My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Ciuman Pertama...


Acara pertama pun sudah selesai, semua saling berpelukan dengan teman-teman. Lalu berpoto bersama dan memberikan kenang-kenangan seperti hadiah, karena memang tidak persiapan jadi apa saja yang di bawa bertukar hadiah.


Ada yang memberikan bros mahalnya, dan jepit rambut yang udah di incer sejak lama untuk penampilan saat ini harus di berikan menjadi kenang-kenangan. Lalu ada yang tidak membawa apa-apa jadi di tukar dengan uang yang dia bawa.


"Gue bakal laminating uang lo, thanks yaa..." Ucap siswi yang menerima kenang-kenangan uang.


"Hahah.. Apa sih lo, dasar.."


Karena memang tidak ada dalam daftar acara tukar hadiah, al hasil mereka memberikan seadanya. Namun itulah tujuan ketua panitia mendadak memberikan intruksi menukar hadiah. Hal sesederhana menjadi hal luar biasa yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Memang jelas, perpisahan kali ini sangat berbeda dengan taun sebelum dan sebelumnya. Kali ini sangat bermakna dan sangat menyentuh, memberikan kenangan yang tidak terlupakan sampai kapan pun.


"Makasihh hadiahnya.."


"Ahhh.. Thanks ini berarti buat gue.. "


"Gue bakal simpen hadiah dari lo, dan ini buat lo.."


"Karena emang gue gak bawa apa-apa jadi gue kasih jam gue buat lo.."


Banyak lagi kata-kata terimakasih yang terdengar di aula ini dengan isakan tangis, lagi lagi nangis. Hari ini banjit air mata sedih sekaligus bahagia.


Semuanya keluar dari aula, dan para wali murid sudah mulai meninggalkan lingkungan sekolah. Para guru juga ada yang masih di sekolah ada juga yang memilih pulang.


Para murid yang menunggu acara puncak ini langsung berganti kostum mereka dengan piama, Hana diseret Farzan keruangannya lalu pria itu mengunci pintunya.


"Mas.." Pekik Hana karena kesal Farzan menarik tangannya sangat kuat.


Pria itu langsung memeluk Hana sangat erat, "Dari tadi aku liat kamu nangis terus, aku khawatir sayang.." Wajah Farzan bersembunyi di ceruk leher Hana yang terhalang hijab.


"A-aku gak papa.." Jawab Hana dengan jantung yang berdegup kencang. "M-mas sesak.." Farzan langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf sayang.." Ucap Farzan, kedua tangannya menangkup pipi kanan dan kiri Hana, lalu memandang kornea coklat Hana yang selalu meneduhkan hatinya.


Mau satu juta kali pun Farzan menyatakan rasa cintanya pada wanita yang sedang mengandung anaknya yang berdiri tepat dihadapannya pun tidak akan cukup. Farzan terus merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada wanita ini.


"M-mas?" Hana merasa gugup karena di tatap seintens ini.


"Hmm.. Kenapa sayang?" Suara berat Farzan membuat Hana merinding.


Cup..


Farzan mencium bibir Hana, menyesap bagian atas dan bawah bergantian. Awalnya Hana syok dan membulatkan matanya, tapi ini Farzan suaminya, Hana menutup matanya lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Farzan membiarkan Farzan bermain dengan bibirnya.


Farzan menuntun agar Hana berjalan mundur, lalu Farzan berbalik dan melepaskan ciumannya. Farzan duduk di sofa ruangannya dan menyuruh Hana duduk di pangkuannya.


"B-berat loh.." Ucap Hana dengan nafas yang menderu akibat bibir Farzan.


"Gak papa.. Sini sayang," Hana menurut dan duduk di pangkuan Farzan. Farzan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Hana, memberikan permainan lembut namun membuat kesan ketagihan bagi Hana.


Masih ada waktu beberapa menit lagi untuk ke acara puncaknya, jadi Farzan manfaatkan untuk bermesraan bersama istri tercinta.


"Mash.." Hana memanggil Farzan sambil mendesah, karena tangan Farzan berkeliaran di punggungnya yang sudah terbuka karena Farzan menurunkan resletingnya.


"Gak papa sayang sekalian ganti baju.."


"Tapi-


"Ssttt.. Sebentar saja, aku janji gak lebih dari ini.." Farzan memotong ucapan Hana lalu kembali bermain dengan bibirnya.


Bibir cerry yang selalu menjadi candunya, sudah beberapa hari ini Farzan tidak merasakan bibir manis ini karena hormon Hana yang selalu naik turun kadang mood kadang engga. Dan membuatnya sulit untuk menyentuh Hana.


Tangan satu Farzan membuka dress Hana bagian atas, Farzan juga dengan terburu-buru melepaskan jasnya dan melemparnya ke samping.


"Hhmmppp.." Hana ingin mendesah tapi terhalang bibir Farzan, tangan Farzan benar-benar membuatnya gila karena menyentuh asetnya dengan lembut dan itu membuatnya sukses ingin lebih.


Tentu saja tidak mungkin Hana meminta disini, ini sekolah bukan kamarnya.


Nafas mereka terengah saat Farzan melepaskan bibirnya, ibu jari Farzan terarah pada sudut bibirnya untuk mengelap saliva yang meleber kemana-mana.


"Cantik.." Bisik Farzan lalu memeluk Hana, membiarkan sang istri mengatur nafasnya.


Wajah Hana terasa panas, dirinya yakin saat ini wajahnya sangat merah. Hana menyembunyikan wajahnya diceruk leher Farzan dan menikmati usapan lembut di punggungnya.


Farzan pun mengatur nafas serta nafsunya karena saat ini adiknya sedang tegang, dan Farzan yakin jika memintanya saat ini Hana pasti tidak mau lalu badmoodnya bakal muncul. Hal yang paling Farzan hindari.


"Udah baikan?" Tanya Farzan yang mendengar nafas Hana sudah normal.


Hana menganggukkan kepalanya dalam pelukan Farzan, "Iya Mas."


"Mau ganto baju sekarang?" Ya, pasalnya mereka sudah hampir tiga puluh menit diruangan ini, tempat Farzan dulu yang sekarang masih terlihat rapih di mata Hana sama seperti terakhir kali dia keruangan ini menemui Farzan.


"Iya, kita ganti sekarang aja," Hana melepaskan pelukannya dan terpampang sangat jelas asetnya di mata Farzan, membuat pria itu memerah.


Aneh, harusnya Hana yang memerah tapi ini Farzan.


"B-bajunya masih di paperbag.." Ucap Farzan menunjukan paperbag yang ada di sofa sebelah dengan wajah berpaling ke arah berlawanan.


Hana terkekeh melihat suaminya yang begini, tadi aja tangannya nakal sekali. Lalu sekarang lihat lah..


Sedangkan di tempat lain Bunga dan Bima saling bergantian untuk berganti baju di dalam mobil Bima, dan untung saja kaca mobilnya tidak tembus pandang dari luar.


Setelah selesai mereka berdua memilik duduk di dalam mobil sambil acara kedua dimulai, entah kenapa kami semua disuruh menunggu beberapa menit sambil berganti pakaian oleh panitia.


Mereka berdua juga masih tidak terbayangkan dengan tema saat ini, apa yang akan di adakan oleh para panitia dengan kostum piama ini.


"Kak gak papa pake baju gituan? Kalo risih ganti lagi aja, gak papa kok.." Ucap Bunga yang melihat Bima seolah tidak nyaman.


"Ah, bukan begitu.. Hanya saja ini pertama kalinya saya memakai baju piama di depan orang, dan termasuk kamu.." Jawab Bima malu-malu, terbukti karena telinganya memerah.


Terkadang Bunga selalu heran, kenapa para cowok selalu merah di bagian telinga?


Hal itu membuatnya ingin menggigit telinga Bima.


"Benarkah?" Bunga sengaja terus memandang Bima dari samping, pria itu terlihat ingin masuk lubang semut saja. "Hahahah.." Bunga tertawa puas melihat sang pacar seperti ini.


Jika di tanya kenapa Bunga sendiri tidak malu? Karena cewek ini kalo setiap Bima mengajak bertemu malam hari untuk sekedar jajan, Bunga selalu memakai baju piama. Haha..


Dan di tempat yang sama namum berbeda mobil, Caca dan Vino mereka saling pandang dengam jarak dekat. Sudah sepuluh menit berlalu mereka melakukan ciuman pertama mereka di dalam mobil Caca.


Caca tiba-tiba menarik Vino ke dalam mobilnya untuk berganti pakaian, namun entah awalnya seperti apa wajah mereka sangat dekat dan entah siapa juga yang memulai ciuman itu.


Deru nafas keduanya sangat jelas terasa, Vino mengusap lembut bibir bawah Caca. "Terimakasih.. Ini yang pertama buat aku.."


Wajah Caca memerah dan terasa panas, "S-ama, I-ini juga yang p-pertama buat aku.." Jawab Caca dengan sangat gugup bahkan memandang bola mata Vino saja sudah tidak mampu.


"Benarkah? Aku orang yang pertama juga?" Tanya Vino yang di angguki oleh Caca. "Terimakasih.." Vino mengarik dagu Caca agar kembali menatapnya.


Vino mengembangkan senyumannya, lalu mulai kembali mendekatkan wajahnya dengan Caca. Kini bisa Vino rasakan bibir manis yang baru saja dia rasakan, akan menjadi candunya setiap saat.


Vino bergerak dengan lembut, menyapa bibir atas dan bibir bawah Caca, Caca juga mengalungkan kedua tangannya di leher Vino dan menikmati permainan Vino yang membuatnya gila.


Caca pun membalas didalam sana meski terasa kaku, dan tidak bisa mengimbangi pergerakan Vino. Tapi tidak masalah untuk Vino, pria itu terus menyesap dan mengabsen setiap sudut mulut Caca.


Ini benar-benar membuatku gila...


.


.


.


TBC.