
Setelah tiba dirumah, Hana dan Farzan memasuki kamar, " Mas.. Aku mandi duluan ya.. " Farzan sedang melepaskan jas kerjanya.
"Kenapa gak bareng aja sih.. " Ucap Farzan menghampiri istri kecilnya membuat Hana otomatis mundur.
"Kenapa menghindar sayang.. Bukannya kemarin kamu juga menikmati? Hemm.." Pipi Hana memerah hal itu mengingatkan ciuman Farzan kemarin.
Namun sikap ini bukan lah Farzan.
"M-mas.. A-ada apa?" Hana memalingkan wajahnya kearah kanan sekarang tubuhnya sudah tidak bisa bergerak karena terbentur lemari.
Seperti menyadari sesuatu yang tidak baik.
Farzan mengukung Hana dengan kedua tangannya dan memundukan wajahnya agar lebih dekat dengan sang istri.
"Kenapa??" Hembusan nafas Farzan sangat jelas terasa diwajahnya sampai tercium bau mint favorit Farzan. Pria ini malah bertanya balik.
Farzan menjatuhkan kepalanya dibahu Hana sebelah kiri, "Sayang.. " Lirih Farzan membuat seluruh darah di tubuh Hana berdesir.
"M-mas F-Farzan.." Sekarang sudah tidak tau harus melakukan apa lagi, otaknya menolak tapi tubuhnya menikmati apa yang Farzan lakukan saat ini.
Farzan mengecupi setiap lekuk di lehernya, membuat Hana menahan nafasnya sampai menutup matanya. Tangan Hana terangkat mencengkram kemeja Farzan menyalurkan hal asing lagi yang diterima olehnya.
"M-mas.. A-apa y-angh terjadih..?"
Hana merasakan tubuh Farzan juga panas dan dari hembusan nafasnya yang berada dileher, Farzan mengangkat wajahnya utnuk menatap Hana, mata mereka sayu apa lagi Farzan yang sudah memerah.
"S-sayang tolong.. Ini bener bener sakit.. " Farzan memegang tenggorokannya.
"M-mas kenapa??" Tanya Hana khawatir namun Farzan memeluknya lagi.
"Seseorang menjebakku sayang.. Ada yang mencampurkan sesuatu kedalam minumanku.. Panas dan s-sakit sayang.. Aku gak kuat dan~ dan langsung pulang menjemputmu.. " Farzan berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Pantas saja sedari tadi didalam mobil Farzan terlihat gelisah dan diam saja.
"Sesuatu apa Mas??" Hana bingung karena hal ini belum pernah Hana dengar.
Flashback on..
Setelah makan siang hari ini Farzan mendapatkan informasi jika rapat yang harusnya besok namun dimajukan menjadi pukul satu siang ini.
Awalnya Farzan akan kesekolah untuk mengecek pekerjaannya dan sekalian melihat sang istri, tapi apa boleh buat pekerjaan disini juga penting.
Apa lagi semenjak kejadian itu banyak investor yang kembali bekerjasama dengan perusahaannya.
Rapat kali ini diadakam diluar kantor, Farzan dan Bima bersiap dengan menggunakan mobil Farzan agar sekalian langsung pulang nanti setelah selesai.
Namun saat tiba di restoran yang sudah dijanjikan tempat itu tertutup bahkan hanya Farzan yang dibolehkan masuk membuat Bima curiga, awalnya Bima melarang Farzan untuk masuk namun bosnya ini berusaha berpikir positif.
Farzan pun masuk dan bertemu dengan seorang wanita, Farzan dipersilahkan duduk lalu pelayan pun menyajikan minum dan beberapa makanan.
"Perkenalkan, saya Laura mewakili perusahan periklanan yang sempat anda hubungi beberapa bulan lalu untuk mempromosikan produk baru anda." Ucap Laura memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Iya.. Saya sudah dengar itu.. Mari kita mulai rapatnya.." Farzan bersikap tenang dan profesional.
Untuk pertama kalinya Farzan rapat di tempat seperti ini bahkan, lihatlah pakaian yang dikenakan rekan bisnis nya.. Ah sepertinya tidak cocok untuk dibilang pakaian, bisa dibilang sehelai kain yang hanya menutupi bagian menonjol saja.
Tidak habis pikir.
Terlihat senyum jahat direkan bisnis, setelah beberapa saat obat itu bereaksi membuat Farsan merasa kepanasan.
"Ada apa?" Tanya basa basi Laura.
"T-tidak ada.. "Dengan sekuat tenaga Farzan menahannya.
Sial gue dijebak..
"Mau saya bantu, Pak??" Tawar Laura menghampiri Farzan.
"Tidak usah! Jika sudah tidak ada lagi yang dibahas kita akhiri sajah disinih.." Ahh Farzan benar benar tidak bisa terus disini.
"Ayo Pak, saya bantu.. " Dengan lancang Laura memegang rahang Farzan.
Farzan meringis memejamkan matanya.
Tidak.. Ini salah..
Farzan menepis tangan Laura, hampir saja dirinya kebablasan dan melukai sang istri.
"Saya pamit.. Permisi." Merasa ada celah Farzan langsung keluar sontak Bima langsung membantu Farzan.
"Ada apa Pak?" Tanya Bima.
"S-saya di jebak.. Saya mau menemui istri saya.. Bima bisa urus semua ini? Saya minta tolong.. " Bima mengerti maksud Farzan lalu mengangguk dan membantu Farzan menuju mobil bosnya dan sisanya Bima urus.
Setelah duduk di kursi kemudi Farzan mengatur nafasnya dan mengelap keringat di wajahnya, lalu mengirim pesan pada Hana agar bisa pulang bersama.
Setelah cukup merasa baik baik saja Farzan melajukan mobilnya menuju sekolah Hana yang lumayan jauh dari restoran.
Flashback off.
Hana tidak percaya ada orang yang melakukan hal seperti ini setelah mendengar cerita Farzan, masih saja ada yang ingin membuat Farzan hancur.
Hana membalas pelukan Farzan, "Sstt.. " Farzan meringis obat itu kembali bereaksi, "Sayang.. " Lirih Farzan, rasanya ingin sekali menangis.
"A-aku mau.. A-aku mau melakukannya Mas.. " Ucap Hana meyakinkan dirinya.
Farzan menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang.. Bukan seperti ini caranya.. " Farzan menjawab dengan menahan rasa sakitnya.
"Tapi kamu kesakitan Mas.. A-aku tidak apa apa.. S-sudah seharusnya kamu memilikinya.. "
Farzan menatap manik mata Hana dengan sayu, sungguh ini membuatnya gila bukan ini yang Farzan inginkan saat hal itu terjadi, Farzan ingin melakukannya dengan romantis namun yang tak terduga malah terjadi.
"Maaf sayang.. Aku minta maaf.. " Farzan memeluk Hana kembali sekarang sudah benar benar tidak tahan. " Aku akan berusaha sepelan mungkin.. "Bisik Farzan lirih.
Suara Farzan sudah begitu serak pria itu kembali mencium sekitar lehernya.
"M-mash.. " Lirih Hana.
"Iya sayang.. Panggil nama aku.. " Farzan akan terus berusaha tetap sadar agar tidak seperti binatang buas.
"M-mash Farzanh nghh.. "