My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 89 : Di mana Naomi?


“Aku senang sekali kamu masih mengingatku.” 


“Tentu saja. Tapi aku sedang sangat sibuk sekarang. Kita bisa bicara di lain waktu.” 


“Oh, sayang sekali kalau begitu. Padahal aku mau membicarakan sesuatu yang serius denganmu.” 


“Maaf, Erica.” 


Baru saja Adrian akan mengakhiri panggilan, ketika samar-samar mendengar suara isak tangis. Dahinya mengerut dalam, mencoba menajamkan pendengaran. Tangisan itu pun terdengar semakin jelas, hingga akhirnya Adrian mampu mengenali. 


“Naomi? Itu suara Naomi!” Adrian dapat memastikan setelah mendengar suara terbatuk-batuk. “Di mana istriku?” tanyanya geram. 


Bukannya segera menjawab, Erica malah terkekeh. Sikap pura-pura tak berdosa yang semakin menyulut amarah Adrian. 


“Istrimu? Ya ampun, kamu membuatku sedikit tersinggung. Kamu bahkan tidak menanyakan kabarku lebih dulu.” 


“Aku tidak perlu berbasa-basi dengan orang sepertimu. Katakan ke mana kamu membawa istriku!” 


“Tenanglah, Sayang. Aku belum membunuhnya,” ujar Erica santai. Masih dengan tawa kecil di bibirnya. 


Wajah Adrian menegang. Ia baru sadar seberbahaya apa wanita yang sedang menghubunginya itu. Bersikap keras sama saja dengan membahayakan Naomi. 


“Apa yang kamu inginkan?” 


“Akhirnya kamu menanyakan itu. Apa kamu mau bicara dengannya? Dia sedang menunggumu untuk diselamatkan.” 


Jantung Adrian seperti akan berhenti berdetak saat mendengar Naomi mendesis. Ia kesakitan, dan Adrian bisa menebak dari suaranya. Pikirannya yang kalut sedang membayangkan apa yang dilakukan Erica terhadap Naomi. 


Menjambak rambut kah atau memukul tubuhnya dengan sesuatu? 


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Adrian benar-benar ketakutan. Bahkan lebih dibanding ketika Naomi menghilang selama berbulan-bulan.  


“Tolong Erica ... akan kuberikan apapun yang kamu inginkan. Tapi tolong jangan sakiti Naomi.” 


“Kalau aku meminta seluruh hartamu, apa kamu akan berikan?” 


“Apapun itu!” sahut Adrian cepat. “Akan kuberikan semua tanpa sisa.” 


“Apa wanita ini seberharga itu di matamu sampai kamu rela menukarnya dengan apapun?” 


Mata Adrian terpejam ketika mendengar Naomi mendesis untuk kesekian kali. “Apa yang bisa kuberikan supaya kamu tidak menyakitinya? Aku mohon.” 


“Kenapa kamu jadi setakut ini? Padahal aku baru menarik rambutnya saja, belum yang lain.” 


“Ayo Naomi ... bicaralah dengan suamimu. Bukankah sejak semalam kamu memohon dilepas hanya untuk bisa pulang ke rumah suamimu?” 


Adrian semakin kalut ketika suara Naomi terasa lebih dekat ke telinganya. 


“Naomi ... Sayang ...,” panggil Adrian. Namun, yang ia dengar hanya suara sesegukan. 


“Ayo bicara, panggil suamimu kemari!” Erica membentak keras. 


“Aku mau pulang, tolong jemput aku.” Suara Naomi yang terdengar gemetar, lemah tak bertenaga  dan bercampur suara sesegukan membuat Adrian melelehkan air mata. 


“Sayang ... tunggu sebentar lagi, aku akan ke sana menjemputmu. Jangan takut.” 


Erica tertawa pelan.


“Aku sangat terharu mendengar pembicaraan kalian. Romantis sekali. Bagaimana Adrian, kamu mau menyelamatkannya?” ujar Erica. Lalu, beberapa detik kemudian ....


“Argh!” 


Adrian seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir saat mendengar erangan Naomi. Ia seperti akan gila sekarang. Erica benar-benar berhasil mengikis kesabarannya. 


“Kubunuh kamu dengan tanganku sendiri kalau Naomi terluka sedikit saja!” teriak Adrian penuh amarah. 


“Apa kamu sedang mengancamku?” 


Menarik napas dalam, Adrian mencoba mengurai amarah yang memuncak. Tak ingin sampai bertindak bodoh yang hanya akan membuat Naomi dalam bahaya. Akal sehatnya menuntun untuk sedikit lebih bersabar. 


“Maafkan aku, kamu di mana sekarang?” Adrian mulai melunak. 


“Aku akan beritahu, tapi kamu harus datang sendiri. Kalau kamu berani datang bersama pengawal atau polisi, akan kupastikan kamu akan menangisi mayat istri kecilmu ini.” Erica menjeda ucapannya dengan hela napas. “Oh tidak, kamu akan menangisi tiga nyawa sekaligus. Naomi dan bayi dalam kandungannya. Mengerti, kan?” 


“Aku mengerti, aku akan datang sendiri. Tapi tolong jangan sakiti Naomi lagi.” 


“Berhenti memohon untuknya, Adrian! Aku benci mendengarnya!” 


Terdengar suara seperti benda membentur sesuatu, disusul dengan jeritan Naomi. 


Adrian terduduk lemas. Keringat mulai membasahi tubuhnya. 


*****