
Untuk beberapa saat Adrian kehilangan kata-kata. Napasnya seperti tertahan. Tangannya yang mencengkram lengan Naomi kuat-kuat perlahan mulai merenggang.
Ia dibungkam oleh Naomi hanya dengan satu kalimat. Sejak pertama kali bertemu, ini adalah pertama kali Adrian melihat sisi lain dari Naomi. Wanita yang biasanya tampak kuat itu kini terlihat rapuh.
“A-ku le-lah hidup seperti ini,” lirih Naomi terputus-putus.
Bola matanya mengerjap bersamaan dengan cairan bening yang mengalir di kedua sisi pipinya. Isak tangis pun mulai terdengar, dan dalam hitungan beberapa detik saja, tangisan itu sudah menyisakan suara sesegukan, karena Naomi terus berusaha menahannya.
Entah dorongan dari mana, Adrian menarik tubuh kecil itu dan membenamkan ke dalam dekapannya. Tangan Adrian bergerak naik turun mengusap rambut dan punggung. Tetapi, bukannya reda, tangisan Naomi malah semakin menjadi-jadi.
Ia seakan takluk pada takdir. Benteng kokoh yang dibangunnya dengan susah payah itu runtuh tak bersisa.
“Aku tidak tahu kenapa ayah dan ibuku meninggalkanku pada kakakku. Aku benci mereka. Mereka adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk semua yang terjadi padaku. Hari ini, aku ada di sini juga karena kesalahan mereka.”
"Seandainya saja mereka tidak meninggal secepat itu, mungkin aku akan lebih beruntung."
Semakin erat dekapan Adrian. Sesekali ia menciumi puncak kepala Naomi yang hanya setinggi dagunya. Rasa bersalah itu sangat nyata menyusup ke hatinya.
"Apa aku tidak boleh bahagia sedikit saja?" Tidak adakah seseorang yang bisa menyayangiku dengan tulus?”
Adrian terdiam, membiarkan Naomi menumpahkan semua beban yang selama ini tersimpan rapi di hatinya.
“Apa tidak ada orang yang mau melindungiku selain diriku sendiri? Kenapa Tuhan tidak mengirim satu orang saja yang mau melakukan sesuatu untukku? Aku tahu aku tidak pantas, tapi aku juga mau memiliki seseorang yang menginginkan keberadaanku.”
“Aku juga mau punya keluarga. Tapi aku merasa tidak ada seorang pun yang menginginkanku. Lalu, untuk apa aku hidup?”
Dan setiap kata yang diucapkan Naomi membuat hati Adrian seperti diremas tanpa ampun.
“Bagi kakakku, hidupku hanya seharga sebotol minuman. Dan aku tahu bagimu, aku hanya seharga satu kali berhubungan badan. Be-begitu, kan?”
Sepasang mata Adrian terpejam. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum dan menimbulkan sesak tak terkira.
“Aku sangat lelah ... sangat lelah. Kalian memaksa tubuhku untuk tetap bertahan, dan di saat yang bersamaan mengeroyokku agar jatuh? Apa salahku pada kalian semua?”
Tangan Naomi terangkat demi mendorong dada bidang Adrian agar menjauh dan melepas dekapan. Tetapi Adrian mengurungnya dan tak memberi celah untuk melepaskan diri.
Naomi pasrah ....
Seluruh kekuatannya seperti tercabut dari tubuhnya. Perlahan ia merebahkan kepalanya di dada bidang Adrian, saat tenaganya yang tersisa tak lagi cukup untuk menopang tubuh lelahnya.
Sepasang mata sayunya perlahan terpejam ketika merasakan lembutnya tangan kekar yang mengusap rambutnya. Aroma musk yang menguar dari tubuh Adrian mulai menenangkan pikirannya.
Kala Naomi hanyut dalam hangatnya buaian, Adrian menggendong tubuhnya. Ia rebahkan di tempat tidur.
Adrian memandangi wajah polos itu lekat-lekat. Menghapus sisa-sisa cairan bening yang mengalir di ujung matanya.
“Maafkan aku ... aku tidak bermaksud melukaimu seperti ini,” bisik Adrian lembut, lalu menciumi puncak kepala Naomi berulang-ulang.
...........