My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Yang Sebenarnya..


Taman belakang rumah Hana dan Farzan disulap menjadi sebagus ini, dengan dekorasi bunga segar dan nuansa putih sangat indah dipandang.


Beberapa makanan restoran dari Dinda pun sudah tersaji di meja panjang, ada juga cake dari toko langganan Hana. Ada buah-buahan juga disana, Farzan sangat memperhatikan dengan detail.


Tentang ibu mertua, Dinda selalu peka jika berhubungan dengan Hana. Maka dari itu Dinda mengirim beberapa makanan dari restorannya.


"Sayang sudah selesai?" Farzan menunggu Hana yang berganti didalam sudah hampir sepuluh menit masih belum keluar dan membuatnya khawatir.


"Sebentar, Mas.." Hana menyahut dari dalam dengan berteriak.


Farzan terpaksa membuka pintunya saking mengkhawatirkan Hana, dan saat matanya melihat orang yang sedari tadi menunggu. Ternyata sang istri sedang kesusahan menutup resleting bagian belakang.


Farzan menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi Hana yang terkejut dan juga kesal, Farzan menghampiri Hana. "Mau aku bantu sayang?" Tawar Farzan mengambil alih memegang resleting belakang baju Hana.


"Ekheemm.." Hana hanya berdehem berpura-pura marah pada Farzan.


Farzan terkekeh melihatnya, lalu kini matanya melihat punggung Hana yang tidak terhalang apa pun. Wajah Farzan memerah lalu ibu jarinya menyentuh kulit punggung Hana yang mulus itu.


"Akh.." Hana terkejut.


Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang, padahal Farzan sudah sering menyentuhnya. Namun saat ini entah kenapa rasanya berbeda, seperti saat pertama kali Farzan menyentuhnya.


Cup..


"Akh.." Hana kembali dikejutkan dengan Farzan yang mengecup punggungnya, sungguh ini membuatnya merinding dan berdebar.


"Sayang.. Jujur aku saat ini benar-benar sedang menahannya, karena aku tidak ingin merusak rencana yang kamu buat, dan moment bersama teman-temanmu terganggu karena aku.." Ucap Farzan lalu menutup resletingnya.


Mata Hana membulat saat Farzan mengatakan yang dirasakannya, Hana merasa bersalah, namun Hana juga bukan tidak mau menuruti keinginan Farzan. Tapi waktunya sebentar lagi teman-teman akan segera datang.


Hana berbalik lalu memeluk Farzan, "Maaf sayang.. Nanti malam kalau tidak terlalu lelah.. Ehmm, boleh kok jenguk baby.." Ucap Hana dengan memahan malu di akhir kalimat.


"Beneran.. Boleh sayang?" Tanya Farzan penuh binar.


Hana mengangguk malu-malu.


"I love you sayang.. I love you baby twins.." Farzan mengecup kening Hana, lalu mencium perut Hana juga.


🌸


🌸


Acara sederhana di rumah Hana dan Farzan yang menjadi terlihat mewah sudah di mulai, Bunga dan Bima sudah datang, tak lupa juga dengan Dika yang sudah mengambil makanan pembuka disana.


"Caca sama Vino kok tumben telat ya?" Ucap Hana yang duduk disamping Farzan.


Bunga menghampiri Hana, "Tadi udah coba di telpon tapi pada gak diangkat," Sahut Bunga menunjukan panggilan yang tak terhubung sudah ke sepuluh kalinya.


Hana menjadi khawatir dengan kedua temamnya itu, Hana memegang tangan Farzan. "Mas."


"Gak papa, jangan berpikir negatif dulu, semoga tidak terjadi apa pun sama mereka," Farzan memeluk Hana dan mengusap punggung Hana.


"Apa gue coba susul aja?" Dika pun menyimpan cake yang sedang dia makan, lalu menghampiri Hana juga.


Bima juga berdiri disamping Bunga, hubungan mereka sangat lancar jaya. Bahkan Bima sudah dikenalkan dengan keluarga Bunga dan hasilnya sangat membahagiakan.


Tinggal Bima meminta restu pada keluarga Mahardika yang sudah menjaganya dan membuat hidupnya lebih baik sampai saat ini. Bima tidak akan pernah berhenti untuk membalas budi pada kelurga yang sudah membuatnya bangkit dan berhasil.


Bima menyayangi keluarga Mahardika seperti keluarga kandung, hanya Mahardika satu-satunya keluarga yang Bima miliki.


Kembali lagi dengan situasi saat ini,


"Apa saya saja yang mencarinya?" Tiba-tiba Bima menyahut.


"Assalamualaikum..." Perkataan Bima tidak sempat terjawab karena ada yang datang.


Semuanya menoleh ke arah pintu yang menghubung taman belakang, "Walaikumsalam-.. CACA.." Hana langsung bangun dan memeluk orang yang sedari tadi dia khawatirkan.


"Kamu gak papa?" Hana melepaskan pelukannya dan memeriksa kondisi Caca.


"E-mm, aku gak papa kok, s-sorry telat ya," Jawab Caca gugup.


"Ahh, syukurlah.. Aku khawatir," Hana mengusap dadanya, Farzan juga bangun dan menghampiri Hana. Menenangkan sang istri, karena Hana tidak boleh terlalu banyak pikiran.


"Terus Vino mana?" Tanya Dika yang melihat Caca sendirian.


"Assalamualaikum.." Ucap Vino yang menyusul dari belakang.


Mereka melihat ada yang aneh dari Caca dan Vino, sikap mereka berdua seperti ada sesuatu yang terjadi.


*Flashback On..


Beberapa jam sebelum tiba dirumah Hana..


Vino sudah tiba di rumah Caca hendak menjemput sang pacar, namun Vino ditahan untuk bertemu dengan Clarisa.


"Halo Vino, sudah lama sekali tidak bertemu ya.. Bagaimana kabar kamu?" Tanya Clarisa basa basi.


Saat ini Vino sedang duduk di sofa ruang tengah, tentu aja ada tuan rumah-Clarisa dan juga Caca.


Hanya dua orang yang merasa tegang saat ini, tentu saja Caca dan Vino.


"Ahh, iya tan, s-sudah lama sekali.. Alhamdulillah aku selalu baik-baik saja.. Tante sendiri bagaimana kabarnya?" Jawab Vino sangat jelas terlihat gugup.


Clarisa menyilangkan kedua tangannya didada sambil menatap Caca dan Vino bergantian. "Hah..." Clarisa menghela nafasnya, membuat kedua anak remaja ini tiba-tiba terkejut.


"Apa yang kalian pikirkan saat momy mengajak bertemu?" Tanya Clarisa yang sekarang duduk dengan rileks.


Caca tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tentu saja karena didalam pikirannya itu semua tentang hal buruk yang kemungkinan akam terjadi pada hubungannya.


Vino menunduk, sama seperti Caca yang juga tidak bisa menjawab. Bola mata Vino tidak sengaja melihat jemari Caca yang saling menaut begitu kencang, dan itu akan melukai Caca.


Vino menggengam tangan Caca tanpa berpikir dulu jika sekarang ini ada Clarisa didepan mereka. Clarisa memegang pelipisnya.


"Sudah berapa lama kalian pacaran?"


Deg..


Deg.. Deg..


Vino langsung melepas tangannya begitu saja, jantungnya berdegup sangat kencang. Jika kemungkinan hal buruk terjadi pada hubungannya Vino tidak tau harus berbuat apa.


Karena Caca pun jika Clarisa sudah memutuskan atau memerintahnya, gadis ini akan selalu menurutinya. Vino membayangkan jika hubungannya harus berakhir dengan begini, sungguh tidak pernah terbayangkan.


"T-tante, maaf.. Begini.. Aku-"


"Berapa lama?" Clarisa menyela ucapan Vino yang tau akan memberikan alasan. Sebenarnya Clarisa hanya ingin tau jawaban dari pertanyaannya.


"M-mau t-tiga bulan tante.." Jawab Vino.


Caca menoleh memandang Vino, dalam hati Caca terus berdo'a semoga tidak di pisahkan dengan Vino.


Apa cinta Caca sebesar itu pada Vino?? Hingga tidak ingin berpisah sama sekali??


"Ohhh.. Begitu.." Jawab Clarisa benar-benar sangat terdengar santai.


"O-oohh??" Sahut Caca yang mulai kebingungan untuk menangkap apa maksud pembicaraan ini.


"Iya, emang kenapa? Kan momy cuma nanya begitu doang kok kalian lama banget jawabnya sih.. Emang kalian mikir apa sih,hmm?"


"M-momy gak marah?" Tanya Caca ragu.


"Marah? Untuk apa? Buang-buang tenaga dan waktu.." Jawab Clarisa lalu mengambil ipadnya dan kembali mengecek pekerjaan.


"L-lalu momy k-kenapa minta Vino ketemu?"


"Ya harus dong, karena anaknya gak bilang kalo udah punya pacar, terus udah hampir tiga bulan lagi," Lanjut Clarisa tanpa memandang kedua anak remaja ini yang masih kebingungan.


"J-jadi momy gak marah?" Clarisa menjawab dengan gelengan, senyum Caca langsung terukir disana lalu memeluk Clarisa,"Makasih momy.. Maaf Caca udah berpikir negatif.." Clarisa membalas pelukan anak satu-satunya itu.


Ternyata tidak ada hal buruk yang terjadi, Clarisa hanya ingin sang anak memberitahukannya secara langsung tentang hubungan mereka.


Tentu saja, orang tua selalu ingin adil dalam hal ini untuk mengawasi anak-anaknya.


Lalu setelah itu Clarisa memberikan banyak petuah untuk Vino menjaga Caca, apa lagi petuah dari Davin yang jika di tulis maka akan menjadi cerpen.


Vino juga menerima hadiah yang diberikan Davin, ternyata itu ucapan terimakasih karena sudah menyayangi Caca dan menjaga Caca, disaat orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan.


Davin pun menitipkan Caca padanya, tentu saja Vino akan melaksanakan semuanya, karena kepercayaan orang tua Caca juga sangat penting.


Flashback Off*..


Pasangan ini saling menatap dan saling membalas senyuman, membuat yang lain tambah penasaran apa yang terjadi di antara Caca dan Vino.