My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Kejujuran...


"Kenapa?" Tanya Vino yang sudah berada di samping Caca.


"Eh, V-vin," Caca tidak tau jika Vino sudah ada di sebelahnya saja.


"Kamu kenapa?" Nada biacara cowok ini mulai berubah jika bersama Caca, sisi lembut dari Vino yang di tunjukan di depan Caca.


"Emm, Hana u-udah tau," Jawab Caca sambil menundukan kepalanya, jari jemarinya saling bertautan.


Vino mengacak poni Caca yang membuat si empu langsung cemberut, "Gak papa, malah bagus kan? Harusnya yang lain juga tau, apa emang mereka udah tau kali ya, cuma nunggu kita jujur aja," Sahut Vino bersandar di tiang koridor.


"T-tapi Vin, aku masih takut,"


"Ssttt.. Gak usah takut, kamu percaya aku? Kamu aja kasih aku kesempatan loh," Vino mengusap pipi Caca yang mengembung, "Udah gih masuk kelas," Lanjut Vino dengan menggerakan dagunya.


"Ya udah, aku masuk dulu.. Sampai ketemu istirahat," Ucap Caca sambil melambaikan tangannya.


Mereka tidak buta, dengan sikap Vino yang berbeda pada Caca sudah di pastikan cewek ini spesial. Semua murid tau jika Vino tidak pernah sedekat itu dengan cewek-cewek, terkecuali Hana.


Namun akhir-akhir ini mereka tidak sering terlihat bersama dan malah Caca yang selalu ada didekat Vino, tentu saja mereka pasti akan berasumsi jika Vino dekat dengan Caca.


Caca pun masuk ke kelas, dan melihat di bangku Hana sudah ada Dika dam Bunga yang terlihat asik mengobrol membuatnya penasaran juga.


"Ini beneran, Han?" Tanya Dika, yang tertangkap oleh indera pendengaran Caca.


"Pagi.. Kalian ngobrolin apa?" Caca menyela pembicaran mereka, membuat Dika dan Bunga menatapnya bersamaan.


Seolah mengatakan, ganggu aja.


Caca menggaruk kepalanya bingung, baru datang udah di pelototin sama dua makhluk. Caca pun menyimpan tasnya dan ikut nimbrung dengan yang lain.


"Jadi jawabannya?" Tanya Bunga dengan kedua alisnya terangkat, dan mulutnya yang mangap-mangap.


Hana terkekeh melihat dua temannya, ah tiga temannya karena melihat ekspresi Caca yang juga kebingungan.


"Jawabannya YES.."


"SERIUS?"


"APA?"


Ucap Dika dan Bunga bersamaan membuat Caca terlonjak kaget, "Apaan sih kok heboh banget?" Caca celingukan melihat wajah temannya satu persatu.


Dan mengangkat dagunya bertanya pada Hana, dan Caca malah tambah gereget karena Hana malah menertawakannya.


"Ihhh.. Kalian ngomongin apaan sih.." Caca masih saja tidak mau menyerah dan terus bertanya.


Hana berdehem dan menghela nafasnya, "Aku hamil." Ucap Hana dengan gerakan bibirnya saja.


"APA?" caca juga terkejut, sama seperti Bunga dan Dika yang masih syok mendengar kabar ini sampai tidak bisa berkata-kata.


Itulah yang membuat Hana menahan tawanya sedari tadi.


"Aaa... Selamat ya Hana..." Caca berdiri dan memegang kedua tangan Hana lalu menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.


"Makasih Caca.." Jawab Hana senang.


Hanya Caca yang merespon cepat.


Aneh bukan? Biasanya Caca yang selalu loading lama, namun sekarang malah sebaliknya.


"H-hana.. Serius?" Tanya Bunga sekali lagi dan Hana menganggukkan kepalanya.


Bunga langsung memeluk Hana erat, "G-gue gak tau mau bilang apa.. Sumpah gue kaget banget dengernya, tapi gue seneng banget.. Selamat ya.. Gue do'ain yang terbaik buat kalian.."


"Jadi mau nangis deh.." Sahut Hana mengusap sudut matanya.


"Jangan nangis dong.." Caca mulai mepet-mepet pengen ikut memeluk Hana juga.


"Hiks.. Gue juga mau ikutan pelukan dong.." Ucap Dika yang membuat Hana langsung pasang badan.


"Mesum lo,"


"Hahahaha.." Suasana haru ini kembali ceria, dan mereka memberikan selamat serta do'a untuk Hana dan calon bayi mereka.


🌸


🌸


"Jadi, gue ajak kalian kumpul disini karena gue mau bilang sesuatu,"


Ya, saat ini mereka ada di D'Cafe tempat mereka berkumpul sebelum tugas sekolah menumpuk, dan materi ujian yang juga harus di pelajari lagi.


Vino mengirim chat di grup untuk berkumpul disini setelah pulang sekolah, dan sekarang semuanya sudah ada disini. Hana juga sambil menunggu yang menjemputnya.


"Emang ada apaan dah.." Tanya Dika sambil menyomot kentang goreng.


Mereak juga memesan beberapa camilan dan minuman, terutama untuk ibu hamil ini pasti harus ada camilan. Vino juga sudah diberitahu saat istirahat dan reaksinya sama, terkejut. Namun tetap memberinya selamat dan do'a juga.


"Jadi, gue mau jujur sama kalian semua," Suasananya berubah menjadi serius saat Vino menyahut, "Gue sama Caca udah jadian waktu liburan di villa kemarin."


"APA!" Mereka semua syok, terlebih lagi Dika sampai dia tersedak dengan minumnya sendiri.


"Uhuk.. Uhuk.." Bunga membantu menepuk punggung Dika, bahkan wajah pria ini sampai memerah.


Caca memejamkan matanya dan mencengkram roknya dengan kuat, Caca takut dengan reaksi yang akan di berikan oleh teman-temannya.


"K-kalian.. Serius?" Tanya Bunga memastikan lagi.


"Ya, gue serius.. Gue juga bakal serius sama Caca," Jawab Vino yang lagi-lagi membuat mereka tercengang, termasuk Caca sendiri yang juga terkejut mendengarnya sampai membuka matanya lagi.


"Gila.. Dalam sehari gue di bikin jantungan sama kalian sumpah.." Dika menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, sambil mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut dan jantungnya berdegup kencang akibat menerima serangan dadakan.


Bukan serangan cinta ya...


Hahah..


"Ya, gue juga.." Sahut Bunga lalu meminum air pesanannya.


"M-maaf, g-ue takut kalian gak setuju.." Ucap Caca menundukan kepalanya.


"Heiii.. Jangan begini, lo berhak buat pacaran sama orang yang lo sayang, gak ada yang larang kok." Bunga merangkul Caca yang memang duduk disebelahnya.


"Hmmm, iya.. Lebih baik kan dari pada harus di sembunyika terus?" Lanjut Hana yang di angguki Caca.


"Makasih temen-temen.. Kalian udah dukung aku," Ucap Caca dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.


Vino mengusap lengan Caca memberikan kekeuatan padanya.


"Lah.. Jadi gue disini yang jomblo gitu?" Sahut Dika menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang sulit diartikan.


Mereka semua menganggukan kepalanya dengan kompak, "Ya ampun..." Dika menepuk jidatnya.


Nasib..


Nasib..