My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 88 : Aku Mau Pulang Ke Rumah Suamiku


"Nona, tolong jangan lakukan! Ini sangat berbahaya bagi Anda!"


"Diamlah, Justin! Atau aku juga akan menembakmu!"


Pria itu refleks mengangkat kedua tangan ke udara kala Erica menodongnya.


"Kamu tahu, ini adalah senjata milik Adrian yang kuambil di rumahnya," Ia tertawa kecil. "Apa Adrian akan sedih karena senjata miliknya sendiri yang akan membunuh istrinya?"


Naomi semakin ketakutan. Belum pernah sebelumnya ia ketakutan seperti sekarang. Bahkan lebih saat Ken menjualnya kepada Madam Leova.


"Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kita akan menunggu Adrian. Dia akan melihat sendiri bagaimana peluru dari senjata ini menembus tubuhmu."


Erica memainkan senjata di tangannya.


"Justin, awasi dia! Aku akan istirahat sebentar!"


"Baik, Nona."


*


*


*


"Tolong lepaskan aku," lirih Naomi.


Justin melirik Naomi sekilas, lalu menatap keluar dan memastikan keadaan aman. Setelahnya, ia mendekat dan berjongkok di hadapan Naomi.


"Tenanglah Nona. Saya akan berusaha membantu Anda keluar dari sini. Tapi tidak sekarang. Nona Erica adalah orang yang sangat berbahaya. Kalau kita mencoba melarikan diri sekarang, kita akan mati di tangannya."


"Kenapa kalian menyekapku di sini? Aku mau pulang ke rumah suamiku."


"Saya mohon tenanglah dulu." Justin keluar dari ruangan dan kembali setelah beberapa menit kemudian. "Saya membawa makanan untuk Anda. Saya akan melepaskan ikatan supaya bisa makan, lalu setelah itu saya akan mengikat Anda lagi."


"Aku tidak mau makan. Aku hanya mau pulang."


"Tolonglah, Nona," ujarnya sambil melepas tali yang melilit tubuh Naomi. "Cepat makan sebelum Nona Erica kembali. Kalau tidak makan, bagaimana punya tenaga untuk melarikan diri dari tempat ini. Saya akan berusaha mengeluarkan Anda dari sini, tapi tunggu sampai Nona Erica lengah."


Naomi hanya menatap beberapa potong roti yang dibawa Justin, tapi tak berniat meraihnya.


"Aku tidak mau! Bagaimana kalau kamu mau meracuniku."


Justin menghembuskan napas panjang. Lalu, menyuapkan satu potong roti ke mulutnya. "Lihat kan, saya sudah memakannya. Kalau makanan ini ada racunnya, saya tidak akan berani memakannya."


Naomi pasrah. Perlahan tangannya meraih potongan roti. "Kenapa kamu mau menolongku? Kamu tidak berencana membunuhku di tempat lain, kan?"


"Tentu saja tidak. Saya hanya tidak ingin berakhir di tangan Tuan Marx atau Pangeran Hugo kalau sampai terjadi apa-apa dengan Anda. Jadi saya mohon makanlah dulu, Nona."


"Pangeran Hugo? Siapa dia?" tanya Naomi dengan mulut penuh makanan. Diiringi luapan air mata yang meleleh di pipi.


"Anda akan tahu nanti. Sekarang makan saja dulu."


"Tolong hubungi suamiku. Katakan padanya aku ada di sini."


"Maaf, Nona. Untuk itu saya tidak bisa. Nona Erica akan membunuh saya. Dia tidak akan segan-segan membunuh Anda juga kalau sedang merasa terancam. Sekarang yang dia inginkan adalah Anda dan Tuan Marx."


Ucapan Justin membuat Naomi membeku. Sesaat setelah Naomi menghabiskan makanan dan minumannya, pria itu kembali mengikat tangan dan kaki.


"Tunggulah! Begitu ada kesempatan, saya akan membawa Anda keluar dari sini."


Naomi kembali terbaring dengan tubuh terbelenggu tali, yang membuat seluruh tubuhnya terasa pegal.


"Aku mau pulang ke rumah suamiku," lirihnya.


Beberapa detik kemudian, isak tangis mulai memenuhi ruangan kecil itu.


Maafkan aku, Tuan Adrian ... aku selalu berusaha melarikan diri darimu. Sekarang aku benar-benar sadar. Aku membutuhkanmu ... aku janji setelah terbebas dari sini aku tidak akan macam-macam lagi. Aku sangat merindukanmu.


.


.


.


Adrian duduk bersandar di sofa ruang baca sambil memejamkan matanya yang lelah. Sejak semalam ia belum beristirahat semenit pun.


Baru beberapa menit terpejam, ponsel sudah berdering. Adrian meraih benda pipih itu dan melihat pemanggil di layar, nomor yang tak di kenal.


"Halo ...," ucapnya sesaat setelah panggilan terhubung.


"Apa kabar Adrian, sayang?" Terdengar suara seorang wanita di seberang sana. Dahi Adrian berkerut, ia hafal betul pemilik suara itu. "Apa kamu masih mengingatku?"


"Erica?"


*


*


*


Maafin kalau ada Typo. Aku ngetiknya sambil rebahan karena terserang gejala Tipes ringan.


Jadi butuh banyak istirahat. Tapi sudah agak mendingan kok. Insyaa Allah perawatan di rumah aja.


Doain cepat sembuh, ya.....


lope lope sekebun.


🤗🤗🤗