
Konon katanya, seseorang mampu melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Adrian sudah membuktikan sendiri. Dia yang pagi tadi terburu-buru berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, justru menghabiskan waktu untuk membalas orang-orang yang pernah menyakiti istrinya.
Pendendam memang. Ia bahkan membuat Alexa dan beberapa office girl kerepotan hari ini dengan melayani istrinya.
"Tuan ...," panggil Naomi. Kini ia sedang menikmati kebersamaan dengan bersandar di dada sang suami.
Adrian menghembuskan napas kasar mendengar panggilan tuan yang selalu disematkan Naomi. "Kapan kamu akan berhenti memanggilku tuan? Apa kamu tidak tahu kalau itu sangat menggangguku?"
"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu tuan lagi." Ia mendongakkan kepala demi menatap suaminya. "Ngomong-ngomong tahu dari mana kalau wanita-wanita tadi sering berbuat jahat padaku?"
"Memangnya kenapa?"
"Mau tahu saja. Aku 'kan tidak pernah mengadu. Apa mereka mengaku sendiri?"
Adrian terkekeh mendengar ucapan polos Naomi. "Aku bisa dapatkan informasi dari siapa saja kalau masih di dalam kantor. Bahkan setiap dinding di kantor ini punya mata dan telinga."
Adrian mencium puncak kepala Naomi, lalu menyandarkan kembali ke lekukan lehernya. "Ngomong-ngomong kudengar gajimu sering dipotong. Lalu bagaimana kamu bertahan hidup setiap harinya?"
"Aku makan mie instan untuk berhemat."
Tiba-tiba dada Adrian seperti dihimpit bongkahan batu besar. Bahkan udara di ruangan luas itu terasa tak cukup baginya untuk bernapas.
"Mie instan?"
Naomi mengangguk. "Itu lebih baik dari pada tidak makan."
Rasanya Adrian benar-benar sangat marah sekarang. Ia tidak akan memaafkan siapapun yang sudah menyakiti Naomi. Terlebih Alexa, yang menghina Naomi habis-habisan di depan matanya.
"Kenapa mereka memotong gajimu?"
"Aku sering mual di pagi hari. Setelah muntah di kamar mandi, aku akan pusing dan tiduran dulu. Setelah merasa lebih baik, baru berangkat. Kadang aku terlambat dua sampai tiga jam, dan gajiku akan dipotong setengahnya."
Semakin sesak saja dada Adrian. Kepingan rasa bersalah itu semakin nyata. Tangannya terkepal kuat. Entah harus marah kepada siapa. Sebab dirinya adalah penyebab terbesar kepergian Naomi.
Ia dekap Naomi seerat-eratnya sambil berbisik, "Maafkan aku. Semua ini salahku."
"Untung saja sebelum bekerja, aku punya sisa uang dari hasil menjual kalung Nona Haylea," tambah Naomi.
Ingatan Adrian berputar. Ia masih ingat sebuah kalung berlian yang tadinya akan diberikan kepada Haylea, yang kemudian ia berikan kepada Naomi untuk membalas mantan kekasihnya itu.
"Bukankah kalung itu sangat mahal? Kamu bisa hidup lebih layak dengan menjualnya," ucap Adrian mengingat harga kalung berlian tersebut tidaklah murah.
"Mana aku tahu, pemilik toko bilang, itu bukan berlian asli."
Hela napas Adrian terdengar berat. "Mereka sudah menipumu. Seharusnya itu cukup untukmu membeli sebuah apartemen."
"Benarkah?" Naomi terbelalak mendengar ucapan suaminya. "Mana aku tahu."
"Ya sudah, nanti aku beri pelajaran pemilik toko itu. Beritahu saja nama tokonya."
Membuat Adrian menghela napas panjang.
.
.
.
Hari menjelang sore.
Adrian sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa stafnya. Di sela-sela diskusi, beberapa kali ia menoleh ke arah taman kantor, yang dapat terlihat dari ruang rapat. Naomi sedang mengusir kebosanan dengan berjalan-jalan di taman.
Adrian yang trauma dengan kepergian Naomi membuat penjagaan yang begitu ketat. Kemana pun istrinya melangkah, akan ada beberapa pria yang mengawasi.
Naomi duduk di kursi taman. Sejak keluar dari ruangan suaminya, sudah merasa tidak nyaman. Kemana pun kakinya melangkah, akan ada beberapa pasang mata menyeramkan yang terus menatapnya.
.
.
.
"Ya ampun, aku lelah sekali hari ini. Triny, apa menurutmu Tuan Marx akan menghukum kita lebih dari ini?" tanya salah satu wanita yang kini sedang memijat sebelah lengannya yang terasa pegal.
"Semoga saja tidak. Ah, aku benar-benar lelah membersihkan taman tadi."
Wanita bernama Triny itu berdecak pelan. "Untung saja kita bertiga. Dulu Erina melakukannya sendirian."
"Namanya Nona Naomi, bukan Erina" Ia menghembuskan napas panjang. "Huh, beruntung sekali dia. Aku tidak tahu bagaimana si culun kampungan itu bisa mendapatkan Tuan Marx."
"Kamu benar. Dan bagaimana Tuan Marx yang begitu sempurna dan dikelilingi gadis cantik tertarik dengan wanita seperti itu?"
"Hah, tolong cubit aku, Maria! Apa dia benar-benar Erina si pembuat masalah itu? Bagaimana dia bisa menjadi seorang Cinderella dalam satu malam saja?"
"Kemarin lalu dia tidak lebih dari seorang tukang bersih-bersih toilet kantor, dan sekarang dia datang sebagai ratu," sahut yang satunya dengan kesal.
Keduanya menghembuskan napas panjang. Hingga tiba-tiba ....
"Jadi istriku adalah pembuat masalah bagi kalian?"
Suara berat yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat tiga wanita itu merinding.
*
*