My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 106 : Berapa Banyak Wanita Di Masa Lalumu?


Adrian menjadi sangat kaku setelah menyadari dinginnya tatapan Pangeran Hugo. Ingin segera masuk ke sebuah ruangan yang ia yakini di dalamnya ada sang istri, namun tubuh kokoh kakak iparnya itu menghalangi. Pangeran Hugo bahkan tak segan menunjukkan tatapan tak sukanya. 


"Ada berapa banyak wanita yang pernah ada di dalam hidupmu?" Pertanyaan frontal tanpa disaring itu membuat Adrian membalas dengan tatapan tajam. Tangannya terkepal tanpa sadar di balik punggung.


"Apa maksudmu?" tanyanya, dengan alis saling bertaut. 


Hugo tertawa kecil. Namun, suara tawa dan gerak tubuhnya sangat tidak sinkron. Adrian benar-benar dibuat berang oleh tingkah pangeran menyebalkan itu. 


"Ini kedua kalinya Isabel celaka karena ulah wanita dari masa lalumu. Dulu Erica, dan sekarang Haylea yang mengaku adalah mantan kekasihmu. Kedepannya bisa saja ada wanita lain lagi yang mencoba mencelakai Isabel, kan?" 


Sepertinya Pangeran Hugo berhasil dalam memancing amarah Adrian. Ketegangan pun mewarnai pembicaraan keduanya. Ayah mertua dan Nenek Camila pun menatap keduanya dengan raut wajah menegang.


Tetapi, Adrian tak ingin perdebatan dengan kakak iparnya berbuntut panjang. Karena yang terpenting baginya sekarang hanya keselamatan Naomi dan anak-anaknya. 


"Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Masih banyak waktu untuk membicarakan tentang hal itu."


"Kenapa? Kamu tidak punya jawaban?"


"Sekarang yang terpenting adalah keselamatan istriku dan aku tidak peduli yang lain." Adrian hendak melangkah, namun lagi-lagi dihalangi oleh Pangeran Hugo. 


Kehilangan kesabaran, Adrian mendorong dada kakak iparnya hingga mundur satu langkah. Sang pangeran pun merasakan kekesalan menembus ubun-ubun. Selama ini belum pernah ada yang berani berbuat sekurangajar itu terhadapnya. 


"Minggir, aku mau melihat istriku!" ujarnya. Lalu, tanpa mengindahkan ekspresi pangeran Hugo, melangkah begitu saja. 


..........


"Ibu, kenapa semakin lama rasa sakitnya semakin menjadi-jadi?" Naomi sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Ratu Hellena, sementara Ibu Iriana mengusap kepalanya yang sejak tadi terus mengeluarkan keringat. 


"Bersabarlah, Sayang. Dokter akan memberikan yang terbaik untukmu," jawab wanita itu lembut. 


"Ibu benar, Nak. Tenanglah," timpal sang mertua.


"Tapi ini sakit sekali, Ibu. Rasanya pinggangku mau patah," keluhnya. "Kenapa untuk melahirkan anak harus sesakit ini?" 


"Bersabarlah. Ibu juga merasakannya saat akan melahirkanmu. Semuanya akan membaik." 


Tangan Naomi mengulur menyentuh lengan ibu mertuanya. "Ibu, tolong panggilkan suamiku ke mari. Aku membutuhkannya di sini." 


"Mungkin dia sudah dalam perjalanan. Layla sudah menghubunginya sejak tadi," jawabnya. "Sebentar lagi Adrian pasti sampai."


Naomi mulai terisak-isak. Orang yang paling ia harapkan berada di sisinya saat sedang kesakitan seperti sekarang hanyalah sang suami. Baginya, hanya Adrian seorang tempatnya bersandar dan satu-satunya orang mau berbuat apa saja demi dirinya. 


Dan, keinginan Naomi terwujud saat itu juga. Pintu kaca terbuka memunculkan sosok Adrian dari sana. Baik Ibu Iriana maupun Ratu Hellena bernapas lega. Sebab sejak dalam perjalanan ke rumah sakit, Naomi beberapa kali meminta menghubungi suaminya. 


..........


Adrian merasakan seluruh tubuhnya lemas kala memasuki ruangan itu dan mendapati Naomi sedang terbaring dengan menyandarkan kepala di pangkuan ibu mertuanya. Apa lagi ketika mendengar istrinya itu meringis kesakitan dan terisak-isak. 


Adrian melirik satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. Selain ibu dan mertuanya, di sana juga ada tiga dokter wanita yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya.


"Kamu sudah datang? Sejak tadi Naomi mencarimu," ucap ibu.


"Maaf, Bu. Tadi aku sedang rapat saat diberitahu Bruno." Perlahan Adrian mendekat.


"Maafkan aku," bisik Adrian, memeluk dan mengusap rambut Naomi. "Seharusnya aku menemani dan menjagamu." 


Naomi yang masih terisak membenamkan wajahnya di dada sang suami. Tangannya melingkar erat di tubuh kokoh itu.


"Aduh, sakit sekali ...," rintihnya. 


"Bersabarlah, Sayang. Para dokter sedang mempersiapkan segalanya untuk membantumu. Tahan sebentar lagi, ya." 


Naomi mengangguk pasrah. Setidaknya kini ia merasa lebih baik dan lebih kuat karena kehadiran Adrian.


Hingga beberapa menit berlalu. Naomi mulai lebih tenang, meskipun rasa sakit yang berpusat di perut semakin menjadi-jadi.


"Tuan Adrian jelek, arogan, pemaksa dan tua bangka," panggil Naomi. 


Ya ampun, dalam keadaan sakit saja dia masih bisa memaki. 


"Kenapa?" Suara Adrian terdengar lembut.


 "Kalau aku mati apa kamu akan menikah lagi?" Rahang Adrian terbuka mendengar pertanyaan yang terdengar aneh itu. Ia pasti sudah tertawa jika tidak mengingat Naomi sedang berjuang antara hidup dan mati. 


Adrian mengeratkan kedua tangan kekarnya yang melingkari tubuh Naomi. "Sayang ... tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Dalam keadaan seperti ini tidak usah memikirkan hal-hal aneh."


"Memangnya kenapa? Aku harus memastikan, bukan?" Sorot matanya penuh tanya. Kemudian kembali bersandar di dada lebar suaminya. Sesekali matanya terpejam kala merasakan denyutan di perut. "Ayo jawab, apa kamu akan menikah lagi?" desaknya, sambil mengguncang bahu suaminya dengan sisa tenaga. 


"Aku tidak sebodoh itu, Naomi." Hati Naomi terasa mengembang bak bunga bermekaran mendengar jawaban suaminya. 


"Jadi kamu tidak akan menikah lagi?" 


"Tentu saja aku akan menikah lagi. Aku tidak sebodoh itu sampai mau menduda sampai tua." 


Senyum di bibir Naomi mendadak sirna. Layaknya diterbangkan ke kahyangan, lalu dihempas ke dasar Bumi terdalam. Jawaban frontal suaminya itu membuat Naomi meradang. Dasi yang melilit kerah kemeja ia tarik hingga membuat Adrian nyaris tercekik. 


"Awh, ini sakit! Kenapa kamu suka sekali menarik dasiku?!" Adrian merebut dasi dan melonggarkannya. 


 "Karena aku suka menyiksamu!" Naomi menghantamkan tangan lemahnya di dada Adrian. "Awas saja kalau kamu berani menikah lagi, aku akan menjadi hantu valak dan mener0rmu setiap malam!" 


Adrian mengu lum bibirnya demi tak meledakkan tawa. Makian dan gerutuan panjang Naomi turut menandai bahwa istri kecilnya yang menggemaskan itu baik-baik saja. 


"Tuan putri ... aku laki-laki normal yang butuh pasangan untuk berkembang biak. Aku 'kan tidak bisa  berkembang biak dengan membelah diri seperti amoeba," kelakarnya, masih dengan memeluk tubuh sang istri. 


"Tapi aku bisa berkembang biak dengan membelah diri melalui operasi caesar." 


"Apa itu artinya kamu sejenis amoeba?" 


"Kalau aku amoeba, maka hal pertama yang akan aku lakukan adalah memangsa predator sepertimu." 


"Baiklah, Sayang. Setelah anak-anak lahir, aku akan memberimu kesempatan untuk memangsaku sesukamu. Makanya jangan berpikir untuk mati. Kalau tidak, maka aku akan dimangsa oleh amoeba lain." 


Tanpa disadari oleh sepasang suami-istri itu, Pangeran Hugo berada di balik pintu. Sejak tadi mengatupkan bibir mendengar pembicaraan aneh itu. 


...........