
Belum sempat Win menangkap kejadian yang baru saja terjadi bahkan ia
masih menenangkan Bright yang berada di pelukannya sekarang, datang Alex
membawa sweater lalu menyuruh Win mengenakannya. Sambil melongo Win hanya
menurutinya “Ada apa dengan orang orang ini?” pertanyaan yang terus berkecambuk
di kepala Win.
“Tuan kita harus bergegas, Ayo Win!” Alex dengan wajah tak kalah
frustasinya dengan Bright, tanpa menanyakan kemana mereka akan pergi Win hanya
mengikuti mereka. Alex masuk ke kursi kemudi sedangkan Bright dan Win memasuki
kursi penumpang mobil Mercedes Benz itu. Sepanjang jalan Bright memeluk badan
Win sambil tak henti hentinya meminta maaf
“Kumohon maafkan aku apapun yang terjadi Win kumohon”
Bright
“Tenanglah Phi, apa yang terjadi padamu?” Win
“Kau bisa membunuhku jika kau mau, tapi kumohon
maafkan aku” Bright
“Ya aku akan memaafkanmu” Win tanpa tahu maksud dari
perkataan Bright
Jantung Win terasa rusuh saat mobil memasuki sebuah
rumah sakit besar di Thailand itu, hatinya mulai terasa tak enak. Mereka turun
dan berjalan sangat cepat, Win pun hanya mengikuti langkah mereka. Alex
berhenti di ruangan nomor 26 di susul langkah Bright dan Win di belakangnya,
badan Bright terasa lemas ia tak berani melangkahkan kakinya ke ruangan
tersebut ia benar benar tak sanggup. Win memandang wajah Bright heran karena
Bright dan Alex tak kunjung masuk, karena Win ingin tahu apa yang terjadi ia
membuka pintu ruangan tersebut. Degggg hati Win terasa di tikam sesuatu yang
sangat tajam ia melihat perempuan yang sangat ia cintai sedang berbaring di
hospital bed sambil di tangisi orang yang sangat ia kenal. Wajah Win benar
benar kaku sama halnya dengan langkah kakinya yang ikut kaku, Win perlahan
mendekati kasur yang terdapat ibunya itu ia hanya diam belum siap menanyakan
apa yang terjadi.
“Win?” Louis di tengah tengah tangisannya, mata dan
hidungnya sama merahnya. Louis beranjak dari kursinya dan langsung memeluk Win
yang tengah terkaku
“Win aku tahu kau anak yang kuat Win” Louis sambil
menangis sambil mengelus lembut kepala Win
“Apa yang terjadi?” Win dengan suara sangat pelan
hampir tak terdengar
“Win, ibumu.. i..bu mu” Louis benar benar tak bisa
mengatakannya karena tangisannya tak bisa di hentikan. Win menatap Louis dengan
mata yang telah berlinang, ia lalu melapaskan pelukan Louis yang merupakan
pamannya itu. Ia berjalan mendekati kasur dan sampailah ia di samping kasur
ibunya.
“Mae? Lama tak bertemu, aku sangat merindukanmu” Win
sambil meraih tangan ibunya lalu di kecupinya perlahan.
“Mae Win kembali padamu Mae, kau pasti merindukanku
juga kan?” Win meraih pipi halus ibunya kini ia memeluk ibunya dengan senyum
palsu di bibirnya.
“Win ibumu sudah meninggal” Louis sambil berjalan
mendekati Win sambil tak hentinya mengeluarkan air mata. Sebenarnya Win sudah
tahu apa yang terjadi saat ia membuka pintu dan mendapati Louis yang menangisi
ibunya, Win kemudian merancang kejadian yang terjadi semenjak pagi tadi Win
juga bukan orang bodoh yang tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Namun ia
pura pura tak tahu, ia tak bisa menerima kenyataan bahkan saat Louis
memberitahu bahwa ibunya telah meninggal ia pura pura tak mendengar.
“Mae bangun Mae, apa kau tak merindukanku? Hmmm?” Win
kini tak kuasa membendung air matanya ia tak bisa pura pura lagi pada dirinya
sendiri, sakit sangat sakit bahkan bernafaspun rasanya sulit sekali. Bibirnya bergetar
tangisnya tertahan Win menenggelamkan wajahnya di perut ibunya sambil meremas
jari jari ibunya yang telah mendingin.
“Win kumohon, terima lah kenyataan ini ibumu sudah tak
dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kannanya menutupi mulutnya yang tak mau
berhenti terisak. Sebenarnya lebih menyakitkan melihat Win menahan tangisan dan
kesedihannya daripada melihatnya menangis histeris.
“Mae bangun mae! Kau bilang kau sesalu merindukanku,
sekarang aku kembali padamu Mae, aku takan pergi lagi” Win kini menggoyah
goyahkan badan ibunya.
“Cukup Win..cukup” Louis
Bright tak kuasa menyaksikan kejadian itu, ia duduk di
luar ruangan sambil menyumpah serapahi dirinya sendiri “Mengapa kau sangat
kejam? !mengapa sangat sakit sekali?” .
sedangkan Alex berdiri di luar pintu yang terbuat dari kaca tersebut ia
menyaksikan kejadian menyakitkan itu sejak tadi, air matanya sudah mengalir di
pipinya jauh jauh tadi.
Win menghentikan tangisannya ia berdiri dari
jongkoknya, saking sakitnya ia sampai tak bisa menangis lagi. Ia menyeka air
matanya lalu memandangi ibunya
“Jika kau tak ada lalu untuk apa aku hidup?” Win
sambil tersenyum menyakitkan
“Jangan seperti itu Win, aku yakin ibumu lebih bahagia
disana” Louis
“Jika ibu bahagia maka aku ingin ikut bahagia” Win
melihat vas bunga yang terbuat dari kramik di atas nakas, tanpa aba aba ia
mengambil vas tersebut lalu memecahkannya. Win mengambil pecahan yang paling
tajam di antara pecahan pecahan lain, Bright yang mendengar suara tersebut
langsung berlari kedalam dan mendapati Win yang berusaha menyayat lehernya
sendiri yang berusaha di hentikan oleh Louis. Bright lalu berusaha mengambil
pecahan kramik yang ada di tangan Win namun Win menggenggamnya sangat kuat
hingga tangan Win tersayat, melihat hal itu Bright berhenti merebut pecahan itu
namun tak di duga Win malah menyayat lehernya sendiri. Untungnya Bright bisa
merebutnya sebelum Win menyayat lehernya lebih dalam, kini tangis asli Win baru
di mulai. Ia menangis dan berteriak sangat kencang, ia menutup wajahnya dengan
tangan yang penuh darah. Bright merangkul Win memeluknya, tangan sebelah
kanannya menutupi luka di leher Win yang terus menerus mengeluarkan darah
segar.
“Panggilkan dokter!”
Bright dengan suara gemetar
Alex yang sedang memegangi Louis untuk menenangkannya
langsung bergegas keluar memanggil dokter untuk Win.
Suara dan tangis Win sudah tak terdengar, Bright lalu
melepas pelukannya dan member jarak di antara mereka agar Bright dapat melihat
apa yang terjadi. Win menutup matanya, Bright dengan kaget langsung
menggoyahkan badan Win
“Win? Win?” Bright sambil menepuk nepuk kecil pipi Win
Louis yang khawatir pun langsung berjongkok melihat
keadaan Win
“Win?” Louis
Bright cepat cepat memeriksa pernafasan Win, untunglah
ia hanya pingsan. Bright lalu berdiri dan mengangkat tubuh Win seperti bridal
style, ia geram karena dokter belum datang juga. Louis mengekori Bright di
belakang namun Bright melarangnya untuk tidak mengikutinya
“Aku akan mengurus Win, kau urusi pemakaman ibunya”
Bright sambil terus berjalan keluar diikuti jejak darah dari leher dan tangan
Win yang terus menetes ke lantai mengikuti kemana mereka pergi.
Louis yang sempat lupa akan ibu Win yang sudah dinging
kaku karena terlalu khawatir pada Win, ia langsung merogoh hp dari saku celananya
untuk mengurusi pemakaman ibu Win.
Selow update lagi maaf ya
Like dan komentar kalian sangat berarti bagi author
Selamat membaca! ! !