
“Aku tahu rasanya dipecat dan itu tidak enak.”
Kalimat singkat mengandung permohonan yang terucap dari mulut Naomi tak membuat Adrian goyah. Pria itu baru saja mendeklarasikan keinginannya untuk memecat para karyawan yang sudah berbuat semaunya terhadap sang istri. Tiada ampun dari Adrian, meskipun Naomi tak mendukung keputusannya.
“Tidak usah membela mereka, aku tidak suka!” Adrian melipat tangan di depan dada. Detik itu juga pandangannya teralihkan keluar jendela, di mana hotel mewah tempatnya menginap menyajikan pemandangan kota di malam hari yang memanjakan mata. Meski begitu, bias amarah masih terlihat jelas pada wajahnya.
“Aku bukannya membela mereka.”
"Meminta untuk tidak memecat mereka itu sudah bentuk pembelaan."
Ujung mata Adrian kembali mengarah kepada sosok yang masih duduk di tepi pembaringan sambil mengusap perut. Ia tahu Naomi bukan seseorang yang tegaan. Jika saja bisa, mungkin wanita itu akan berlutut di hadapan suaminya. Tetapi hal itu akan membuat Adrian semakin murka.
"Tidak ada ampunan bagi mereka. Jadi tidak usah menawar lagi."
Adrian membalikkan tubuhnya ketika melihat Naomi bangkit dari duduknya. Detik kemudian ia merasakan tangan lembut istrinya itu menyusup di sela lengan dan melingkar erat di perut.
Tak dapat dipungkiri ini membuat jantung Adrian berdegup lebih cepat. Ini pertama kali Naomi berinisiatif sendiri memeluknya lebih dulu.
"Kamu tahu sendiri kalau aku sangat pendendam," ujar Adrian kemudian.
“Aku tahu. Sebenarnya aku juga aku bukan orang baik. Aku sangat tidak menyukai mereka. Tapi aku tidak sejahat itu sampai membuat mereka dipecat.”
Adrian mengelus tangan Naomi yang masih melingkari perutnya. “Bagaimana kamu bisa memaafkan mereka, sementara perbuatan mereka terhadapmu sudah di luar batas?”
“Karena mereka membutuhkan pekerjaan itu untuk bertahan hidup,” lirih Naomi. Sedikit banyak ia tahu bahwa beberapa wanita yang menjadi bekas rekan kerjanya adalah tulang punggung keluarga. Jika mereka kehilangan pekerjaan, entah akan seperti apa hidup mereka selanjutnya.
"Aku tidak peduli. Alexa saja tega memotong gajimu. Padahal dia tahu kebutuhan wanita hamil itu banyak." Adrian menghembuskan napas panjang, lalu menarik pergelangan tangan Naomi dan memposisikan wanita itu tepat di hadapannya. “Sayangnya suamimu ini sangat pendendam. Jadi tidak ada ampun bagi mereka.”
“Jadi kamu benar-benar akan memecat mereka?”
Adrian memilih anggukan kepala sebagai jawaban. Luapan kemarahan di hatinya tak mampu dibendung, bahkan saat sumber dari kemarahan itu sendiri memohon kepadanya. Seperti pohon yang memiliki akar yang kuat, seperti itulah pendirian seorang Adrian Marx.
“Aku akan menghukum siapapun yang sudah berbuat seenaknya terhadapmu. Tidak peduli siapapun orangnya. Jadi jangan mencoba memohon untuk mereka.” Sebuah kalimat yang tidak dapat ditawar lagi.
Naomi mendesahkan napas frustrasi. Memang sesulit itu membujuk Adrian. Dan Adrian dapat membaca raut wajahnya yang lesu.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku akan menurut kali ini," ucap Naomi patuh. "Tapi tolong pinjamkan ponselmu. Aku bosan tidak ada hiburan.” Naomi sudah menengadahkan tangan di hadapan sang suami.
Adrian merogoh saku celana. Mengeluarkan benda tipis miliknya dari sana lalu memberikan kepada Naomi dengan suka rela. Membuat wanita itu tersenyum girang.
"Terima kasih, my se*xy husband!"
Naomi menarik tengkuk leher Adrian hingga kepalanya sedikit membungkuk. Kemudian dengan gerakan cepat membenamkan ciuman di pipi dan bibir.
Adrian terpaku selama beberapa saat. Entah mengapa ciuman yang diberikan Naomi seperti mampu melumpuhkan akal sehatnya. "Besok aku belikan ponsel baru," ucapnya dengan pipi memerah.
.