
Hana menunggu Farzan pulang dengan duduk di sofa menonton tv sambil memangku nampan berisi cake yang tadi Caca antar.
Sore tadi Caca mengantarkan pesanannya dan Hana memberikan imbalan meski awalnya Caca menolak, namun Hana memaksa. Dan Caca juga langsung kembali pulang.
Hana melihat kearah jam yang ternyata masih pukul lima sore, rasanya bosan jika sendirian dirumah meskipun sudah terbiasa. Tapi Hana merindukan Farzan sekarang, dan ingin pria itu lekas pulang.
Hana ingin menelpon Farzan, tapi takut juga jika mengganggu pekerjaan suaminya. Hingga rasa ngantuk menyerang dan akhirnya Hana tertidur dengan Cake yang masih di pangkuannya.
Sampai Farzan datang pun masih diposisi yang sama.
"Assalamualaikum~" Mata Farzan langsung tertuju ke arah sofa dengan Hana yang tertidur.
Farzan menggelengkan kepalanya namun menghampiri Hana, "Sayang.." Panggil Farzan lembut setelah duduk disamping Hana.
"Engh.." Hana melenguh dan merasakan ada sentuhan dipipinya, sampai terpaksa harus membuka matanya padahal sedang bermimpi indah.
"Ehh, Mas udah pulang." Ucap Hana meregangkan ototnya. Cewek ini masih tau jika ada cake di pangkuannya dan malah memakannya.
"Salim dulu, lupa," Lanjut Hana menyalimi tangan Farzan sambil mengunya, dan Farzan cengo luar biasa melihat istri kecilnya ini besikap yang sungguh luar biasa.
"Mas mau?" Merasa tidak adak respon dari Farzan, Hana menawarkan cake yang berada di tangannya.
Farzan menggelengkan kepalanya, "Engga, kamu aja. Aku ganti baju dulu ya," Dan Hana hanya mengangguk.
Farzan pun meninggalkan Hana di sofa, Farzan sempat menoleh kearah belakang biasanya Hana selalu ikut ke kamar tapi sekarang Hana tidak bergerak dari sofa.
Farzan pun melanjutkan langkahnya menuju kamar, tidak tau saja jika Hana sebenarnya sudah merencanakan sesuatu. Dan cewek ini malah terkekeh membayangkan wajah Farzan yang akan terkejut.
Hana membawa cakenya ke dapur lalu menyiapkan makan malam.
Farzan langsung ke kamar mandi setelah menyimpan tasnya tanpa menoleh ke arah atas tempat tidurnya, padahal disana ada sesuatu.
Tidak butuh waktu lama untuk seorang pria berada dikamar mandi hanya butuh lima belas menit saja sambil berpakaian.
Setelah mengenakan kaosnya mata Farzan tertuju pada sebuah kotak ditempat tidurnya, "Apa ini? Milik Hana kah?" Beo Farzan.
Farzan membaca tulisan yang tertempel di kotak itu, "Lah, ini buat aku," Farzan mengambil kotaknya dan mengguncangkannya, memprediksikan apa didalamnya.
Kotaknya ringan dan ada suara aneh dari dalam membuat Farzan semakin penasaran, Farzan duduk di pinggir ranjang lalu mulai membuka kotak itu.
"Eh, ada beberapa kotak lagi?" Ternyata didalam ya ada tiga kotak kecil namun berukuran panjang seperti kotak jam tangan.
Farzan mengambil ketiganya dan meletakan kotak sedangnya, ada note kecil disana juga.
"Jangan teriak kalo udah buka,?" Farzan semakin bingung dengan tulisan dari note ini, "Apa sih aneh banget," Lalu Farzan membuka salah satunya.
Kening Farzan mengerut sangat rapat sampai kedua alisnya bisa menyatu, mengambil beberapa benda yang ada dikotak ini.
Farzan tidak bodoh benda apa yang dia pegang saat ini, Farzan melihat satu persatu dan tidak ada yang berbeda disana.
Farzan menutup mulutnya tidak percaya lalu membuka kedua kotak kecil lainnya dan didalamnya sama. Dengan garis yang sama.
"SAYAAAANGGG...." Teriak Farzan sangat kencang.
Hana yang berada di dapur pun terkejut juga, "Padahal udah ditulis jangan teriak," -_-
Gumam Hana.
Hana mendengar derap langkah kaki yang berlari dari lantai dua kamarnya, "SAYAANG.." Pria ini masih saja berteriak, padahal dirinya ada didalam rumah.
Farzan langsung berlari dan memeluknya, "Akh.." Hana tersentak bahkan sampai terhuyung ke belakanh, untuk saja tidak jatuh karena Farzan memeluknya erat.
"S-sayang? I-ini beneran?" Bahkan Farzan sampai terbata-bata tidak seperti tadi yang masih berteriak sangat kencang.
Hana membalas pelukan Farzan lalu mengangguk membenarkan apa yang Farzan lihat didalam kamar tadi.
"S-sayang.. Alhamdulillah ya Alloh, terimakasih.. terimakasih," Farzan mengecupi seluruh wajah Hana dan pucuk kepala Hana.
Bahkan Farzan sampai meneteskan air matanya, lalu kembali memelik Hana untuk menyembunyikan bahwa dirinya menangis.
"Mas nangis?" Ya ampun kenapa harus bertanya begitu disituasi seperti ini.
Dasar..
Memang Hana.
Hana tersenyum lalu kembali memeluk Farzan dengan senyum yang mengembang.
"Besok izin sekolah ya, kita periksa ke dokter?" Ucap Farzan melepaskan pelukannya.
Ya, Hana positif hamil.
Dan didalam kotak itu adalah hasil tes kehamilan dengan garis dua semuanya.
"Ehh, masa kaya gitu sih, gak mau, aku bentar lagi bakal ujian dan gak mau ketinggalan materi," Jawab Hana berkacak pinggang.
"Tapi sayang~" Ucap Farzan memelas.
"Pulang sekolah aja, tapi mas bawain baju ganti buat aku ya?"
"Ya sudah, besok pulang sekolah Mas jemput, periksa di RS Mahardika aja," Farzan menyetujui saran Hana.
Hana memutar bola matanya saat mendengar kata Mahardika, sampai saat ini Hana tidak tau apa saja yang di miliki keluarga Mahardika.
"Ya udah sekarang makan dulu, aku udah laper lagi," Ucap Hana mengusap perutnya yang masih rata.
"Ah, baby mau makan sayang?" Fqrzan ikut mengusap perut Hana.
Farzan juga mengandeng Hana menuju meja makan, bahkan pria itu yang menyiapkan makan untuk Hana.
"Makan yang banyak gizinya ya sayang.." Sahut Farzan lagi dan mengulangi mengusap perut Hana.
Hana makan dengan lahap, bahkan Farzan yang tadi merasa lapar sejak perjalanan pulang. Melihat Hana makan dengan lahap seperti ini membuatnya menjadi kenyang.
"Kenapa liatin aku, Mas? Makan juga dong, babynya mau liat Papanya makan juga,"
"Ah, iya ini Papa makan," Farzan pun langsung melapah makanannua.
Hana terkekeh melihat Farzan yang sigap begini.
Saat Hana ingin minum pun Farzan langsung membantunya.
Ini terlalu berlebihan Mas Farzan..
Hadeuhh...