My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 63 : AKU HARUS LARI!


Hening! Tak ada sahutan dari dalam sana. Bahkan setelah beberapa menit Adrian menunggu. Adrian menatap beberapa bawahannya yang berdiri di belakang.


“Maaf, Tuan-Tuan ... ada apa ini?” Seorang wanita paruh baya tiba-tiba hadir di sana. Adrian menoleh ke arah sumber suara.  


“Nyonya, apa benar ini adalah rumah Nona Erina Malvina?” tanya salah satu bawahan Adrian.


“Benar. Saya adalah pemilik rumah ini dan Erina menyewa dari saya,” jawabnya. 


Pria itu mengeluarkan beberapa lembar foto dari saku mantelnya dan menunjukkan kepada wanita itu. “Apa ini orangnya, Nyonya?” 


“Coba sini kulihat dulu.” Ia terlihat mengamati foto. Sepertinya penglihatannya sedikit buram. Apa lagi pencahayaan yang temaram dalam rumah. “Oh ... iya benar, ini memang Erina.” 


Sepasang mata Adrian terpejam mendengar penuturan wanita itu. Ia pasti sudah berurai air mata jika tidak berusaha menahannya. 


“Apa Nona Erina tinggal di sini seorang diri?” tanyanya lagi. 


“Iya, Tuan. Dia sendirian. Sejak beberapa bulan lalu dia pindah kemari. Saya juga tidak tahu dia berasal dari mana. Tiba-tiba saja dia datang dan mencari rumah sewa murah.” 


“Baik, terima kasih, Nyonya. Maaf sudah membuat kegaduhan. Kami datang untuk menjemput Nona Erina.” 


“Menjemput ke mana?” 


“Sebenarnya Nona Erina adalah istri Tuan Marx. Beberapa bulan lalu dia pergi dari rumah dalam keadaan hamil. Kami kemari untuk menjemputnya.” 


“Oh, ya ampun. Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun tentang identitasnya.” Wanita tua itu melirik pria berperawakan tinggi yang membeku di tempatnya berdiri. 


Rasa tak sabar membuatnya memilih mendobrak pintu kayu itu. Begitu terbuka, hanya suasana sunyi yang menyambut dirinya. 


Pandangan Adrian berkeliling. Mendadak dadanya terasa ditusuk ribuan jarum melihat kondisi rumah itu. Sebuah rumah sempit yang baginya tidak layak huni. Hanya ada kamar mandi berukuran kecil di sisi kiri dan satu tempat tidur usang di sisi kanan. Dari tempatnya berdiri Adrian melihat sebuah tas berisi pakaian yang terburai, tergeletak dilantai. 


“Sepertinya Nona Naomi terburu-buru pergi. Dia bahkan belum selesai berkemas dan meninggalkan pakaiannya begitu saja,” ucap sang sopir yang ikut masuk ke rumah. “Mungkin dia belum jauh dari sini.” 


Adrian melangkah keluar dari rumah. Menatap nanar sekeliling. Hujan mulai turun. Rasa khawatir terhadap Naomi kian menjadi.


“Cepat kalian berpencar mencarinya! Jangan kembali sebelum menemukannya!” perintahnya.


Lalu melangkah menerobos derasnya hujan.


.


.


Hujan mengguyur cukup deras. Tubuhnya sudah basah kuyup. Ia merasa hampir kehabisan tenaga, belum lagi ukuran perut yang mulai membesar membatasi ruang geraknya.


Tadi, setelah mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah, ia terburu-buru keluar melalui pintu belakang.


Entah akan bersembunyi dimana agar terbebas dari kejaran suaminya itu. Yang Naomi tahu, ia harus terus berlari menghindar.


"Aku lelah sekali," ujarnya sambil melirik ke kanan dan kiri di tengah derasnya hujan. Menyilangkan lengan di depan dada demi mengurai udara dingin yang seakan sanggup membekukan tubuhnya yang basah kuyup.


Hingga tiba di sebuah jalan yang cukup sepi, Naomi sudah tidak ada daya untuk berlari. Berteriak meminta tolong pun percuma, tidak akan ada yang mendengar. Malam mencekam. Rasa lelah dan sakit menyatu di dalam tubuhnya.


“Kenapa rasanya mataku semakin berkunang-kunang?” 


Naomi terus melangkah dengan tenaga yang tersisa. Hingga sekeliling terasa berputar dalam pandangannya. Ia akan ambruk, namun sepasang tangan kokoh menariknya. Mendekap tubuhnya erat.


"Lepaskan aku! Tolong lepas!"


Setengah sadar, Naomi mencoba melepas tangan yang sedang melingkari tubuhnya. Ia mendongakkan kepala, untuk menatap pemilik tubuh itu. Namun semua memburam dalam pandangannya.


Perlahan ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu, saat tenaganya yang tersisa tak lagi kuat untuk menopang tubuhnya. Ia dapat merasakan eratnya sepasang tangan yang membekuk tubuhnya.


Dan, detik itu juga segalanya gelap. Naomi tidak sadarkan diri lagi.


.


.


.


.