My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 105 : Rumah Sakit Mana?


Dunia Adrian seperti terhenti saat ini. Apa yang disampaikan Bruno beberapa menit lalu membuatnya seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Amarah, ketakutan dan khawatir bercampur menjadi satu. 


Sementara Bruno yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik kaca spion. Dari sana ia dapat melihat tuannya yang sangat gusar. Pria itu bahkan sedang menjambak rambut karena rasa frustrasi yang semakin menggila. 


"Ke rumah sakit mana mereka membawa Naomi?" tanyanya dengan suara gemetar. 


"Rumah sakit pilihan keluarga kerajaan, Tuan," jawab bruno yang mulai menyalakan mesin mobil. 


Kereta besi pun melesat cepat membelah padatnya jalan sore itu. Bruno harus beberapa kali mendengar umpatan dari pengendara lain, karena menyalip hingga hampir menabrak. Adrian terus memaksa menambah kecepatan. 


"Bagaimana Naomi bisa jatuh di toilet? Apa tidak ada yang menemaninya? Ibu, nenek, Mathilda dan Layla ... bukankah aku menitipkan Naomi kepada mereka sebelum berangkat?" Deretan pertanyaan menuntut itu membuat Bruno kehilangan nyali. Bukan hal mudah menghadapi kemarahan seorang Adrian Marx. 


"Kalau itu ...." Bruno menjeda ucapannya dengan tarikan napas seraya melirik kaca spion. Namun, sepasang mata yang menghunus tajam di belakang itu kembali membuat nyalinya ciut. Setidaknya, ia harus tetap fokus mengemudi. 


"Apa?" sentak Adrian. 


"Menurut informasi yang diberikan Layla ... Nona Naomi bertemu dengan Nona Haylea di toilet. Nona Naomi terjatuh karena dijegal oleh Nona Haylea dan mengalami kontraksi." 


Rahang Adrian mengeras, tangannya terkepal kuat. Pancaran kemarahan terlihat jelas dalam tatapannya. 


"Kenapa mereka ceroboh sekali? Bukankah sudah kuperintahkan untuk mengawasi Naomi ke mana pun dia melangkah?"


"Maaf, Tuan." Hanya kata itu yang dapat terucap dari mulut Bruno.


"Lalu di mana wanita itu sekarang?" Meskipun suara Adrian terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat tubuh Bruno meremang. 


"Sudah diamankan pengawal. Sekarang sedang menjalani pemeriksaan." 


Adrian memijat pangkal hidung, matanya terpejam, kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan. Bukan kemarahan keluarga kerajaan yang membuatnya begitu khawatir, tetapi kondisi Naomi setelah terjatuh. Ia hanya berharap istri dan kedua anaknya selamat. 


Kurang dari 30 menit, mobil yang dikemudikan Bruno sudah tiba di sebuah rumah sakit, yang kata Bruno merupakan rumah sakit pilihan keluarga kerajaan. Setiap anggota keluarga kerajaan yang sakit akan dirawat di rumah sakit ini. 


Baru saja Bruno akan turun untuk membukakan pintu mobil, Adrian sudah keluar lebih dulu. Membanting pintu mobil dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju lobi rumah sakit. 


"Naomi di ruangan mana?" Adrian menghentikan langkahnya sesaat dan menatap Bruno yang berjalan di belakangnya.


"Saya belum tahu, Tuan. Tadi saat Layla menghubungi saya, mereka masih dalam perjalanan ke rumah sakit." 


"Permisi, Nona, pasien atas nama Naomi Claire ada di ruangan mana?" tanya Bruno.


Wanita berpakaian putih itu menyambut dengan senyum ramah. "Sebentar, Tuan, saya akan periksa dulu," ucapnya, lalu mengalihkan pandangan pada layar komputer. "Maaf, Tuan. Tidak ada pasien atas nama Naomi Claire." 


Adrian dan Bruno saling pandang penuh tanya. Untuk beberapa saat Adrian terdiam hingga menyadari sesuatu. 


"Maksudku ... di mana ruangan tempat Putri Isabel dirawat?" tanyanya kemudian.


"Putri Isabel?" Wanita itu tampak terkejut, lalu menatap Adrian dan Bruno penuh selidik. "Maaf, Anda ada keperluan apa dengan Putri Isabel?" 


Pertanyaan itu membuat Adrian kesal setengah mati. Haruskah ada alasan untuk menemui istrinya sendiri? Jika saja tidak mengingat posisinya sekarang, ia pasti sudah memaki wanita itu. 


"Aku suaminya!" jawabnya nyaris membentak. 


Wanita itu berjingkat, wajahnya seketika berubah pucat. Menyadari keadaan, Bruno pun memberi wanita itu sebuah isyarat dengan lirikan mata. 


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak mengenali Anda. Pihak keluarga kerajaan sangat membatasi pembesuk untuk Putri Isabel. Kami tidak diizinkan memberi informasi apapun kepada sembarang orang." 


Bruno pun berusaha menjadi penengah setelah melihat pancaran kemarahan tuannya. "Baiklah, Nona. Jadi, Putri Isabel ada di ruangan mana?" 


"Untuk saat ini Putri Isabel masih berada di Lindo Wing. Para dokter ahli sedang mempersiapkan tindakan operasi." Informasi itu membuat sendi-sendi Adrian terasa lemas. Keringat mulai terlihat di kening. 


"Baik, terima kasih, Nona," ucap Bruno, dengan menunjukkan senyum ramah. 


Dua pria itu segera bergegas menuju sebuah ruangan privat super mewah yang diinformasikan. Adrian merasakan lemas pada tungkai kakinya menuju tempat istrinya dirawat. Dadanya bergemuruh hebat. Tak ada perasaan lega sedikit pun sebelum memastikan sendiri istrinya ditangani oleh dokter yang tepat. 


Melewati ruangan khusus, Adrian menatap beberapa pria berseragam hitam. Mereka serentak membungkuk hormat saat pria itu mendekat, kemudian membukakan pintu masuk. 


"Silahkan, Tuan. Putri Isabel ada di dalam."


Baru saja kaki Adrian melangkah masuk, penglihatannya sudah menangkap Nenek Camila terduduk lemas di sebuah sofa. Ayah mertuanya pun terlihat duduk di tempat yang sama. 


Namun, satu hal yang pasti, tatapan menghujam Pangeran Hugo menjadi sambutan pertama bagi Adrian.