
Adrian menjadi sangat manja sejak dirawat di rumah sakit. Sepertinya ia memiliki senjata baru yang sangat ampuh untuk menaklukkan Naomi. Sedikit meringis sambil menyentuh dada akan membuat istrinya itu panik bukan kepalang. Adrian yang berada dalam mode iseng begitu menikmati perhatian sekecil apapun yang diberikan istrinya.
Baginya itu adalah moment langka. Naomi bukanlah tipe wanita yang gampang mengungkapkan cinta.
Dan setelah dirawat selama tiga hari, Adrian pun mengantongi izin dokter untuk pulang ke rumah. Naomi sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam sebuah koper kecil.
"Tidak ada yang ketinggalan lagi, kan?" tanyanya.
Adrian hanya menjawab dengan mengangkat bahu. Tanpa suara menoleh ke kanan dan kiri demi memeriksa jika ada sesuatu yang tertinggal.
Seorang sopir sudah siap di ambang pintu. Ia meraih koper yang diletakkan Naomi ke lantai. Sementara Adrian merangkul istrinya meninggalkan kamar. Hari yang melegakan. Akhirnya akan terbebas dari suasana rumah sakit yang membosankan.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Adrian dapat melihat wajah Naomi yang tampak bingung memperhatikan jalanan.
"Kita mau ke mana, ini kan bukan jalan ke rumah? Seharusnya kita ke sana, kan?" Sambil menunjuk arah berlawanan yang merupakan jalan menuju rumah.
Adrian tersenyum seraya membelai rambut coklat bergelombang istrinya. "Ke rumah kita."
"Ke rumah kita?" Masih terlihat bingung, dengan kerutan dalam di kening.
"Iya. Kita akan memulai semuanya dari awal di tempat yang baru. Hanya kita berdua." Adrian menggenggam tangan.
"Tapi bagaimana dengan nenek dan ibu?" Pertanyaan itu dengan cepat terlontar. Adrian tahu Naomi bukan tipe wanita pendendam. Meskipun perbuatan ibu mertuanya sudah melewati batas. Tetapi kali ini Adrian hanya ingin menjaga perasaan istrinya saja. Ia tak peduli hal lainnya.
"Bisakah untuk tidak memikirkan yang lain dulu selain tentang kita?" Ucapan Adrian berhasil mengunci mulut Naomi.
Wanita itu paham kemarahan suaminya. Beberapa hari belakangan ibu mertuanya memang terlihat sedih saat mengunjungi rumah sakit, karena Adrian bersikap sangat dingin terhadapnya. Adrian seperti sedang memberi sebuah hukuman.
Kurang dari 30 menit mobil memasuki halaman sebuah rumah. Naomi terpukau menatap bangunan di hadapannya. Bukan sebuah rumah mewah seperti kediaman keluarga Marx. Hanya sebuah rumah minimalis berlantai dua dengan taman yang sangat luas.
"Ini rumah kita?" tanyanya antusias.
"Iya. Kamu suka?"
Memasuki rumah, sudah ada beberapa pelayan yang menyambut, termasuk Layla dan Mathilda. Mereka sudah tampak bugar dan pulih. Naomi menyapa keduanya dengan ramah.
Adrian pun membawa Naomi berkeliling ke sekitar dan menunjukkan seisi rumah. Ia memilih sebuah rumah yang tak begitu luas, namun memiliki fasilitas lengkap di dalamnya. Bisa dipastikan Naomi akan termanjakan di sana. Apa lagi jika melihat kadar keposesifan suaminya.
"Mau lihat kamar kita?" tawar Adrian kala melihat istrinya berdiri di tepi jendela dan menatap taman. Ia memeluk istrinya dari belakang sambil menciumi punggung leher.
"Aku mau jalan-jalan dulu."
"Jalan-jalannya nanti saja. Lihat kamar saja dulu," tawar Adrian sedikit memaksa.
Naomi menatap curiga. "Kamu pasti ada maksud tertentu mengajakku ke kamar, kan?"
"Aku hanya mengajakmu melihatnya. Memang menurutmu aku mau apa?"
"Aku tahu kamu mau mengambil keuntungan dariku. Sudah terbaca dengan jelas di wajahmu, Tuan," cibir Naomi dengan keyakinan penuh.
"Memangnya di wajahku terlihat apa?"
"Aku melihat sesuatu yang aneh. Aura negatif yang tidak terbantahkan."
"Maksudnya?" Dahi Adrian berkerut tipis.
Naomi mendekat. Menatap ke dalam mata suaminya. Kemudian mendekatkan bibir ke telinga Adrian dan berbisik, "Kamu sangat maniak!"
"Putri Isabel!" gumamnya dengan rahang mengeras. Ia tarik Naomi dan mengunci tubuhnya.
"Lepas dulu!"
"Tidak mau! Kita sudah lama tidak praktek biologi." Sambil menyeret wanitanya itu menuju kamar.
****