
Farzan menutup pintu kamarnya dan bersandar disana, tangannya menutup wajahnya. Kelakuannya barusan membuatnya juga berdebar.
"Hahhh!" Tubuhnya merosot kebawah.
Meskipun Farzan pernah mencium bibir manis Hana yang sekarang menjadi candunya, tapi entah kenapa masih saja berasa ,ahh entahlah.
Farzan memilih ke kamar mandi dan mengambil air wudhu, dan setelah selesai saat membuka pintu kamar mandi ada Hana disana.
"Sudah selesai?" Tanya Farzan seperti tidak terjadi apa apa.
Hana melirik lalu mengangguk, "Sholat berjamaah ya!" Hana kembali mengangguk lalu mengambil air wudhu.
Hana diam bukan merasa kesal pada Farzan tapi entah kenapa lidahnya seakan keluh untuk berkata, karena kejadian tadi yang membuatnya masih merasakan berdebar dan campur aduk ini.
Merkea berdua melakukan sholat berjamaah, do'a mereka berdua tetap sama. Meminta yang terbaik untuk hubungan mereka dalam rumah tangga.
Hana mencium tangan Farzan dan sebagai kebiasaan Farzan sekarang dengan bersamaan mencium kepala Hana.
Hati keduanya terasa damai setiap setelah melakukan sholat, dan Farzan mengakui Hana benar benar seperti bidadari tanpa sayap memakai mukena berwarna putih bersih ini.
Hana pun begitu melihat wajah Farzan terasa teduh, apalagi saat tetesan air wudhu yang masih menempel di rambut pria itu.
Hana melipat mukenanya dan sejadah mereka berdua, Farzan memilih menuju meja kerjanya, dirinya tidak boleh lalai dalam pekerjaan.
Meskipun jabatannya tinggi namun dirinya punya tanggung jawab besar.
"Gak mau istirahat dulu?" Hana menghampiri Farzan dan menarik kursi belajarnya untuk duduk di sisi meja Farzan.
"Pasti tambah numpuk kalo dibiarin." Farzan mengusap lengan Hana lembut.
"Kan kata dokter -"
"Aku gak papa kok!" Perkataan Hana terputus karena Farzan menyela.
Farzan menepuk tangan Hana pelan meyakinkan jika dirinya akan baik baik saja, jika terus berdiam seperti ini semuanya tidak akan selesai dengan cepat, Farzan harus turun tangan juga.
"Aku buatin sesuatu ya!" Hana berdiri setelah mendapat anggukan dan berjalan menuju dapur.
Hana merasa senang saat pertama kali melihat dapur rumah ini, semua perlengkapan disini sangat lengkap dan Hana bisa melakukan apapun.
Hana mengambil teplon berukuran sedang dan akan membuat dorayaki selai coklat.
Tiga puluh menit Hana berkutat di dapur dan sekarang dorayaki yang dia buat sudah jadi. Hana membereskan peralatan yang kotor setelah selesai Hana membuat teh hangat untuk Farzan dan juga untuknya.
Hana meletakan semuanya di atas nampan lalu membawanya ke kamar mereka.
Hana membuka pintu kamarnya dengan pelan, terlihat Farzan sudah sangat fokus didepan layar leptopnya dan bahkan sekarang Hana sudah melihat ada beberapa tumpukan berkas di atas meja.
"Mas!" Panggilan Hana membuat Farzan langsung diam dan mencopot kaca matanya.
Matanya tertuju pada Hana yang berjalan kearahnya dengan membawa nampan.
"T-tadi kamu panggil apa??" Tanya Farzan dengan raut wajah yang sulit Hana artikan.
Hana menautkan alisnya, "M-mas?" Ucapnya dengan wajah bingung.
"B-boleh bilang sekali lagi?" Farzan menarik lengan Hana agar mendekat setelah meletakan nampannya.
"Mas?" Ucap Hana pelan.
"Lagi?" Kini wajah Farzam terlihat berseri. "Boleh sekali lagi?" Pinyanya.
"Mas!" Farzan mengusap wajahnya, dirinya telalu senang karena Hana sekarang memanggilnya 'Mas'.
"Terimakasih!" Farzan mengusap lengan Hana dengan senyum yang lebar.
Hana mengerti sekarang dengan sikap Farzan barusan. Ya, Hana memutuskan untuk memanggil Farzan dengan sebutan 'Mas' yang sudah mereka sepakati waktu itu.
Hana tersenyum membalas ucapan Farzan, ini sudah keputusan bulatnya. Bukankah ini jalan untuk menjadi lebih baik? Dan Hana juga sudah menjawan akan berusaha pelan pelan. Ya, ini juga salah satu dari usahanya.
Hana duduk dikursi yang tidak berubah sedari tadi, mengemil sambil memperhatikan Farzan yang sesekali menatap layar dan kertas. Meskipun fokus tangan Farzan mengambil dorayaki yang Hana buat.
🌸
🌸
Memang setiap hari senin jam masuk sekolah lebih awal dari hari lainnya, karena harus melaksanakan upacara bendera.
Di kediaman Abqari.
Hana sudah siap dengan seragam putih abu-abunya, dan Farzan dengan baju kantornya.
Hari ini Farzan sudah kembali bekerja setelah beristirahat cukup lama.
Setelah sholat subuh berjamaah, Hana membuatkan sarapan untuknya dan Farzan. Sarapan simpel saja yaitu nasi goreng sosis.
"Nanti pulang sekolah aku gak bisa jemput, gpp?" Ucap Farzan saat tiba di meja makan.
"Iya gak papa kok!" Hana menuangkan nasi gorengnya untuk Farzan tak lupa mengisi gelas untuk Farzan.
Mereka berdua sarapan bersama dengan suasana yang berbeda dari kemarin, ada hati yang bertabur bunga dari keduanya.
Di rumah ini sebenarnya ada satu pembantu dan satu security, namun hanya Hana yang berkuasa didapur. Hana mengizinkan pekerjaan lain selain dapur pada pembantu yang dikirim dari rumah Dinda-Mertuanya.
Hana membereskan bekas makan mereka tak lupa mencuci piring kotornya juga, sedangkan Farzan naik ke lantai dua untuk mengambil tas kerjanya dan tas sekolah Hana.
"Makasih!" Ucap gadis itu sambil tersenyum saat menerima tasnya dari Farzan.
Farzan mengulurkan tangannya yang memegang dasi, "Pasangin boleh?" Tanyanya, dan Hana mengangguk.
Farzan sedikit menunduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Hana, agar gadisnya tidak kesusahan.
"Sudah." Ucap Hana sambil menata rapi jas yang Farzan kenakan.
"Terimakasih!" Tidak hanya ucapan, Farzan lalu mengecuk kepala Hana setelahnya.
Meskipun Farzan sering melakukan ini, tetap saja Hana selalu terkejut.
"Berangkat sekarang?" Hana mengangguk lalu menyiapkan sepatu mereka saat Farzan mengambil kunci mobilnya.
Mereka beruda berangkat bersama, Farzan mengantarkan Hana terlebih dahulu. Mobil mewah berwarna putih itu membelah jalanan ibu kota yang padat, hal yang wajar disetiap senin pagi semua yang punya kesibukan masing masing pasti ingin berangkat lebih pagi, namun tetap saja akan bertemu dengan kepadatan kendaraan.
"Kamu hati hati ya! Semangat belajarnya." Ucap Farzan, mereka sudah tiba namun mobil Farzan tidak di parkiran tepat di depan gerbang karena Hana yang meminta.
"Aku sekolah dulu.. Mas hati hati ya! Jangan kecapean! Jangan telat makan!" Petuah Hana yang di angguki Farzan.
Hana menyalimi Farzan bersamaan dengan Farzan mencium kepalanya.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam." Jawab Farzan.
Hana pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju gerbang, berharap tidak ada yang mengenali dirinya keluar dari mobil milik Farzan.
"Hana!"
Tubuh Hana menegang saat ada suara yang memanggilnya, Hana tidak berani untuk berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.
Hana takut jika itu orang melihat dirinya keluar dari mobil Farzan, Hana meremas kedua tangannya berharap bukan siapa siapa.
.
.
.
.TBC.
**Nahloh siapa??
Coba tebak siapa yang manggil Hana??
Jangan lupa like dan komen juga yaa..
See you ❤❤❤**