
“Ada apa ini ribut-ribut?” Suara serak yang tiba-tiba muncul itu sejenak menghentikan perdebatan antara Naomi dengan sang ibu mertua. Keduanya menoleh secara bersamaan. “Masalah apa lagi yang kamu buat, Iriana?”
Ibu langsung membuang muka ke arah berlawanan setelah mendapat sorotan tajam. “Jangan ikut campur, Ibu! Ini urusanku dengan Naomi.”
“Semua yang menyangkut Naomi adalah urusanku. Adrian sudah menitipkan istrinya padaku. Jadi aku tidak akan membiarkanmu berbuat semaunya terhadap Naomi.”
Suasana semakin memanas. Keduanya saling tatap penuh amarah. Para pelayan yang ada di sana pun hanya diam bagai penonton setia. Tak ada yang berani mengeluarkan suara.
“Suatu saat nanti Ibu akan sadar wanita seperti apa yang Adrian bawa ke rumah ini. Dia akan melahirkan anak yang tidak jelas asal-usulnya. Aku yakin dia sendiri juga terlahir dari orang tua yang tidak jelas!”
“Cukup, Bu!” Suara Naomi menggema, menciptakan keheningan selama beberapa saat. Ini adalah kali pertama ia membentak mertuanya. “Silahkan hina aku sepuas hati tapi jangan ungkit orang tuaku!”
Hanya dalam sepersekian detik bola mata Naomi telah tergenang kristal bening. Jemarinya mengusap ujung mata yang basah, sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja.
Nenek Camila menyorot menantunya tajam. Tetapi wanita di hadapannya itu menunjukkan reaksi tak peduli sama sekali.
“Adrian akan sangat marah kalau tahu istrinya diperlakukan seperti ini.”
.
.
.
Adrian menghembuskan napas kasar setelah menerima laporan dari rumah, yang membuat sekujur tubuhnya terasa memanas. Ia memutus panggilan tanpa permisi dan bersandar sejenak sambil menengadahkan kepala. Kemudian menatap pemandangan kota yang tersaji dari lantai teratas gedung kantornya yang megah.
Tersadar dari lamunan, ia membuka daftar kontak dan segera menghubungi seseorang. Sebuah keputusan besar baru saja tercetus dalam benaknya.
“Iya, Tuan.” Terdengar sahutan seorang pria di ujung telepon.
Tanpa berbasa-basi, Adrian mengutarakan tujuannya. “Tolong carikan untukku rumah baru yang lokasinya strategis, lingkungannya bersih, nyaman, fasilitas lengkap dengan taman yang luas, dan yang pasti sudah siap huni.”
Kalimat panjang itu menciptakan keheningan selama beberapa detik. Sepertinya yang ditelepon butuh waktu untuk mencerna maksud sang bos.
“Maksudnya ... sekarang, Tuan?”
Dahi Adrian mengerut mendengar suara terbata dari sana. Ia dapat membaca nada terkejut dari pertanyaan pria itu. “Iya, aku mau secepatnya.”
“Ba-baik. Saya akan cari sekarang dan memberikan info secepat mungkin. Ada tambahan lain?”
“Aku mau rumah yang agak berjarak dari rumah lainnya.”
“Baik.”
.
.
.
“Di mana istriku?” tanya Adrian.
“Nona ada di kamar, Tuan. Sepanjang hari ini nona mengurung diri dan tidak mau makan. Saya juga sudah membawakan buah tapi tidak dimakan. Jadi saya membuatkan susu cokelat saja untuknya.”
“Baiklah, kamu istirahat saja. Berikan itu padaku.”
“Baik.”
Adrian meraih nampan keramik dari tangan wanita itu, lalu segera beranjak menuju kamar. Naomi tampak sedang duduk berselonjor di sofa panjang dengan tatapan mengarah pada TV yang menayangkan film kartun kesukaannya. Ia bahkan tak menyadari Adrian masuk ke kamar dan berdiri di sisinya. Hingga ciuman mendarat di pipi.
“Hemm ... kamu sedang menonton TV atau TVnya yang sedang menontonmu?” Adrian menyodorkan segelas susu cokelat. Naomi segera meneguk setengah dan meletakkan gelas ke meja.
"Tadinya aku sedang menonton. Tapi mataku yang kurang sopan ini malah melamun."
Adrian terkekeh, lalu menurunkan kaki Naomi ke lantai. Ia merebahkan kepala di pangkuan sang istri. Tangan lebarnya terulur membelai perut dan sesekali menciumnya.
“Hai, Sayang ... kalian tidak merepotkan mommy hari ini kan?”
Naomi hanya menatap Adrian yang terlihat begitu bahagia bermain di perut buncitnya. Dua makhluk mungil yang bersemayam di dalam sana seolah turut merespon dengan gerakan kecil jika Adrian menyentuhnya.
“Lucu sekali, mereka bergerak.” Menciumi bagian mana saja yang bergerak dan sedikit menonjol. “Apa kamu tidak merasa aneh kalau mereka bergerak begitu?”
“Awalnya terasa aneh. Tapi sekarang tidak lagi.”
Sudut bibir Adrian melengkung membentuk senyuman yang semakin menambah kadar ketampanannya. “Aku jadi tidak sabar mau bertemu mereka. Pasti lebih lucu kalau sudah jadi bayi.”
Naomi terdiam. Adrian dapat melihat kesedihan yang terpendam di wajah sang istri. Ia pun bangkit dan mendekap wanita itu.
“Apa yang terjadi? Layla bilang kamu tidak mau makan seharian.”
“Aku tidak berselera. Aku sedang merindukan orang tuaku,” lirih Naomi, menciptakan sesak di dada Adrian. “Apa belum ada petunjuk apapun tentang mereka?”
Pertanyaan itu membuat Adrian mematung. Rasa bersalah menjalar ke hati. “Sebelum aku menjawab, apa boleh aku tanya sesuatu?”
Naomi mengangguk sebagai jawaban.
“Kalau orang tuamu ditemukan dan ternyata mereka bukan dari kalangan biasa, apa kamu akan meninggalkanku?”
............