My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 76 : TITIK TERANG


Adrian dan Naomi tiba di rumah. Kedatangan mereka disambut oleh para pelayan. Begitu juga dengan Nenek Camila yang tidak sabar menunggu sejak pagi. Ia menyambut Naomi dengan suka cita, terlebih setelah melihat perut Naomi yang sudah membesar. 


“Anak nakal, kamu sudah pulang?”


Tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, nenek memeluk cucu menantunya erat, bahkan terlihat enggan melepas. 


“Iya, Nenek. Maafkan aku sudah membuat semua orang repot.” 


Sejenak Nenek Camila melepas pelukan. Menangkup pipi Naomi dengan tangannya.


“Bukan salahmu, Sayang. Ini semua karena suamimu yang bodoh ini!" Nenek melirik Adrian kesal, membuat pria Adrian mengusap dada. "Seandainya dia memperlakukanmu dengan baik, kamu tidak akan pergi."


"Ini juga salahku. Aku terlalu keras kepala."


“Tapi syukurlah kamu sudah kembali. Rumah ini terasa mati tanpamu.” Nenek melepas pelukan, lalu mengusap perut Naomi. “Bagaimana kandunganmu, cicitku baik-baik saja, kan?” 


"Baik, Nenek."


“Kamu sudah periksa ke dokter? Dia laki-laki atau perempuan?” tanyanya penasaran.


"Kami belum tahu karena belum sempat ke dokter. Kemarin aku sangat sibuk. Tapi besok aku akan membawa Naomi ke dokter," tambah Adrian.  


“Baiklah. Aku sudah tidak sabar untuk menggendong anakmu. Dia akan menjadi kesayangan di keluarga kita.” 


Adrian menerbitkan senyum tipis, melihat binar bahagia di wajah Nenek Camila. Sejak Naomi menghilang, ini adalah pertama kalinya Nenek Camila tersenyum lagi. Adrian melihat sekeliling, ia belum melihat keberadaan sang ibu. 


“Di mana ibu, kenapa tidak menyambut Naomi? Apa ibu tidak tahu kalau Naomi akan pulang hari ini?” tanya Adrian. 


“Entahlah. Aku tidak tahu ibumu ke mana. Sejak pagi aku belum melihatnya. Dia itu memang wanita yang aneh,” jawab Nenek Camila dengan malas. 


Adrian melirik sang nenek. Sejak dulu, ibu dan neneknya memang tak begitu akur. Mereka kerap berbeda pendapat dan bertengkar demi hal sepele. Adrian lalu menatap seorang pelayan yang berdiri tak jauh darinya. 


“Saya sudah memberitahu bahwa Nona Naomi akan pulang, Tuan. Tapi pagi-pagi nyonya sudah keluar. Katanya akan menghabiskan waktu dengan teman-temannya,” jawab sang pelayan. 


“Oh ....” 


Tentu saja Adrian tahu alasannya. Ibu masih enggan menerima Naomi sebagai menantu di keluarga Marx sehingga memilih pergi. Namun, Adrian tak ingin memperpanjang masalah. Naomi pulang saja sudah cukup baginya. 


“Ayo, Naomi, Adrian kita makan malam dulu. Aku meminta mereka membuat makanan kesukaan naomi,” ajak nenek. Sudah menggandeng lengan Naomi. 


“Baiklah.” Adrian melirik Naomi. “Kamu mau mau makan sekarang?” 


“Aku mau ganti baju dulu. Badanku rasanya gerah memakai baju ini seharian.” 


.


.


.


“Ayo makan yang banyak. Kamu butuh nutrisi supaya anakmu tumbuh dengan baik.” 


Nenek Camila meletakkan beberapa potongan daging ke piring Naomi. Ia juga meletakkan semangkuk sup asparagus yang menjadi kesukaan Naomi. 


“Iya, Nenek. Tapi sudah cukup. Aku takut kekenyangan dan itu akan membuatku sesak.” 


“Itu wajar bagi wanita hamil. Aku juga dulu merasakannya.” 


Pada saat itu Adrian merasakan getaran ponsel di saku celana. Ia lalu mengeluarkan benda pipih itu. Di layar tertera sebuah pesan baru saja masuk. 


“Saya sudah menemukan informasi tentang orang tua Nona Naomi.” 


Wajah Adrian langsung berubah serius. Terlihat kerutan dalam di kening, lalu kemudian mengetikkan pesan balasan. 


“Temui aku di kantor besok.” 


.


.


.