
“Apa kau sudah menghubungi Poy?” Bright
“Belum tuan, aku baru selesai mengurus kontrak aku akan menghubunginya
sekarang” Alex
Bright dengan tangan gemetar mencari salah satu dokumen penting, suasana
risuh dari langkah kaki Bright yang mondar mandir kesana kemari. Begitupun Alex
ia mengapit hp dengan pundak dan telinganya, sedangkan kedua tangannya sibuk
mempersiapkan dokumen untuk nantinya dibawa ke Zhen.
“Poy bagaimana keadaan ibu Win?” Alex (Percakapan telpon)
“Kondisinya masih belum membaik, oh ya Alex ada sesuatu yang harus aku
sampaikan pada tuan Bright” Poy
“Apa kau ingin bicara sekarang?” Alex
“Sebaiknya tidak, aku akan berbicara kepadanya setelah suasana tenang”
Poy
“Baiklah” Alex (pip) telpon berakhir
Bright berlari ke arah Alex dengan wajah yang amat serius dan lebih ke
tegang
“Dokumennya sudah siap?” Bright
“Sudah tuan” Alex ikut berlari kecil mengekori tuannya yang sudah
berlalu di hadapannya, Bright Nampak tak seperti biasanya ekspresinya
menggambarkan bahwa ia sedang sangat khawatir.
Di tempat lain Win sedang bertahan mati matian, tenggorokannya kering
seperti jemuran yang dip eras. Kulit lehernya mulai mengelupas karena gesekan
yang di hasilkan tambang, mata dan wajahnya sudah sama merahnya Win sudah tak
berharap banyak rasa sakit itu membuat Win merasa kalau nyawanya sudah berada
di ujung tanduk. Sedangkan Zhen duduk manis dengan semirk liciknya menonton Win
yang sedang sekarat, sesekali ia melirik jam pasir yang hampir penuh
setengahnya. Tiba tiba anak buahnya datang
“Dia sudah kesini tuan”
“Biarkan dia masuk!”Zhen dengan senyuman mengembang di
bibirnya
Bright masuk sambil berlari menabrak anak anak buah
Zhen di depannya, hatinya sangat sakit dan dadanya sesak tatkala di lihatnya
Win yang sudah tak berdaya dan kesakitan begitupun Alex. Bright mengambil
kertas dari sebuah amplop berwarna coklat lalu memberikannya kasar pada Zhen
“Hentikan Alat itu! Lepaskan Win!” Bright sambil berteriak
“Tenanglah Khun Bright aku harus memastikan dokumen
ini dulu” Zhen dengan menyebalkannya
“Aku tidak akan menipumu! Cepat lepaskan Win!”
Bright hendak meraih kerah kemeja Zhen namun di tahan oleh anak buahnya
“Ohhh oke oke kau selalu terburu buru khun Bright,
heyy matikan mesinnya!” Zhen sambil memandang Bright dengan
sebelah bibir yang ditarik seperti sedang meremehkan Bright atas kemenangannya.
Bright dengan rahang yang sudah mengeras dan gigi yang bergesekan menatap Zhen
melihat perlakuan Alex pada Win di hatinya. Namun itu bukan saatnya
mempermasalahkan hal itu
“Win! Win! sadarlah!” Alex menggoyah goyahkan badan Win
sesekali ia menepuk pipi Win
Bright juga berlari ke arah Win dan segera mengambil
alih tubuh Win dari pangkuan Alex ke pangkuannya, dengan seluruh badan gemetar
dan waktu yang terasa berhenti.
“Win! Win bangun Win!”
Bright melakukan hal yang sama dengan Alex, Deggg Bright bisa merasakan jantungnya berhenti sepersekian detik saat diarasanya tubuh Win sudah tak hangat lagi, Bright memeriksa pernafasan Win yang ternyata sudah berhenti
“WIN WIN kau tak boleh pergi Win! Win! Aku tak mengizinkanmu pergi” Bright dengan wajah
frustasi melihat ke seluruh ruangan seakan meminta pertolongan, di lihatnya
Zhen sudah menghilang dari tempat itu. Mulut Bright sudah tak bersuara tak ada
kata kata yang dapat keluar dari mulutnya Bright hanya mengeratkan mulutnya
bahkan air matanya pun sudah tak malu lagi untuk keluar. Bright mengangkat
tubuh Win yang dingin dan terkulai, ia menggendongnya seorang diri dan rumah
sakit adalah tujuannya.
Selama perjalanan Bright tak henti hentinya menepuk
pipi Win dengan lembut dan memanggil namanya, ia berharap ada keajaiban yang
membuat Win terbangun.
“Win! Kumohon bangunlah”
“Win”
“Win aku tidak mengizinkanmu pergi!”
“Bukankah kau peduli pada ibumu? Hah?”
“Kau berbohong”
“Jangan pergi kumohon”
Kata kata itu terus keluar dari mulut Bright, sekeras
apapun Bright mencoba namun Win tak pernah menjawab, sampai di rumah sakit
Bright menggendongnya keluar dari mobil hingga seorang suster membantunya
meletakan Win di atas hospital bed lalu di dorongnya sampai masuk UGD, langkah
Bright terhenti tatkala pintu UGD di tutup oleh salah satu suster dan tidak
membiarkan Bright masuk. Bright menyandarkan punggungnya pada dinding dan
perlahan merosot ke bawah hingga bokongnya mendarat pada lantai. Bright menjambak
rambutnya sambil menunduk,
“Aku pikir kau kuat Win” gumamnya
Dua orang perawat dan satu orang pria berlarian sambil
mendorong hospital bed dengan wanita berumur di atasnya, Bright kenal betul
dengan pria satunya ya itu adalah Poy dan yang di berbaring di hospital bed itu
adalah ibu Win. Alex yang melihat mereka duluan lalu berlari menghampiri Poy di
susul oleh Bright dengan hati yang kacau
“Poy! Poy! Apa yang terjadi? Kemana kau akan membawa ibu Win?”
Singkat dulu ya mentemen kalo suka sama ceritanya bisa
di Like! Komen juga ya!