
Semua orang sedang menyambut pesta ulang Erica. sebuah pesta mewah yang digelar di sebuah hotel mewah dan digadang-gadang menelan banyak biaya.
Setiap tahun ibu memang menghadiahkan khusus untuk keponakan kesayangannya itu. Erica sangat beruntung karena dapat menikmati semua fasilitas mewah dari keluarga Marx sejak kecil.
Sekarang wanita itu sedang dirias oleh make up profesional. Tubuh langsingnya sudah terbalut gaun elegan nan indah. Sebuah mahkota bertakhta di atas kepalanya.
“Wah, kamu terlihat seperti seorang putri, Erica,” puji ibu yang juga sedang dirias di sebelah Erica.
Erica menatap pantulan dirinya melalui cermin. Bibirnya tersenyum bangga dan penuh percaya diri. “Tapi apa gunanya cantik, Bu. Adrian sama sekali tidak melirikku.”
“Jangan khawatir. Setelah dia berpisah dengan wanita kampungan itu kamu yang akan berada di sisi Adrian.”
Erica menghembuskan napas kasar. “Apa Ibu yakin Adrian akan melepas Naomi?”
Ibu menerbitkan senyum demi menghibur Erica yang mendadak murung. “Kamu lihat sendiri kan, Haylea saja yang berpacaran dengan Adrian selama bertahun-tahun bisa berpisah, apa lagi cuma Naomi yang baru mengenalnya.”
“Aku tidak yakin, Bu.” Mulut manis itu memang selalu mampu membuat ibu luluh. Lihat saja, ibu sedang mengusap bahunya untuk memberi semangat.
“Tenang saja. Ibu yakin tidak lama lagi Adrian akan sadar siapa yang benar-benar layak berada di sisinya.”
Seulas senyum terbit di sudut bibir Erica. Ia sudah menyukai Adrian sejak usia remaja. Namun tak pernah diungkapkan kepada siapapun sampai Adrian berpacaran dengan Haylea, yang merupakan teman Erica sendiri. Ia pun meradang setiap kali melihat mereka berkencan.
Hingga akhirnya, rasa sakit itu tak tertahan lagi. Erica berhasil menunjukkan kepada Adrian wanita murahan macam apa Haylea dengan cara paling halus. Namun, di luar rencana, perpisahan itu malah membawa Adrian pada pertemuan dengan Naomi.
“Kartu Naomi sudah berada dalam genggamanku. Sekarang tinggal membukanya dan menunjukkan pada semua orang.”
Erica meraih ponsel dan mengetikkan sebuah pesan.
"Bersiaplah! Pertunjukan akan dimulai."
.
.
Di belahan Bumi lainnya ....
Sudah beberapa kali Adrian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Duduk di sofa empuk sambil sesekali melirik pintu sebuah ruangan yang masih tertutup rapat. Sejak tadi Bruno juga berdiri di belakangnya dengan sabar.
“Menurutmu apa itu perlu?”
“Tentu saja. Supaya Nona Naomi tidak berpikir macam-macam tentang Anda.”
Punggung Adrian bersandar di kursi. “Memangnya kamu tahu apa soal yang dipikirkan Naomi tentangku.”
"Nona kan sering mengatakannya. Apa Anda tidak tahu?"
"Berkata apa?"
“Kata Nona Naomi Anda adalah orang yang arogan, pemaksa, diktator kejam dan tua bangka. Selain itu—” Ucapan Bruno terpotong setelah menyadari tatapan tajam yang mengarah padanya.
“Dan bagaimana menurut pendapatmu? Apa itu benar?”
Bruno meraba tengkuknya yang terasa meremang. Ditambah suasana sekitar yang mulai mencekam. “Kalau menurut kacamata Nona Naomi ... itu benar.”
“Aku tidak sedang menanyakan kacamata Naomi. Aku menanyakan dari sudut pandangmu.”
Bruno menggaruk kepala. “Hehe ... sepertinya memang benar.”
Adrian menatap Bruno dengan tajam. Baru saja mulutnya akan memaki, namun seketika perhatiannya tertuju pada satu arah.
Pintu terbuka disusul dengan kemunculan Naomi dari sana. Adrian terpaku memandangi Naomi yang tampak jauh berbeda. Ia pasti tidak akan percaya bahwa itu Naomi, jika tidak mengenali bentuk tubuhnya yang mungil.
Gaun indah berwarna nude itu semakin memancarkan aura cantiknya. Rambut yang biasanya bergelombang kini terlihat lurus. Satu lagi, ia tampak lebih manis tanpa kacamata tebal.
Dan sepertinya, bukan Adrian saja yang terpukau dengan tampilan Naomi. Bruno pun belum mampu mengedipkan matanya. Bahkan mulutnya sekarang terbuka lebar.
Adrian menatap dengan kilatan penuh rasa cemburu. Tajam seolah mampu mencabik-cabik tubuh Bruno. Dengan cepat tangannya terangkat demi menutupi pandangan pria itu.
“Tatapan seperti ini yang aku tidak suka kalau Naomi berdandan.”
.
.