
Farzan mendapatkan pesan dari Bima bahwa hari ini akan ada rapat khusus lagi bersama Rudi tentang kemajuan penyelidikan dari anak buahnya.
Hari ini Farzan tidak ada jadwal mengajar di sekolah. Jadi pagi ini Farzan akan langsung ke kantor.
Farzan turun menuju dapur terlihat istri kecilnya sedang menata sarapan mereka di meja makan.
"Mas, Udah selesai?" Tanya Hana yang menyadari kehadiran Farzan.
Farzan mengangguk sambil menguncangkan di bagian lengan, "Langsung ke kantor ya?" Tanya Hana lagi.
"Iya ada meeting lagi.. Semoga gak pulang larut juga." Jawab Farzan lalu duduk di kursinya dan di ikuti Hana.
"Kamu di sekolah baik baik ya.. Kalo ada apa apa hubungi aku secepatnya." Hana mengangguk dengan petuah Farzan.
Mereka pun melanjutkan sarapannya dengan suasana pagi yang berbeda karena sikap Farzan yang memberikan perhatian lebih padanya.
Seperti saat bangun tidur tadi Farzan mengecup keningnya. Membuat Hana seakan kembali masuk kedalam mimpi. Farzan semakin hari semakin manis, Hana takut terkena diabetes jika seperti ini.
Sarapan mereka sudah selesai dan Hana kembali membereskan semuanya, sedangkan Farzan naik kembali ke kamarnya mengambil jas dan dasi yang sengaja di gantung asal di bahunya.
Farzan kembali menghampiri Hana, "Pasangin dong." Farzan berdiri di depan Hana dengan senyum menawannya.
Siapa saja yang melihat akan terlena dengan senyuman Farzan. Hana membalas senyuman Farzan dan membantu menyimpulkan dasinya setelah membungkukan sedikit tubuhnya.
"Terimakasih." Farzan mengecup kening Hana.
Jantung Hana berdebar lebih kencang, Hana yakin jika dirinya suda jatuh kedalam cinta Farzan.
"Sama sama." Jawab Hana lalu mengambil tas nya dan tas kerja Farzan.
Menyiapkan sepatu mereka dan bersiap untuk berangkat.
Lima belas menit sudah dan mereka sudah tiba di tempat biasa jika mengantar Hana sekolah, gadis itu masih belum berani untuk turun di depan gerbang karena terlalu mencolok.
"Hati hati ya.. Jangan lupa makan kalo sesibuk apapun." Farzan mengangguk dan mengusap kepala Hana.
"Kamu juga hati hati, kalo ada apa apa cepet hubungi aku ya!" Hana pun mengangguk dan memejamkan matanya saat wajah Farzan mendekat.
Cup.
Kecupan hangat dikeningnya membuat Hana larut dalam apa yang dirasakannya sekarang. Hana ingin mengatakan sejujurnya tapi, Hana masih malu untuk berbicara duluan.
Hana mencium punggung tangan Farzan menyaliminya, seperti kebiasaan Farzan pun mencium pucuk kepala Hana.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam sayang." Jawab Farzan yang membuat Hana melotot dengan yang di ucapkan Farzan.
"Udah nanti kamu kesiangan." Farzan dengan sengaja mendorong Hana agar gadis itu tidak mencecar pertanyaan padanya.
Farzan terkekeh melihat wajah Hana yang tidak terkontrol sangat menggemaskan. Setelah Hana keluar Farzan langsung menancapk gas.
Hana menghentakan kakinya dengan jantung yang berdebar, "Nyebelin banget sih.. Awas saja kalo sampe rumah nanti." Hana menggerutu memandang mobil yang menjauh.
Hana melangkahkan kakinya dengan hati yang dongkol, pandangannya hanya kebawah sampai tidak menyadari jika ada orang di depannya.
Dukk..
"Aw.. " Hana meringis memegang keningnya. "Vino?" Hana mendongak dan mendapati Vino disana. "Kenapa halangin jalan sih." Ucap Hana kesal.
"Lohh kok marah ke aku?" Tunjuk Vino pada diri sendiri. "Kamu kan yang gak perhatikan jalan." Sambung Vino.
Hana diam dengan pipi yang mengembung, kenapa juga harus marah ke Vino karena kesalahannya sendiri.
"Maaf.. Aku gak perhatikan jalan." Ucap Hana pelan.
Hahhh..
Vino menghela nafasnya lalu menggenggam tangan Hana melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Ehhh.. Lepas." Hana dengan sekuat tenanga melepaskan tangannya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Hana karena sikap Vino tidak seperti biasanya.
"Aku?" Beo Vino. Hana mengangguk.
"Harusnya aku yang tanya itu ke kamu, Han.. Kamu kenapa sampai jalan aja gak liat?" Hana bungkam tidak mungkinkan apa yang Farzan katakan tadi dia beritahu pada Vino, dan ini juga hal yang pribadi.
Hana menggelengkan kepalanya, "Gak ada apa apa." Jawab Hana polos lalu melengos meninggalkan Vino.
"Heii, jangan bohong.. Aku tau kamu bohong, jadi kenapa?" Vino menahan Hana yang akan masuk ke kelasnya, dan itu membuat para siswa yang disana jadi memperhatikan mereka.
Hana langsung menundukan kepalanya saat menyadari tatapan murid lain.
"Vin, plis jangan kaya gini.. Mereka jadi memperhatikan." Lirih Hana.
Vino langsung menegakan tubuhnya dan membiarkan Hana berlalu masuk ke dalam kelas.
Selalu saja setiap pagi moodnya hancur.
Di ujung koridor ternyata ada yang memperhatikan mereka berdua dengan raut wajah yang sulit diartikan namun jantungnya berdegup kencang, entahlah sepertinya itu debaran rasa sakit.
🌸
🌸
Bel istirahat pun berbunyi semua murid bersorak riang karena sudah tidak tahan untuk segera mengisi cacing diperutnya yang meronta. Sama hebohnya dengan kelas Hana setiap bunyi bel istirahat dan bunyi bel pulang.
Semenjak kejadian kemarin sekarang di mejanya jadi ramai, Caca dan Dika sudah berada dikursi depan dan menghadap padanya.
"Lo bawa makanan lagi?" Tanya Bunga yang di angguki Caca.
"Bawa dong.. Kemarin kan gue bilangin sama maid biar di bikinin tiap hari." Jawab Caca mengeluarkan kotak bekal dari paper bagnya.
"Widihhh.. Enak banget jadi lo." Sahut Dika yang hanya di beri senyuman sebagai jawaban.
"Okee.. Silahkan dimakan sahabatku.." Ucap Caca setelah membuka tutup kotak bekalnya. Disana ada beberapa potongan kue dan telur yang di gulung.
"Loh Ca ini satu lagi gak di makan?" Tanya Bunga yang melihat satu kotak bekal lagi yang tidak Caca buka.
"Ehh.. Itu.. Itu b-buat nanti jadi iya habisin ini dulu." Jawab Caca terbata.
Ya, Caca membawa kotak bekal lebih itu untuk Vino tapi ternyata pria itu tidak datang ke kelasnya.
Setelah pemandangan tadi pagi melihat Vino dan Hana, Caca berpikir mungkin dirinya salah paham dan berpikir positif.
Benar, seseorang tadi itu adalah Caca.
Bunga tidak menanyakannya lagi perihal kotak bekal untuk Vino dan Caca bisa bernafas lega, lalu ikut hanyut dalam obrolan yang Dika mulai.
"Ah lupa aku gak bawa minum." Ucap Hana tiba tiba.
"Ya udah ke kantin aja yu.. Jajan minum doang soalnya ini juga kenyang loh.. Thanks Cacaku yang imut." Sahut Bunga lalu mencubit gemas pipi Caca.
"Haha.. Iya sama sama juga." Jawab Caca ikut tertawa.
"Ya udah gue traktir kalian minum deh.. Kalian tunggu aja di kelas." Timbal Dika membuat Bunga kegirangan.
"Duhh.. Makasih banget loh Dika emang baik dehh.." Ucap Bunga dengan nada yang di buat manja.
"Ihhh.. Jijik gue denger lo." Pekik Dika dan yang lainnya malah tertawa.
"Apa nihh kok seru.." Tiba tiba Dimas dan Heri muncul.
"Idihhh kepo banget lo." Jawab Bunga.
"Idihhh mbaknya gak usah ngegas." Sahut Dimas mengikuti gaya Bunga.
Hahhaa...
Mereka kembali tertawa.
"Gue beli minum dulu." Putus Dika lalu keluar jelas, dan di gantikan Dimas yang duduk di tempat Dika sebelumnya.
"Wihh ada kue, mau ya? Ini punya siapa?" Tanya Heri.
"Iya boleh kalo Heri mau." Jawab Caca.
"Waw makasih Caca yang baik hati." Sahut Dimas yang langsung nyomot kuenya.
"Haha.. " Caca hanya tertawa mendengat ucapan Dimas.
Sudah biasa di kelas ini selalu memuji berlebihan jiga ada yang gratisan contohnya saja Bunga. Orang yang paling dekat dengan Caca. Tapi hal itu tidak masalah karena semuanya bersikap baik pada Caca.
Tapi, dibalik tawa Caca sebenarnya ada rasa kecewa, Caca pun tidak tau kenapa bisa sekecewa ini karena tidak ada Vino. Caca meremas tangannya di bawah agar tidak terlihat siapa pun.
"Vino.. " Lirih Caca dalam hati.
.
.
.TBC.
Yoo.. Komen banyak yo...
Vin dicariin Caca noh..
Vin.. Mana Vin..???
Jangan lupa like dan vote yaa..
See you :*:*