My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 102 : Berbelanja Perlengkapan Bayi


Pancing dia sedikit, Adrian. Begitu dia sudah masuk perangkap, maka dia akan agresif dengan sendirinya. Dan kamu tinggal menikmati hasilnya.


Adrian masih dalam posisi berbaring membelakangi Naomi. Selimut tebal ia tarik hingga menutupi bahu. Kemudian menghitung detik demi detik yang berlalu dengan harapan akan mendengar rayuan manja dari makhluk di belakangnya.


Jangan ditanya raut wajah Naomi. Matanya berkaca-kaca, giginya bergemeletuk sambil memeluk selimut di dadanya. Adrian baru saja memberinya sebuah harapan palsu.


Wanita itu menggeser posisinya sehingga tubuhnya menempel sempurna di punggung sang suami. Malu-malu melingkarkan tangan ke perut.


"Tuan Adrian Marx yang tampan dan tersayang ...." bisiknya ke telinga Adrian.


Dia tidak memaki? Ajaib sekali.


"Ada apa?" balasnya acuh tak acuh.


"Bisakah kamu mengajariku cara mendes@h yang baik dan benar tanpa harus merasa terpaksa?"


Permintaan macam apa itu?


Adrian pasti sudah meledakkan tawa jika tidak sedang dalam misi menjahili istrinya itu. Senyum kemenangan terbit di bibirnya, seolah baru saja memenangkan sebuah kompetisi besar.


"Mendes@h itu kan bakat alami. Kamu bahkan tidak perlu belajar untuk bisa melakukannya."


"Apa kamu sedang tidak tertarik untuk mendengar des@han alamiku?"


Suara manja nan menggoda itu seperti sihir bagi Adrian. Rasanya sudah tidak sabar untuk melahap istrinya yang menggemaskan itu.


Tahan Adrian ... tahan! Biarkan dia memohon lebih.


"Tidak. Aku mau tidur saja. Aku sangat lelah hari ini."


"Yakin?"


Senyum kembali mengembang di bibirnya kala merasakan tangan Naomi mulai menyusup ke dalam piyama dan mengusap dadanya dengan lembut.


"Aku sedang bermurah hati malam ini. Sangat jarang aku mau mendes@h secara alami tanpa paksaan."


"Saya sedang tidak butuh kemurahan hati Anda, Tuan Putri Isabel." Ia memindahkan tangan istrinya yang sedang mengusap dada.


"Baiklah, kalau tidak diteruskan, aku mau pulang ke rumah orang tuaku saja."


Adrian gelagapan dan langsung menoleh ke belakang. "Mau ke istana?"


"Iya, aku akan tinggal di istana saja."


Naomi meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Bermaksud menghubungi Pangeran Hugo agar dikirimkan seorang sopir untuk menjemput.


"Eh, jangan!" Adrian yang mulai panik merebut ponsel di genggaman Naomi dan menyembunyikan di bawah bantal.


"Memangnya kenapa?"


"Apa kamu tidak tahu kalau di istana itu dilarang mendes@h?"


"Aku ke sana bukan untuk mendes@h!" pekik Naomi. Ia menyibak selimut dan menurunkan kedua kakinya ke lantai.


"Hey, meninggalkan suami sendiri itu perbuatan tercela," ujar Adrian.


"Memberi istri harapan palsu itu juga perbuatan tercela."


Adrian menghela napas panjang.


Dia benar-benar pintar membalikkan keadaan. Sekarang harus aku yang merayunya.


Adrian menggeser posisi dan melingkarkan tangan di perut Naomi.


"Baiklah, aku minta maaf. Ayo kita belajar mendes@h bersama," bujuknya seraya membaringkan Naomi di ranjang.


"Kamu mau ke mana?" tanya Adrian pagi harinya, ketika melihat Naomi berdiri di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.


"Aku ada janji bertemu dengan ibu dan nenek. Kami akan berbelanja keperluan bayi di mall. Boleh, kan?" Ia memutar tubuhnya di depan cermin demi memastikan penampilannya sudah sempurna.


"Boleh."


Adrian tak membantah keinginan istrinya. Sebab beberapa bulan ini ia disibukkan dengan pekerjaan, sehingga tidak memiliki waktu untuk sekedar menemani berbelanja perlengkapan bayi. Padahal, jadwal operasi tinggal dua minggu lagi.


Tetapi, meskipun istri dan ibunya sudah berbaikan, ia masih sedikit membatasi. Kejadian penculikan Naomi oleh Erica masih menyisakan trauma. Sehingga menjadikannya lebih posesif dan berhati-hati.


"Boleh, tapi sore sudah harus ada di rumah."


"Tidak masalah. Terima kasih, Suamiku yang murah hati." Naomi membenamkan bibirnya ke pipi Adrian.


"Tumben memuji, biasanya memaki," ujarnya seraya merapikan dasi.


"Hari ini aku sedang senang. Ini pertama kalinya ibu dan nenek mengajakku berbelanja."


Siang itu Naomi menghabiskan waktu bersama nenek dan ibu mertuanya dengan berkeliling di pusat perbelanjaan.


Mereka membeli banyak perlengkapan bayi. Bahkan Nenek Camila terlihat sangat antusias menyambut cicitnya. Ia yang selama ini selalu julid terhadap sang menantu sudah lebih manusiawi. Tak pernah lagi ada perdebatan. Pelajaran yang diberikan Adrian cukup untuk menyadarkan keduanya.


"Ibu, Nenek ... aku mau ke toilet sebentar." Naomi meletakkan sebuah paper bag di tangannya.


"Tapi jangan lama-lama. Adrian akan marah kalau kita terlambat pulang," balas Nenek, mengingat pesan Adrian sebelumnya.


"Baiklah, Nenek. Aku cuma dua jam di kamar mandi," kelakarnya sambil tertawa kecil.


Naomi segera beranjak menuju toilet. Saat keluar dari salah satu bilik, tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, aku tidak sengaja."


"Naomi Claire? Wah kebetulan sekali bertemu denganmu di sini." Suara tak asing itu membuat Naomi menoleh. Meskipun terkejut, tetapi ia tak menunjukkan reaksi berlebihan.


"Nona Haylea?"


"Hai, apa kabar?" ucapnya ramah.


"Baik, terima kasih."


Haylea menatap perut Naomi yang sudah semakin membesar. "Oh ya, selamat atas kehamilanmu. Adrian pasti sangat senang karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."


Naomi tak menyahut, mengingat betapa jahat mantan kekasih suaminya itu di masa lalu.


"Maaf, aku harus segera pulang. Nenek dan ibu sudah menunggu di luar."


Tanpa menunggu balasan dari Haylea, Naomi pun melangkah. Namun, Haylea melorotkan kaki ke samping, yang membuat Naomi tersandung.


Alhasil, Naomi terhempas ke lantai dengan posisi perut membentur lebih dulu.


"Aaa!"