
Hai teman-teman. Ada yang tanya kenapa bab 35 berubah isi menjadi POV adrian? Yeah, bab 35 harus aku revisi sedikit tapi gak merubah alur kok.
Oh ya, Nom Nom dan Adrian sebenarnya aku buat untuk meramaikan event Urban yang diadakan pihak Noveltoon.
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan. 🥰🥰🥰
.
.
Naomi melangkah dengan lesu ketika memasuki rumah. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan kebebasan.
Ia hampir putus asa. Dalam diam, Naomi merenungi nasib. Memaki takdir yang hampir tak pernah memberinya rasa bahagia. Naomi kecil bahkan tak pernah tahu rasanya memiliki seseorang yang mencintainya.
Yang ia tahu hanyalah bagaimana agar dapat bertahan dari hari ke hari. Sama sekali tak ada tempat untuk berlindung atau pun mengadu.
Ia sendirian.
Jika saja memiliki kesempatan untuk meminta, Naomi pasti akan memilih terlahir sebagai orang lain. Terserah menjadi siapa saja yang diinginkan Tuhan, asal bukan menjadi Naomi Claire.
"Kamu sudah kembali, wanita pembuat masalah?"
Langkah Naomi terhenti kala mendengar nada sarkas di belakang punggungnya. Cairan bening yang sedari tadi ia sembunyikan segera dihapus dengan jari, agar tak seorang pun melihatnya. Satu hal yang selama ini dipegang teguh oleh Naomi, ia harus selalu terlihat kuat di mata orang lain.
"Wah, Anda sulam bibir di mana, Nona Erica?" kelakar Naomi melihat bibir Erica yang masih terlihat menebal.
Naomi pasti sudah menyemburkan tawa jika tidak teringat bahwa bengkak di bibir Erica adalah hasil perbuatan jahilnya pagi tadi.
"Dasar wanita tidak punya etika! Lihat saja, aku pasti akan membalasmu dengan lebih menyakitkan!" ancam Erica penuh amarah. Tetapi, bukan Naomi namanya jika peduli. Ia bahkan hanya tersenyum melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Erica.
"Jangan terlalu banyak mengancam, Nona. Bertindaklah kalau mampu. Lagi pula, bukankah Anda sendiri yang mau bersaing denganku? Anggap saja yang tadi itu adalah permulaan," balas Naomi penuh percaya diri.
Kedua tangan Erica terkepal. Naomi seperti sedang menyiram minyak pada kobaran api. "Aku pastikan kamu tidak akan pernah menang dariku."
Naomi berdecak sembari menggelengkan kepala. "Apa Tuan Adrian sama sekali tidak tertarik denganmu sampai harus bersaing denganku?"
Rasanya, Erica benar-benar ingin menjambak rambut coklat bergelombang milik Naomi. Dari bibir wanita itu selalu terlontar kalimat pedas yang melecut amarahnya.
"Aku bisa mendapatkan Adrian dan membuatmu diusir dari rumah ini!" ujar Erica.
"Benarkah? Sayang sekali ya, dalam piala Oscar tidak ada penghargaan untuk kategori halusinasi terbaik. Kalau ada, Nona Erica pasti akan menjadi pemenangnya."
"Tutup mulutmu!" bentak Erica.
"Ada apa, Erica ... kenapa kamu berteriak?" Kehadiran ibu sejenak menghentikan perdebatan antara Naomi dan Erica.
Seperti biasa, Erica yang bermulut manis akan berperan menjadi wanita lembut dan anggun jika berada di hadapan Adrian ataupun ibu. Naomi benar-benar ingin memberi tepuk tangan yang meriah untuknya.
"Ibu ... lihat wanita ini! Dia sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya."
Naomi memutar bola matanya dengan malas, lalu menghembuskan napas kasar.
"Sudahlah! Kalau mau bertengkar besok saja. Aku sedang lelah dan ingin menjalankan mode hemat energi. Selamat sore semuanya!"
Naomi menjejaki tangga dengan santai. Ia bahkan tak peduli dengan ibu yang terus berteriak memanggilnya.
"Sudahlah, Bu. Percuma bicara dengannya," bujuk Erica.
.
.
Prang!
Suara pecahan kaca yang berasal dari kamar paling ujung berhasil menyita perhatian Naomi.
Ia terdiam sebentar di ambang pintu kamarnya. Setahunya, kamar paling ujung adalah kamar neneknya Adrian. Hampir dua hari Naomi tinggal di rumah itu, namun belum pernah bertemu dengan nenek.
Sebab menurut beberapa pelayan, nyonya besar tidak begitu menyukai orang asing. Mungkin hal itu yang menjadi penyebab Adrian belum mengenalkan Naomi dengan nenek kesayangannya.
"Pergi dari sini, aku tidak mau minum obat!" teriakan parau nan lemah itu mendorong Naomi untuk mendekat.
Terlihat wanita tua dengan rambut memutih sedang bersungut-sungut memarahi seorang wanita yang tengah memunguti pecahan kaca.
"Ada apa, Suster?" tanya Naomi.
"Nyonya tidak mau minum obat, dan malah melempar gelas, Nona," jawab wanita itu seraya memungut sisa pecahan gelas. "Permisi, saya akan membuang ini dulu."
"Silahkan, Suster." Naomi menatap Nenek Camila yang terlihat cukup kesal.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar ini?" pekik nenek, membuat Naomi mengusap dada. Ucapan para pelayan ternyata benar, Nenek Camila adalah seseorang yang sangat galak dan pemarah.
Sepertinya penghuni rumah ini satu paket semua, ya!
Namun, Naomi berusaha untuk bersikap seramah mungkin. Terlebih, Nenek Camila terlihat cukup lemah.
"Selamat sore, Nenek. Aku Naomi, istri Tuan Adrian." Naomi membungkukkan kepala sopan.
"Istrinya Adrian?" tanyanya. "Mau apa di sini? Apa kamu juga kemari hanya untuk memaksaku minum obat?"
Naomi menggeleng cepat. "Tentu saja tidak! Aku kemari karena mendengar Nenek marah-marah. Apa Nenek tidak tahu kalau sering marah itu bisa memperpendek usia seseorang?"
Nenek Camila melotot kesal ke arah istri cucunya itu. "Apa kamu sedang mendoakan supaya aku cepat mati?"
"Ya ampun! Sekarang aku tahu sifat Tuan Adrian menurun dari siapa," gumam Naomi di balik senyumnya. "Aku tidak berpikir seperti itu, Nenek! Tapi kalau itu benar-benar terjadi, maka rumah ini akan terbebas dari teriakan Nenek."
"Anak ini benar-benar tidak sopan. Bagaimana Adrian bisa menikahi wanita seperti ini?" Nenek Camila memijat kepala. "Dengar baik-baik, aku tidak akan mati sebelum Adrian memberiku seorang cicit!"
"Tapi untuk itu dibutuhkan umur yang panjang. Apa Nenek tahu, nenekku tutup usia di usia yang terbilang muda karena terlalu keras kepala."
Tentu saja cerita itu hanya karangan Naomi semata. Ia bahkan tak tahu seperti apa rupa neneknya.
Nenek Camila menatap Naomi semakin kesal. Napasnya bahkan menjadi lebih cepat. "Hey kamu, cepat berikan obatnya padaku!"
Sambil menahan senyum, Naomi memberikan beberapa pil yang tadi telah disiapkan oleh suster. Kemudian menuang segelas air putih yang kemudian diteguk oleh Nenek Camila.
Untuk pertama kalinya, wanita itu meminum obat tanpa pemaksaan sama sekali.
Dan tanpa disadari oleh Naomi, sejak tadi Adrian bersandar di pintu dengan tangan menyilang di depan dada.
..........