My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Membaik..


Disinilah mereka, di ruang tengah kediaman Abqari dengan Hana yang duduk berdampingan dengan Farzan. Setelah kebengongan Dika saat tadi di depan pintu lalu Farzan menyuruh mereka semua masuk.


Setelah Hana meletakan minum dan beberapa camilan untuk temannya, ruangan ini hening tidak ada yang memulai pembicaraan. Dika yang merasa bingung di dalam situasi ini hanya celingukan tidak jelas.


"Ekhem.." Deheman Farzan membuat mereka tegang termasuk Hana.


Dika pun jadi menunduk.


"Saya akan jelaskan pertanyaan kamu, Dika." Merasa namanya disebutkan Dika langsung mendongak dan menatap Farzan takut.


"I-iya Pak." Jawab Dika gugup.


"Seperti yang kamu lihat saya dan Hana tinggal satu atap." Mata Dika membulat, sebelum Dika bertanya Farzan langsung melanjutkan perkataannya. "Saya dan Hana sudah SAH di mata hukum dan agama." Farzan menekankan kata 'Sah' disana. Dika mengangguk dan sedikit menunduk.


"Karena memang permintaan Hana yang tidak ingin pernikahan ini terekspose ke luar, dan hanya rekan bisnis saya dan keluarga saja yang tau termasuk Bunga Caca dan Vino." Lanjut Farzan.


Hana menunduk dan merematkan jari jarinya, Hana takut jika Dika akan berpikir hal yang tidak tidak, namun dugaannya salah.


"Saya ngerti kok Pak, Hana mungkin belum siap dan hanya mempercayai teman dekatnya saja.. Tapi saya juga bisa menjaga ucapan saya jika Hana minta." Ucapan Dika yang tidak terduga membuat semuanya menatap pria ganteng dan nyebelin ini.


"He-hei.. Kenapa liatin gue? Eh-Saya?" Tanya Dika sambil memundurkan duduknya.


"D-dika.. Bener bisa jaga ucapan kamu?" Tanya Hana,


Dika mengangguk mantap, "Lo bisa pegang omongan gue, Han." Dika mengangkat tangannya seperti sedang berikrar.


Hana tersenyum dan berharap Dika benar memegang ucapannya.


"Hahh.. Sekarang mah makan ini dulu.. Gue makan ya, Na?" Ucap Bunga merentangkan tangannya sampai Dika terhuyung kebelakang lalu mengambil puding yang Hana buat semalam.


"Hehh.. Lo gak tau malu banget sih Bungakamboja." Sahut Dika menggeplak pelan bahu Bunga membalasnya karena ulah gadis itu barusan.


"Ihhh.. Udah biasa kali gue mah.. Ya gak, Na?" Kini Bunga beralih bertanya pada Hana.


"Hehe.. Iya! Kalian juga dimakan pudingnya." Ucap Hana.


"Nah.. Kalo dibolehin gini mah saya juga mau... Hahah!" Dika pun mengambil potongan puding dan melahapnya.


Suasana yang awalnya tegang kini sudah mencair, Farzan mengusap bahu Hana mengisyaratkan kalo semuanya akan baik baik saja. Dan gadis itu membalas dengan senyuman manisnya.


Semuanya baik baik saja, dan berharap ke depannya pun akan baik baik saja.


Sekarang mereka berdua bisa di bilang pasangan penuh sayang kan??


Tidak dengan Vino yang hanya diam, memperhatikan Farzan dan Hana membuat jantungnya terasa di cubit. Namun Vino tetap berbaur dengan yang lainnya.


"Jadi kenapa gak masuk sekolah?" Tanya Caca setelah menghabiskan dua potongan puding.


"Ehh.. Emm itu.. Ituu.." Hana tidak bisa menjawab pertanyaan Caca yang sebenarnya, gadis itu menggaruk pelipisnya lalu memandang Farzan meminta bantuan pria ini untuk menjawab.


Tapi, Farzan malah mengangkat bahunya acuh dan membuat Hana cengo tidak percaya, bisa bisanya Farzan begini.


"Ehmm.. Itu tadi, tadi sakit perut ke toilet terus.." Jawab Hana bohong.


Semuanya memandang Hana, alasannya memang tidak masuk akal. Rasanya Hana ingin mencakar cakar Farzan sekarang juga. Bahkan Farzan diam diam terlihat menahan tawanya.


"Ehkem.. Ekhem.. Ooohhhh begitu toh." Jawab Dika yang sebenarnya tau alasan Hana bohong.


Bunga hanya mengangguk ngangguk dan sebisa mungkin tidak tertawa disini, Bunga yang lebih tau sikap Hana jadi tentu saja alasan Hana itu bohong.


Berbeda dengan Caca yang memang lemot memberikan ekspresi khawatir kepada Hana, kalo Vino.. Pria itu berekspresi datar.


Rumah Hana jadi riuh karena suara cempreng Bunga yang selalu mendebatkan hal tak penting dari pembicaraan Caca dengan Dika.


Padahal yang cekcok kan Caca dan Dika tapi disini Bunga yang paling geregetan. Ruang tamu juga sekarang sudah tidak serapih awal akibat keempat temannya yang saling lempar bantal sofa.


Perihal alasan Hana yang memang bohong mereka abaikan lebih baik bersantai di rumah mewah serba ada ini, apa lagi banyak sekali makanan tentu tidak akan di sia siakan oleh Bunga dan Dika. Bahkan seragam yang mereka pakai pun sudah awut awuta.


Farzan pamit untuk ke kamar agar bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang. Ternyata Hana masih bisa merasakan bermain bersama teman temannya seperti sekarang meski statusnya sudah menjadi seorang isti.


"Han, gimana rasanya nikah?" Tiba tiba Dika bertanya.


"Kok nanya nya gitu sih, lo??" Kesal Bunga melempari keripik kentang yang awalnya mau dia makan.


"Ehh.. Maksud gue bukan begitu, Han." Lanjut Dika.


"Gak papa kok.. Ehmm, rasanya banyak sihh karena kita jadi punya tanggung jawab lebih aja." Jawab Hana.


Bunga dan Caca jadi merapat duduknya ke Hana.


"Lo beruda ngapain?" Tanya Vino heran.


"Kita mau dengerin ceritanya lah." Jawab Bunga yang di angguki Caca.


"Ceritain dong rasanya??" Tanya Bunga pada Hana.


"Ehh.. Kalian kenapa sih.." Hana malah balik bertanya.


"Udah ceritain aja.. Buat pengalaman kita juga." Ucap Bunga menaik turunkan alisnya.


"Kita? Idiihhhh.. Lo aja kali gue engga." Sahut Dika sewot, tapi tak urung juga telinganya dia tajamkan untuk mendengar apa yang akan di ceritakan Hana.


Pikiran Dika sudah berkelana keliling dunia saat mendengar kata 'Rasa' dari pertanyaan Bunga tadi.


"Gak boleh.. Ini rahasia.." Jawab Hana menutup mulutnya.


"Yaahhhh...." Jawab Bunga Caca dan Dika bersamaan merasa kecewa dengan jawaban Hana, tidak dengan Vino karena pria itu tidak ingin mendengar apapun tentang Farzan dari mulut Hana yang akan membuat rasa sakit semakin membesar.


"Dihh lo malah ikut ikutan.. Katanya lo aja kali gue engga.." Bunga meledek Dika mengikuti gaya bicara cowok itu tadi.


"Hahaha... " Semuanya jadi tertawa.


.


.


.


TBC.