
Setelah kejadian tadi yang membuat sekolah menjadi gempar, banyak pertanyaan untuk Farzan dan Hana sampai mereka membuat asumsi masing masing.
Salah satu guru disana langsung memberikan arahan agar semua murid tidak boleh berpikiran buruk dan mendo'akan semoga tidak terjadi sesuatu untuk Hana dan melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti.
Melisa yang masih disana menatap air kolam dan bekas Farzan yang memberikan nafas buatan untuk Hana benar benar kesal, sangat kesal.
"Kenapa harus dia.. Gue yang berjuang ngejar tuh cowok tapi apa..?? Apa yang gue barusan liat?? Gila.... " Melisa menjambak rambutnya sendiri.
"Lo sabar ya.. " Ucap Erika yang dijawab dengan dengusan saja.
Bit*h..
Melisa memelih pergi dari sana dan diikuti kedua temannya, hari yang dia kira akan mendapatkan perhatian dari Farzan karena penampilannya namun semua gagal karena Hana.
Liat saja.. Ini belum seberapa.. Gue bakal buat lo kapok..
Batin Melisa jahat.
Dan tanpa sepengetahuan semua seisi sekolah Bima datang menemui kepala sekolah untuk memberitahukan soal Farzan dan Hana, lalu memberikan bukti yang sangat kuat tentang Hana dan Farzan juga.
Farzan sudah menjaga jaga jika sesuatu terjadi pada Hana dan mengirim Bima ke sekolah.
Rumah Sakit Mahardika..
"Sayang.. " Panggil Farzan saat membuka pintu, wajah Hana terlihat pucat. "Maaf.. Aku minta maaf.. " Lirih Farzan pelan.
Setelah beberapa menit melihat kondisi Hana, lalu Hana sudah boleh di pindahkan keruang rawat, sekarang istri kecilnya yang berbaring disini, sedari tadi Farzan tidak pernah jauh dari Hana bahkan tangan mungil Hana selalu digenggamnya.
Hana diberikan obat tidur untuk dua jam kedepan agar menghilangkan syoknya, dan sekarang masih tersisa satu jam lagi. Teman teman Hana di suruh kembali ke sekolah berbarengan dengan Bima memakai mobil kantor kecuali Vino yang mengendarai motornya.
Caca memilih pulang naik mobil bersama Bunga dan Dika, ya Dika memilih ikut dengan Bima karena tidak mau panas panasan.
Emang lebay tuh Dika..
Kedua orangtuanya dan mertuanya pamit untuk pulang dan nanti malam akan kembali datang, "Kami pamit dulu ya.. Kamu jangan lupa makan.. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam.. Hati hati Mah.. Bun.. Pah.. Yah.. " Mereka semua mengangguk lalu keluar dari ruangan sang anak.
Pandangan Farzan kini kembali melihat wajah Hana, mata yang memiliki bulu mata yang lentik masih terpejam.
"Sayang.. Bangun, aku khawatir.. " Farzan menggengam erat tangan sang istri, "Maaf.. Maaf aku sedikit terlambat untuk menyelamatkan kamu.. " Farzan menelungkupkan kepalanya dilengan Hana.
Dadanya terasa sakit sekali, Farzan terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sang istri.
Farzan bangun karena merasakan pergerakan dari tangan Hana, "Sayang.. " Panggil Farzan lembut.
Hana dengan perlahan membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, ruangan serba putih dan berbau aroma obat Hana bisa menebak pasti ini rumah sakit.
Ada kelegaan dalam hatinya karena Hana selamat, lalu kedua manik matanya menangkap sosok Farzan yang melihatnya dengan wajahnya terlihat kacau.
"A-air.. " Ucap Hana serak.
"Sayang.. Mau minum? Tunggu sebentar.. "Dengan cepat Farzan mengambil air minum yang tadi orang tuanya belikan dan menyerahkan pada Hana.
"Sebentar sayang.. " Farzan membantu Hana untuk sedikit duduk agar mudah meminumnya.
"Makasih.. " Ucap Hana yang kembali berbaring.
Suara gadis itu benar benar serak Farzan bisa merasakan rasa perih di tenggorokan Hana.
"Sayang mau apa??" Tanya Farzan yang di jawab gelengan, "Ada yang sakit?" Hana kembali menggelengkan kepalanya," Maaf sayang.. Maaf aku terlambat.. Aku benar benar takut.. " Farzan menunduk dan menggengam tangan Hana lagi.
"Sayang jangan banyak bicara dulu.. Suara kamu takut ilang.. " Ucapan Farzan malah membuat Hana terkekeh meski tanpa suara. "Sayang kamu ketawain aku??" Tunjuknya pada diri sendiri.
Hana menggelengkan kepalanya namun tetap terkekeh, "Kamu ketawa sayang??" Tanya Farzan lagi, dan kali ini Hana mengangguk sambik tersenyum.
Farzan memeluk sang istri penuh sayang, "Sekali lagi aku minta maaf sayang.. Aku sayang sama kamu.. " Ucap Farzan.
Hana mengangguk dan mengusap rambut Farzan yang berantakan entah karena apa.
Tidak tau saja Hana seberapa panik dan prustasinya Farzan saat tadi.
"Permisi.. Bucinnya nanti aja, gue mau periksa istri lo.. " Suara Reza mengagetkan dua insan yang sedang berpelukan.
"Ketuk pintu dulu bisa kan??" Dengus Farzan.
"Udah.. Tapi gak dijawab.. Ya udah karena gue dokter ya masuk aja.. Ehh ada yang bucin ternyata.. Khkhkh.. " Jawab Reza sambil menahan kekehannya.
"Ck.. " Farzan berdecak kesal karena Reza mengganggunya.
"Maaf ya saya periksa dulu.. Tapi setau saya cowok itu gengsinya tinggi loh.. Kok bisa jadi sebucin ini sama kamu??" Lanjut Reza sambil memeriksa kondisi Hana sekarang.
"Hehe.. " Hana cuma bisa tersenyum mendengar perkataan dokter Reza.
"Oke kondisinya mulai membaik.. Banyak minum air hangat ya.. Jangan dibanyakin bucinnya.. " Penjelasan Reza dengan tambahan sindiran untuk Farzan sambil meliriknya juga.
Farzan tidak percaya jika sudah dihadapan Reza dirinya akan habis diledeknya. Farzan melotot dengan kedua tangannya melipat di dada.
"Lihatlah, Han.. Suamimu masih saja sok angkuh begitu.. " Reza pun mengikuti gaya Farzan saat ini.
"Sudahlah Kak.. Gak usah ganggu aku.. Sekarang Kakak balik kerja saja.. " Farzan menghampiri Reza lalu mendorong dokter itu untuk keluar.
Hana melihat hal itu hanya terkekeh saja, benar yang di katakan dokter Reza, Farzan benar berubah dan menunjukan sifat aslinya.
"Hahaha.. Baillah.. Baiklah.." Reza mengangkat kedua tangannya lalu membuka pintu ruangan Hana, "Jangan kasar dia masih sakit.. " Bisikan Reza membuat Farzan membulatkan matanya.
"Kak..!!" Reza langsung pergi dari sana agar tidak kena semburan Farzan.
Farzan dengan sengaja mengunci pintunya lalu kembali menghampiri Hana, "Sayang.. " Farzan percis seperti anak kecil berumur dua tahun yang mengadu pada ibunya.
Hana menutup mulutnya manahan tawa, "Jangan ketawain.. " Pria itu menelungkupkan wajahnya menempel dengan perut samping Hana.
Hana mengusap rambut acak acakan Farzan, Farzan pasti merasa malu saat ini.
"Aku sayang kamu.. " Lanjut Farzan memeiringkan wajahnya menatap sang istri.
Cup..
Cup..
Farzan mengecuk tangan Hana..
Rasa sayang Farzan ternyata begitu besar untuknya, Hana tidak menyangka akan di sayangi dan dicintai sepenuhnya oleh Farzan. Hana kira Farzan tidak mau berusaha dengannya, dan Hana kira Farzan akan mengabaikannya tapi, semua itu tidak terjadi. Farzan yang memulai mengajaknya untuk berusaha bersama.
Hana menjadi jatuh cinta lagi dan lagi pada Farzan.
Hana tersenyum senang melihat Farzan yang manja sekarang ini, "Sini naik.. " Tanpa ragu atau bertanya dulu pria ini langsung saja mematuhi perintah Hana dan berbaring disamping sang istri lalu memeluknya.
Sangat bukan Farzan sekali..