My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Hujan..


Ternyata langit tidak berpihak pada Vino dan Caca, mereka berdua kehujanan untung saja sebentar lagi sampai di kediaman Caca.


Vino menekan klaksonnya dan gerbang besar berwarna putih itu terbuka, Vino menancapkan gasnya agas segera tiba. Jarak gerbang kedalam saja cukup lumayan.


Motor Vino berhenti tepat di depan pintu rumah Caca dan untuknya saja di sini tidak kehujanan.


"Non Caca.." Maid yang melihat Caca lamgsung menghampirinya, "Non kenapa naik motor?" Khawatir Desi salah satu maid.


Caca turun dari motor, "Makasih Vino.. Masuk dulu ya, baju lo juga basah." Ucap Caca.


Vino memandang ketiga maid yang di belakang Caca menganggukkan kepalanya. Entah itu tanda apa tapi Vino pun memilih turun dari motornya.


"Sekali lagi makasih ya lo udah anterin gue pulang." Ucap Caca yang suaranya masih serak.


"Hmmm, gak masalah." Jawab Vino mengikuti langkah Caca dan ketiga maid tadi.


"Non maafin kami karena lama menjemput non." Ucap Eni salah satu maid tadi.


Caca hanya tersenyum dan mengangguk, "Non air hangat sama baju gantinya sudah disiapin." Ucap Desi yang muncul dari kamarnya. "Buat temen non Caca juga sudah saya siapin." Lanjutnya.


"Makasih ya.. Tolong buatin teh hangat juga."


"Baik non."


Vino yang memang pernah beberapa kali main kerumah Caca melihat semua yang terjadi barusan tidak aneh lagi, Caca memang di perlakukan sebagai ratu di rumah ini. Meskipun terkadang Vino heran karena tinggah Caca yang kadang lemot.


"Vin masuk." Ajak Caca yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Lo gak takut apa masukin cowok ke kamar begini? Gue juga cowok normal loh." Ucap Vino tapi tetap masuk kedalam -.-


"Gue percaya kok.. Karena lo kan gak suka sama gue, jadi gak mungkin kan?" Ucap Caca.


Deg.


Entah kenapa perkataan Caca barusan ada yang nyeletit di jantungnya.


"Lo di kamar mandi itu ya gantinya." Tunjuk Caca pada pintu yang di ujung.


"Hmmm, oke." Vino pun berjalan memasuki tempat yang di tunjuk Caca, ternyata kamar mandi.


Sedangkan Caca masuk ke ruangan satunya lagi yang dimana ratusan baju bajunya bergantung disana, di ruangan ini untungnya ada kamar mandi cadangan jadi Caca tidak perlu menunggu Vino.


Vino selesai berganti begitu juga Caca keluar dari ruangan khususnya mereka saling pandang sesaat sebelum Vino yang memutus duluan.


Caca berdehem untuk menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa berdebar dengan kencang. Caca menggelengkan kepalanya.


Caca melihat di nakasnya sudah ada dua gelas teh hangat dan beberapa biskuit.


"Vin, diminum dulu." Caca menyerahkan satu gelas untuk Vino.


"Makasih." Ucap Vino menerima gelasnnya.


Vino memandang Caca diam diam sambil meminum teh hangatnya, setiap hari setiap bertemu Caca dirinya selalu saja berdebat, entah apa yang membuatnya dan Caca harus adu mulut.


Dari segi manapun Caca terlihat cewek polos dan manja tentu selalu baik juga. Vino selalu membenarkan itu tentang Caca. Namun tidak tau hawa dengan Caca di sekolah selalu ingin cekcok.


Caca hanya diam saja rasanya canggung jika berdua saja dengan Vino di dalam kamarnya. Hari mulai gelap karena hujan juga yang cukup deras.


"Nyokap Bokap lo kemana?" Vino memilih bertanya duluan untuk menghilangkan kecanggungan.


"Ohh.. Mereka belum pada pulang masih diluar negeri." Jawab Caca yang di angguki Vino.


Tok.. Tok..


"Non maaf, makan malamnya Udah siap." Maid Eni membuka sedikit pintu kamar Caca.


"Iya sebentar lagi ke sana Mbak." Sahut Caca sedikit berteriak. Caca di biasakan oleh orang tuanya untuk memanggil Mbak untuk para maid di rumahnya.


"Vin, makan malam disini dulu.. Lagian diluar masih hujan." Caca membuka gordeng putih dan terlihat air hujan dibalik jendelanya.


Caca berbalik menatap Vino menanti jawaban, "Okelah udah lama juga gue gak makan masakan maid lo, hehe." Cengir Vino.


Ada apa dengan Caca saat ini???


🌸


🌸


Hana dan Farzan menikmati puding di ruang tengah sambil menonton tv, dengan di temani hujan deras diluar sana.


"Enak gak Mas?" Tanya Hana.


Farzan mengangguk, "Enak.. Buatan kamu pasti enak lah." Puji Farzan membuat Hana terasa terbang.


"Haha bisa aja.. Takut gak aku bikinin makan ya? Jadi bilangnya begitu." Kelak Hana sambil tertawa.


"Engga dong.. Emang bener enak kok ini." Jawab Farzan sambil menyuapi pudingnya lagi. "Mau masukin ke resto Mama gak masakan kamu?" Usul Farzan.


"Uhuk.. Uhuk.." Hana sampai tersedak karena terkejut.


"Pelan pelan makannya." Farzan memberikan minum untuk Hana.


"Mas, serius?" Tanya Hana dengan apa yang tadi Farzan ucapkan.


Farzan mengangguk lagi, "Iya! Nanti Mas bilang sama Mama."


"Nanti aja dehh.. Aku kan beberapa bulan lagi banyak ujian juga." Farzan membenarkan perkataan Hana.


"Iya juga sih.. Ya sudah kamu urusin aku saja.. Hehe." Cengir Farzan yang dapat pelototan dari Hana. "Jangan marah dong." Farzan mencubit gemas kedua pipi Hana, namun tidak benar benar kencang.


"Sakit tau.." Hana mengusap pipinya yang memerah.


"Gemess loh aku tuh." Farzan mencubit puncuk hidung Hana.


"Idihh.. Apaan gak jelas banget.. Hehe." Mereka tertawa bersama.


Suara hujan bagi mereka seperti nyanyian indah yang membuat suasana hangat. Mungkin sekarang Hana mulai menyukai hujan, karena hujan membuatnya merasa hangat dan bahagia sebab Farzan ada bersamanya.


Farzan merangkul Hana dalam dekapannya setelah selesai memakan puding dan melanjutkan menonton siaran yang ada di televisi. Menghabiskan waktu bersama yang tidak pernah Hana bayangkan.


Jantungnya berdegup kencang lagi, Hana takut jika ini perasaan cinta, Hana takut jika perasaannya terlau terburu buru. Melihat Farzan yang memerankan sebagai seorang suami terlalu sempurna dan itu juga menjadi ketakutan bagi Hana jika Farzan hanya memerankan perannya saja tanpa ada perasaan didalamnya.


Ahh,, kehangatan ini kembali terasa hampa.


.


.


.


.TBC.


**Hallooo..


Jangan lupa like sama komen yaa...


spam komen dong...


Besok aku Up lagi...


See you 😘😘**


Aqila Hanannia Darman..


Anggap aja pake hijab ya..


:D :D ✌✌✌