
Adrian meraih selembar tissue dan mengusap kening Naomi yang berkeringat. Sudah beberapa kali ia berbisik dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kebungkaman dari istrinya itu.
Wajah Naomi pucat seperti mayat. Bibirnya tak sanggup berucap sepatah kata pun. Bahkan Adrian sudah membawanya untuk duduk serta memijat tangannya yang gemetar, dengan tatapan penuh tanya dan khawatir.
Melihat Hantu? Tidak mungkin, kan? Adrian bukanlah orang yang percaya terhadap hal semacam itu.
“Apa yang terjadi?” Adrian menangkup pipi Naomi dengan kedua tangan. Menatap matanya dalam-dalam.
“Aku ...,” ucapnya gemetar. “Aku takut.”
Adrian langsung mendekap Naomi erat. Menyorot seisi ruangan demi mencari apa yang membuatnya ketakutan. Namun, tak terlihat apapun yang mencurigakan di sana. Tamu yang hadir pun Adrian hanya kenal beberapa.
“Apa yang kamu lihat? Beritahu aku!” Sekarang Adrian mulai panik. Kemudian memberi kode kepada Bruno yang sedang berdiri tak jauh darinya, dengan menaikkan satu tangan.
Langsung saja Bruno mendekat ketika melihat isyarat dari tuannya. “Ada apa, Tuan?”
“Cepat ambilkan air putih!” perintahnya. “Panggilkan Celena sekalian!”
Baru dua langkah kaki bruno beranjak, sudah membalikkan tubuhnya kembali, lengkap dengan tatapan bodohnya.
Apa, panggil dokter? Apa Nona Naomi sakit? begitu tatapan Bruno berbicara.
“Apa yang kamu tunggu?” seru Adrian tak sabar. Masih dengan menyandarkan kepala Naomi di lekukan lehernya.
“Ba-baik, Tuan.” Secepat cahaya kilat, Bruno segera berlari kecil menuju sudut ruangan. Di sana telah berjejer minuman dengan berbagai jenis. “Air putih ... ah, dapat!” Bruno meraih sebotol air mineral dan juga gelas kosong. Kemudian segera kembali ke meja.
“Ayo, minum dulu!” Adrian menyodorkan segelas air putih.
Naomi meneguk sedikit-sedikit.
“Ada apa dengan Naomi?” Pertanyaan itu membuat Adrian mendongakkan kepala. Dokter Celena dan Erica berdiri di dekatnya dengan raut khawatir.
“Aku tidak tahu, dia tiba-tiba seperti ini. Cepat kamu periksa!”
“Dia tidak apa-apa. Sepertinya hanya terkejut,” ucap Celena.
“Kamu yakin?” desak Adrian membuat Celena mengangguk cepat.
Dalam beberapa menit, Naomi sedikit membaik. Sebab Adrian terus memeluk dan memberinya pijatan lembut.
“Kita pulang saja?” tawar Adrian setelah melihat pucat di wajah Naomi sedikit berkurang.
“Iya, aku mau pulang saja!” Suara Naomi masih terdengar gugup. Meskipun tak seburuk tadi.
“Bagaimana mungkin Kak Ken ada di sini? Apa dia mengenal Nona Erica?
Adrian membantunya berdiri. Tangannya melingkar erat di bahu sang istri demi menopang tubuhnya yang oleng. Baru beberapa langkah, sebagian lampu di ruangan itu sudah padam dan menyisakan pencahayaan temaram.
Dalam sekejap perhatian semua orang di dalam ruangan luas itu tertuju pada layar besar yang menampilkan foto Erica. Namun, detik berikutnya langsung berganti menjadi foto-foto Naomi yang sedang duduk di hadapan Madam Leova di sebuah klub malam.
“Apa kabar, Naomi Claire?”
Suara tak asing itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu betul pemilik suara yang sedang memanggil dari balik punggungnya. Ya, itu suara bekas kekasihnya, Haylea.
Haylea bertepuk tangan sambil menerbitkan smirk. Berjalan dengan angkuh sedikit mendekat.
Lampu kembali menyala terang. Perhatian semua orang teralihkan kepada Haylea. Wanita cantik bak model itu berbicara dengan penuh percaya diri.
“Aku tidak tahu bagaimana caramu merayu Adrian sampai mau menikahimu.” Haylea menatap Naomi penuh kebencian. “Adrian, aku tidak percaya kamu meninggalkanku dan memilih wanita seperti dia. Apa kamu tahu wanita macam apa yang kamu nikahi itu?”
Adrian mendekap Naomi semakin erat.
“Aku rasa foto-foto itu sudah cukup untuk menjelaskan siapa wanita itu. Naomi Claire adalah bekas pelayanku. Bukan hanya itu, dia seorang wanita penghibur yang pernah bekerja untuk Madam Leova. Aku yakin kamu dan semua orang di ruangan ini tahu siapa Madam Leova.”
***