My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Memberitahu..


"Langsung ke rumah mamah ya? Bunda juga telpon aja ajak ke rumah mamah juga," Ucap Farzan, mereka sedang berada di perjalanan menuju kediaman Mahardika.


"Iya aku telpon Bunda dulu," Hana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu menelpon Bunda.


Sesuai yang di katakan Farzan, untung saja Bunda dan Ayah gak sibuk jadi mereka bisa ke rumah mamah sekarang.


Hana jadi deg-degan saat ini, entahlah rasanya campur aduk. Masih mending es campur bisa dimakan seger juga lagi.


Di perjalanan mereka sedikit terhambat karena ada kecelakaan kecil yang membuat lalu lintas menjadi macet, "Mas kalo di jalan hati-hati ya," Sahut Hana yang melihat kendaraan yang kecelakaan tadi.


Tidak terlalu parah, namun tetap harud berhati-hati dimana pun kita berada. Tidak ada yang tau jika kita waspada tapi yang lain lalai.


"Iya sayang, aku bakal hati-hati," Jawab Farzan mengusap pipi Hana yang mulai terlihat cuby.


Hampir tiga puluh menit dan akhirnya mereka pun tiba di kediaman Mahardika, pintu gerbang selalu terbuka otomatis karena sudah mengenali mobil milik Farzan.


Hana selalu takjub jika berkunjung ke rumah mertuanya ini meskipun sudah sering, mobil mewah putih ini berhenti tepat di depan lalu beberapa penjaga berseragam hitam menghampiri.


"Selamat sore tuan muda dan nona," Sapa mereka semua sambil membungkuk.


"Iya, selamat sore juga," Balas sapa dari Hana dengan ceria, berbeda dengan Farzan yang selalu acuh namun tetap menganggukan kepalanya.


"Mamah ada dirumah?" Tanya Farzan sambil menyerahkan konci mobilnya.


"Nyonya ada di ruang tamu tuan," Jawab salah satu maid disana.


"Oh, oke." Farzan merangkul pinggang Hana, "Ayo sayang," Dan mengajaknya untuk masuk.


"Assalamualaikum," Ucap Hana dan Farzan bersamaan.


"Eh, Walaikumsalam," Jawab Dinda sedikit terkejut, "Kalian kok gak bilang mau kesini, tau gini mamah siapin makanan," Lanjutnya sambil menghampiri Hana dan Farzan yang juga mendekat ke arahnya.


"Mamah sehat?" Tanya Hana sambil menyalimi Hana dan cium pipi kiri kanan.


"Alhamdulillah mamah sehat kok, kamu sendiri gimana? baik-baik saja kan? Gak di nakalin Farzan kan?" Tanya balik Dinda yang membuat Farzan melotot.


"Haha, gak kok mah, aku baik-baik saja," Jawab Hana sambik terkekeh melihat Farzan yang selalu kena iseng mamahnya.


"Ya udah yuk duduk, nanti ada yang nyiapin minum sama camilan,"


Mereka semua duduk disofa ruang keluarga dan tak lama dua maid membawa minum dan beberapa camilan.


"Papah mana mah?" Tanya Farzan sambil mengambil tehnya.


Sudah menjadi kebiasaan jika Farzan berkunjung pasti selalu disediakan air teh, begitu juga dengan Hana. Karena teh di rumah ini berbeda rasanya dari yang biasa di minum.


"Papah bentar lagi pulang kok, kenapa?" Jawan Dinda yang duduk dengan Hana.


"Oh, iya nanti Bunda sama Ayah juga bakal kesini," Lanjut Farzan membuat kening Dinda mengerut.


"Ohh, iya udah lama juga mama gak ketemu Laras, tapi.. ini ada apa ya? kok kayanya ada sesuatu gitu deh, mamah curiga," Hana dan Farzan saling pandang membuat Dinda semakin dilanda penasaran.


Farzan mengalihkan pembicaraan mengenai bisnis yang di jalankan Dinda, untuk mengulur waktu sampai orang tua Hana dan papanya datang.


Mengobrol sambil meminum teh, Dinda jika sudah dialihkan dengan pembicaraan yang menurut beliau menarik pasti akan sulit dihentikan.


Dan Dinda jadi melupakan apa yang sedari awal membuatnya penasaran.


Hingga Bram pun pulang, "Assalamualaikum, eh, kalian?" Bram terkejut karena melihat ada Hana dan Farzan.


"Walaikumsalam," Jawab mereka, Hana dan Farzan menyalimi Bram.


Hana berpindah duduk menjadi disebelah Farzan karena ada Bram yang pasti duduk di sebelah Dinda.


"Ahh, ini-


"Assalamualaikum," Sahut Laras dan Darma bersamaan membuat Farzan berhenti bicara.


"Ah, Darma," Ucap Bram menyadari kedatangan besannya.


"Hai, jeng," Sapa Dinda.


Mereka saling menyapa satu sama lain, Farzan memegang tangan Hana yang terlihat gugup dan tersenyum.


"Emm, sebenarnya ada apa ya ini?" Tanya Laras yang sudah duduk.


"Loh, saya kira kalian memang mau main ke sini," Sahut Dinda, kini semuanya memasang wajah serius dan saling menatap satu sama lain.


Sampai tatapan itu berhenti pada satu pasangan yang sedari tadi diam.


"Sayang.. Sebenarnya ada apa?" Tanya Laras dengan hati-hati.


Pertanyaan Laras membuat yang lain menjadi cemas dan takut, jika sesuatu yang tidak pernah di inginkan terjadi. Atau ada sesuatu yang lain, yang berujung menyedihkan.


Hana dan Farzan malah terdiam beberapa saat, hal ini membuat mereka semakin panik dan penasaran.


"Ekhemm," Farzan berdehem untuk berancang-ancang lalu memandang Hana. "Semuanya sudah berkumpul sekarang," Ucap Farzan.


Terlihat Farzan tengah memasukan tangannya kedalam saku jaket panjangnya, "Jadi begini, kami sengaja membuat semuanya berkumpul karena~ kami akan memberitahukan jika..


"Kalian akan jadi kakek dan nenek..." Hana melanjutkan perkataan Farzan, dan pria itu menunjukan foto USG tadi.


Para orang tua terdiam dan bengong.


"T-tunggu, makusdnya.. ini?" Tanya Bram terbata, karena masih syok dan tidak percaya.


Hana dan Farzan mengangguk.


"Ahh, sayang.." Dinda dan Laras langsung berlari memeluk Hana, "Alhamdulillah Ya Alloh," Bahkan mereka memberikan serangan ciuman pada Hana.


Lalu Farzan memperlihatkan foto USGnya pada mereka, dan mereka baru benar-benar percaya.


"I-ini.. Dua titik?" Tanya Laras yang hampir meneteskan air matanya.


"Iya bunda," Jawab Hana yang juga ikut meneteskan airmatanya.


Air mata bahagia, melihat orang-orang disekitarnya bahagia.


Bram dan Darma pun menghampiri Hana lalu memberikan kecupan di kening anak dan menantunya itu.


"Selamat sayang," Ucap Bram dan juga Darma.


Hana terharu sampai tidak bisa berhenti menangis, padahal ini momen bahagia yang selalu dinantikan.


Mereka bertanya beberapa hal tentang kehamilan Hana, dan tidak menyangka akan mendapatkam cucu secepat ini. Mereka kira Hana akan menunda kehamilannya karena masih sekolah.


Dan mereka juga tidak terlalu berharap, mereka menjadi merasa bersalah namun merasa bersyukur juga. Semuanya selalu ada pembelajaran yang bisa di dapat dari apa yang sudah terjadi.


Mulai saat itu semuanya menjadi memperhatikan Hana ari hal-hal kecil, apapun itu.


.


.


.