


rambutnya sambil menunduk,


“Aku pikir kau kuat Win” gumamnya


Dua orang perawat dan satu orang pria berlarian sambil


mendorong hospital bed dengan wanita berumur di atasnya, Bright kenal betul


dengan pria satunya ya itu adalah Poy dan yang di berbaring di hospital bed itu


adalah ibu Win. Alex yang melihat mereka duluan lalu berlari menghampiri Poy di


susul oleh Bright dengan hati yang kacau


“Poy! Poy! Apa yang terjadi? Kemana kau akan membawa ibu Win?”


Singkat dulu ya mentemen kalo suka sama ceritanya bisa


di Like! Komen juga ya!