
Hari mulai menjelang sore, Hana dan Farzan sedang bersiap-siap. Hana mengenakan dress yang sedikit ngebalon karena untuk menghalangi perutnya mulai kelihatan.
Farzan juga sedang mengancingkan kemejanya lalu memakaikan jasnya juga. Farzan menghampiri Hana dan membantu menaikan resleting di bagian punggung istrinya itu.
Cup..
"Mash.." Hana kaget juga geli akibat serangan Farzan tiba-tiba.
"Kamu wangi sayang," Ucap Farzan setelah memastikan resletingnya sudah di atas, lalu kembali menurunkan hijab yang dikenakan Hana.
"Wangi, kan emang udah mandi," Jawab Hana lalu berjalan keepan cermin besar yang ada di lemarinya.
"Udah cantik sayang," Farzan memeluk Hana dari belakang, rasanya tidak rela berbagi kecantikan Hana ini pada banyak orang.
Hana berbalik dan melingkarkan kedua tangannya di leher Farzan, "Mas, juga ganteng,"
"Aku tau ko," Jawab Farzan dengan cepat dan membuat Hana memutar bola matanya.
Hana memukul pelan dada bidang Farzan yang malah dibalas dengan kekehan, Farzan mengambil paper bag dan Hana memakaikan sandal yang tidak terlalu tinggi.
"Udah siap? Yuk berangkat.." Tanya Farzan yang dapat anggukan dari Hana, lalu mengulurkan tangannya membantu Hana berjalan.
Sandal hak dengan tinggi 2cm ini yang Hana pilih setelah sebelumnya banyak cekcok dengan Farzan perihal ketinggian hak sandal.
"Pelan-pelan aja jalannya," Dengan telaten dan sabar Farzan menggengam tangan Hana untuk menuruni anak tangga satu persatu.
"Iya Mas," Jawab Hana dengan satu tangan menaikan sedikit dressnya agar tidak terinjak.
"Mobilnya sudah disiapkan tuan," Tiba-tiba Pak Roni ada di ujung tangga sambil memegang kunci mobil milik Farzan.
Hana mengerutkan keningnya karena, sejak kapan Pak Roni ada disana?
"Iya makasih," Jawab Farzan dan Hana hanya mengangguk.
Farzan membuka pintu mobil untuk Hana setelah mereka diluar, lalu kembali menutupnya. Farzan juga berjalan memutar untuk masuk kedalam mobik dan duduk di kursi kemudi.
Farzan menyimpan paperbag yang tadi dia bawa, didalam sama berisi baju piama milik Hana dan juga dirinya serta sandal rumah miliknya dan milik Hana.
Farzan masih merasa tidak mengerti dengan tema yang di adakan acara taun ini.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah mereka berdua, Hana sibuk membalas pesan teman-temannya yang bertanya posisi Hana sudah ada dimana saat ini, Farzan yang sedikit mengintip room chat itu tidak berniat untuk bertanya.
Setelah lima belas menit mereka pun tiba di sekolah, mobil Farzan di arahkan ke khusus tamu undangan yang bertempat di parkiran khusus guru saat dirinya masih mengajar, sedangkan bagi para murid dan wali mereka di arahkan ke parkiran siswa sebelah kiri lapangan.
"Kalo capek bilang ya sayang, kamu panggil aku.." Ucap Farzan merapihkan hijab Hana bagian depan.
Wajah Hana terasa panas, hal-hal kecil dari Farzan sering membuatnya melting begini. Hana menganggukkan kepalanya lalu melepas sabuk pengamannya.
"Temen kamu udah pada sampe?" Tanya Farzan memastikan jika Hana tidak sendirian ke dalam sana, karena Farzan pasti harus menemui guru-guru lain dan kepala sekolah untuk memberi salam.
"Ada Bunga sama Kak Bima, katanya mereka udah sampe lagi di parkiran siswa," Jawab Hana sambil menunjukan room chatnya bersama Bunga.
"Ya udah, aku anterin sampe ketemu Bunga ya," Ucap Farzan yang juga melepas sabuk pengamannya.
"Gak usah, katanya mereka yang mau kesini," Hana menahan tangan Farzan karena pria itu akan membuka pintu mobilnya.
"Ohh, iya udah kalo gitu.. Pokoknya kalo ada apa-apa langsung hubungi aku, aku ada duduk di barisan guru kok, setelah selesai aku langsung samperin kamu.." Farzan mengecup sebentar kening Hana dan mencuri ciuman di bibir Hana.
"Ihh, kan bibir nya jadi pink gini," Hana memgambil dua helai tisu dan mengelap jejak lipmattenya di bibir Farzan.
Farzan terkekeh dan menahan tangan Hana, "Gak papa biar mereka tau kalo aku udah ada yang punya." Jawab Farzan yang kembali mengecup kening Hana. "Bunga udah di luar tuh, kayanya nyariin kamu.." Lanjut Farzan menyadari Bunga yang celingukan mencari mobilnya, mereka tidak tau jika mobil Farzan sudah ganti.
Gadis itu keluar dari dalam mobil dan langsung dapat teriakan dari Bunga, "HANA...." Astaga, Hana merasa malu karena ulah temannya ini.
"Gak usah teriak ihhh.." Kesal Hana pada Bunga yang hanya menyengir.
"Cantik banget sih lo," Gemas Bunga mencubit pipi Hana yang mendapat pelototan dari Farzan yang melihatnya dari jauh.
Bunga menunjukkan dua jarinya yang berbentuk V pada Farzan, lalu pria itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Masih serem aja laki lo,"Bisik Bunga agar tidak terdengar oleh Bima.
"Masuk yuk, Caca sama Vino udah didalam," Lanjut Bunga menggandeng tangan Hana.
"Dika mana?" Tanya Hana.
"Belum kasih kabar lagi tadi di chat," Jawab Bunga yang di angguki Hana.
Mereka pun masuk kedalam aula yang sudah di hias sedemikian rupa oleh anggota osis dan di bantu oleh pekerja dekor yang disewa. Hana kagum dengan kerja keras adik tingkatnya ini kerjakan, lalu matanya menangkap sosok Caca yang sedang melambaikan tangannya.
Cewek itu terlihat anggun sekali memakai dress di bawah lutut berwarna baby pink, Hana memeluk Caca setelah dirinya duduk di kursi samping Caca.
"Cantik banget sih.." Ucap mereka berdua barengan dan membuatnya langsung terkekeh.
"Tes.. Tes.. Satu dua tiga.. Oke, kedengeran kan? Baiklah Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.." Ucap Mc di depan sana.
"Walaikumsalam Warahmatullahi wabarakatu.." Jawab semua orang yang ada didalam aula ini.
Hana dan Caca yang tadinya sedang berbincang kini langsung fokus kedepan setelah mendengar salam dari MC yang tentu saja ketua osis lah orangnya.
"Saya ketua osis disini yang akan menjadi Mc acara ini sampai selesai dan memastikan semuanya berjalan dengan sesuai yang saya dan rekan-rekan saya rencanakan.. Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada Bapak pimpinan yayasan yang sudah meluangkan waktu untuk hadir saat ini.." Bapak pimpinan yang juga kakek buyut Farzan berdiri dan melambaikan tangannya lalu membungkukan badan dan kembali duduk.
Untuk pertama kalinya Hana melihat langsung kakek buyut Farzan, karena saat acara pernikahan beliau tidak bisa hadir, disebabkan ada urusan penting dengan perusahaannya yang berada di luar negeri.
Sudah berumur dan berrambut putih namun stamina bekerjanya tetap kuat, Hana selalu kagum pade kake buyut Farzan.
"Lalu yang kedua kepada Bapak kepala sekolah terimakasih banyak.. Lalu para guru-guru yang saya hormati juga terimakasih sudah meluangkan waktu kalian.. Untuk para tamu undangan dan para wali murid yang saya hormati juga, langsung saja ke acara pertama yaitu sambutan dari kepala pimpinan di persilahkan untuk meju kedepan.."
Sambutan-sambutan dari orang-orang penting di sekolah mulai memberikan nasehat mereka untuk murid yang hari ini lepas sebagai siswa dan siswi, juga untuk para murid yang masih melanjutkan sekolahnya. Sampai acra kedua pun berlanju dengan lancar, lalu selanjutnya perwakilan dari siswa dan siswi yang menerima kelukusan hari ini adalah Adelia Anastasia dan Prabu Dirgantara. Mereka memang terkenal sebagai most wanted di sekolah, maka tak aneh jika mereka terpilih menjadi queen and king taun ini.
Setelah menerima selendang kelulusan yang bersemat di badannya, semua murid bersorak ria karena mereka sudah resmi lulus. Hana, Caca dan Bunga saling berpelukan dengan tangis haru mereka, merasakan bahagia yang tidak bisa di tukar dengan apapun.
"Gue masih gak nyangka udah lulus aja," Ucap Bunga sambil terisak mengusap sudut matanya yang masih mengeluarkan air.
"Gak kerasa udah resmi aja kita lulus dari sini," Lanjut Hana yang bersandar di bahu Bunga.
"Iya bener, jadi gak bakal pake seragam putih abu-abu yang selalu dibanggain.." Sahut Caca yang juga sesegukan dalam pelukan Vino.
"Si Dika mana sih, kok gak keliatan tuh bocah," Tanya Vino yang menghiraukan tiga cewek disampingnya yang sedang banjir air mata.
"Gak tau, udah gue chat belum bales juga.." Jawab Bunga masih sesegukan, Bima yang berada disampingnya memberikan air minum untuknya, "Makasih Kak," Ucap Bunga yang di angguki Bima.
Bima tidak banyak bicara sedari tadi dan hanya memoerhatikan tingkah Bunga bersama temannya, Bima tidak akan menghalangi apapun di acara bahagia Bunga saat ini, dia hanya akan ada di belakang cewek itu dan siap siaga jika terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Oke, sedihnya sudah dulu.. Saya juga jadi mendadak cengeng begini.." Ucap Adit ketua osis taun ini, "Katanya sekarang ini ada tamu dari Kakak kelasku loh yang hampir tidak terduka bakal kasih kita kejutan.. Padahal orangnya cuek sama bodo amat tuh.." Kekehan Adit di akhir kalimatnya, "Kalian penasaran kan? Sama saya juga penasaran gimana kakak ini ngumpulin keberaniannya, heheh fis kak gue becanda doang," Ucap Adit menatap ke samping panggung yang terhalang oleh dekor. Sepertinya sedang berbicara pada si kakak itu,"Oke jangan lama-lama, kita langsung sambut aja ini dia kejutan buat kalian.." Ucap Adit dan suara musik pun terdengar.
Tiba-tiba lampu aula mati, lalu terdengan suara cowok yang sangat merdu tertangkap oleh indera pendengarannya.
Semua guru dan murid yang mengenali sosok cowok di atas panggung langsung membulatkan matanya dan membungkam mulutnya oleh tangan mereka saking terkejut dan tidak menyangka.
"DIKA.." Semua berteriak sama menyebut nama cowok yang berdiri di atas panggung sambil tersenyum sok manisnya dan melambaikan tangan.