One Paid Two

One Paid Two
27


Belum sempat Win menangkap kejadian yang baru saja terjadi bahkan ia


masih menenangkan Bright yang berada di pelukannya sekarang, datang Alex


membawa sweater lalu menyuruh Win mengenakannya. Sambil melongo Win hanya


menurutinya “Ada apa dengan orang orang ini?” pertanyaan yang terus berkecambuk


di kepala Win.


“Tuan kita harus bergegas, Ayo Win!” Alex dengan wajah tak kalah


frustasinya dengan Bright, tanpa menanyakan kemana mereka akan pergi Win hanya


mengikuti mereka. Alex masuk ke kursi kemudi sedangkan Bright dan Win memasuki


kursi penumpang mobil Mercedes Benz itu. Sepanjang jalan Bright memeluk badan


Win sambil tak henti hentinya meminta maaf


“Kumohon maafkan aku apapun yang terjadi Win kumohon”


Bright


“Tenanglah Phi, apa yang terjadi padamu?” Win


“Kau bisa membunuhku jika kau mau, tapi kumohon


maafkan aku” Bright


“Ya aku akan memaafkanmu” Win tanpa tahu maksud dari


perkataan Bright


Jantung Win terasa rusuh saat mobil memasuki sebuah


rumah sakit besar di Thailand itu, hatinya mulai terasa tak enak. Mereka turun


dan berjalan sangat cepat, Win pun hanya mengikuti langkah mereka. Alex


berhenti di ruangan nomor 26 di susul langkah Bright dan Win di belakangnya,


badan Bright terasa lemas ia tak berani melangkahkan kakinya ke ruangan


tersebut ia benar benar tak sanggup. Win memandang wajah Bright heran karena


Bright dan Alex tak kunjung masuk, karena Win ingin tahu apa yang terjadi ia


membuka pintu ruangan tersebut. Degggg hati Win terasa di tikam sesuatu yang


sangat tajam ia melihat perempuan yang sangat ia cintai sedang berbaring di


hospital bed sambil di tangisi orang yang sangat ia kenal. Wajah Win benar


benar kaku sama halnya dengan langkah kakinya yang ikut kaku, Win perlahan


mendekati kasur yang terdapat ibunya itu ia hanya diam belum siap menanyakan


apa yang terjadi.


“Win?” Louis di tengah tengah tangisannya, mata dan


hidungnya sama merahnya. Louis beranjak dari kursinya dan langsung memeluk Win


yang tengah terkaku


“Win aku tahu kau anak yang kuat Win” Louis sambil


menangis sambil mengelus lembut kepala Win


“Apa yang terjadi?” Win dengan suara sangat pelan


hampir tak terdengar


“Win, ibumu.. i..bu mu” Louis benar benar tak bisa


mengatakannya karena tangisannya tak bisa di hentikan. Win menatap Louis dengan


mata yang telah berlinang, ia lalu melapaskan pelukan Louis yang merupakan


pamannya itu. Ia berjalan mendekati kasur dan sampailah ia di samping kasur


ibunya.


“Mae? Lama tak bertemu, aku sangat merindukanmu” Win


sambil meraih tangan ibunya lalu di kecupinya perlahan.


“Mae Win kembali padamu Mae, kau pasti merindukanku


juga kan?” Win meraih pipi halus ibunya kini ia memeluk ibunya dengan senyum


palsu di bibirnya.


“Win ibumu sudah meninggal” Louis sambil berjalan


mendekati Win sambil tak hentinya mengeluarkan air mata. Sebenarnya Win sudah


tahu apa yang terjadi saat ia membuka pintu dan mendapati Louis yang menangisi


ibunya, Win kemudian merancang kejadian yang terjadi semenjak pagi tadi Win


juga bukan orang bodoh yang tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Namun ia


pura pura tak tahu, ia tak bisa menerima kenyataan bahkan saat Louis


memberitahu bahwa ibunya telah meninggal ia pura pura tak mendengar.


“Mae bangun Mae, apa kau tak merindukanku? Hmmm?” Win


kini tak kuasa membendung air matanya ia tak bisa pura pura lagi pada dirinya


sendiri, sakit sangat sakit bahkan bernafaspun rasanya sulit sekali. Bibirnya bergetar


tangisnya tertahan Win menenggelamkan wajahnya di perut ibunya sambil meremas


jari jari ibunya yang telah mendingin.


“Win kumohon, terima lah kenyataan ini ibumu sudah tak


dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kannanya menutupi mulutnya yang tak mau


berhenti terisak. Sebenarnya lebih menyakitkan melihat Win menahan tangisan dan


kesedihannya daripada melihatnya menangis histeris.


“Mae bangun mae! Kau bilang kau sesalu merindukanku,


sekarang aku kembali padamu Mae, aku takan pergi lagi” Win kini menggoyah


goyahkan badan ibunya.


“Cukup Win..cukup” Louis


Bright tak kuasa menyaksikan kejadian itu, ia duduk di


luar ruangan sambil menyumpah serapahi dirinya sendiri “Mengapa kau sangat


kejam? !mengapa sangat sakit sekali?” .


sedangkan Alex berdiri di luar pintu yang terbuat dari kaca tersebut ia


menyaksikan kejadian menyakitkan itu sejak tadi, air matanya sudah mengalir di


pipinya jauh jauh tadi.


Win menghentikan tangisannya ia berdiri dari


jongkoknya, saking sakitnya ia sampai tak bisa menangis lagi. Ia menyeka air


matanya lalu memandangi ibunya


“Jika kau tak ada lalu untuk apa aku hidup?” Win


sambil tersenyum menyakitkan


“Jangan seperti itu Win, aku yakin ibumu lebih bahagia


disana” Louis


“Jika ibu bahagia maka aku ingin ikut bahagia” Win


melihat vas bunga yang terbuat dari kramik di atas nakas, tanpa aba aba ia


mengambil vas tersebut lalu memecahkannya. Win mengambil pecahan yang paling


tajam di antara pecahan pecahan lain, Bright yang mendengar suara tersebut


langsung berlari kedalam dan mendapati Win yang berusaha menyayat lehernya


sendiri yang berusaha di hentikan oleh Louis. Bright lalu berusaha mengambil


pecahan kramik yang ada di tangan Win namun Win menggenggamnya sangat kuat


hingga tangan Win tersayat, melihat hal itu Bright berhenti merebut pecahan itu


namun tak di duga Win malah menyayat lehernya sendiri. Untungnya Bright bisa


merebutnya sebelum Win menyayat lehernya lebih dalam, kini tangis asli Win baru


di mulai. Ia menangis dan berteriak sangat kencang, ia menutup wajahnya dengan


tangan yang penuh darah. Bright merangkul Win memeluknya, tangan sebelah


kanannya menutupi luka di leher Win yang terus menerus mengeluarkan darah


segar.


“Panggilkan dokter!”


Bright dengan suara gemetar


Alex yang sedang memegangi Louis untuk menenangkannya


langsung bergegas keluar memanggil dokter untuk Win.


Suara dan tangis Win sudah tak terdengar, Bright lalu


melepas pelukannya dan member jarak di antara mereka agar Bright dapat melihat


apa yang terjadi. Win menutup matanya, Bright dengan kaget langsung


menggoyahkan badan Win


“Win? Win?” Bright sambil menepuk nepuk kecil pipi Win


Louis yang khawatir pun langsung berjongkok melihat


keadaan Win


“Win?” Louis


Bright cepat cepat memeriksa pernafasan Win, untunglah


ia hanya pingsan. Bright lalu berdiri dan mengangkat tubuh Win seperti bridal


style, ia geram karena dokter belum datang juga. Louis mengekori Bright di


belakang namun Bright melarangnya untuk tidak mengikutinya


“Aku akan mengurus Win, kau urusi pemakaman ibunya”


Bright sambil terus berjalan keluar diikuti jejak darah dari leher dan tangan


Win yang terus menetes ke lantai mengikuti kemana mereka pergi.


Louis yang sempat lupa akan ibu Win yang sudah dinging


kaku karena terlalu khawatir pada Win, ia langsung merogoh hp dari saku celananya


untuk mengurusi pemakaman ibu Win.


Selow update lagi maaf ya


Like dan komentar kalian sangat berarti bagi author


 Selamat membaca! ! !