
Sejak malam Farzan memberikan perhatian penuh padanya, meskipun setiap hari selalu perhatian. Tapi sekarang lebih berhati hati karena di dalam perut Hana ada calon generasinya.
Mereka berdua belum memberitahukan kabar bahagia ini kepada orangtua, Farzan berencana mengabarinya setelah memeriksakannnya ke dokter.
Pagi ini saja Farzan bangun lebih awal mempersiapkan semua kebutuhan istri kecilnya, Hana terkekeh setiap melihat apa yang di lakukan Farzan.
Bayangkan, Farzan yang sudah biasa di siapkan oleh Hana dan sekarang gilirannya untuk bangun pagi menggantukan sang istri.
"Kamu jangan capek-capek, biar Mas aja oke," Ucap Farzan pagi tadi.
Suasana hati Hana sedari semalam sungguh senang, ditambah Farzan memperhatikannya dari hal-hal kecil walau pun sedikit berlebihan. Tapi Hana mengharagainya dan selalu mengucapkan terimakasih.
Setelah tiba disekolah banyak sekali petuah yang Farzan berikan, "Jangan lari-larian, jangan makan yang aneh-aneh, jangan makan pedes juga, jangan berada di kerukunan takut ke senggol, jangan lupa banyak minum air putih, inget ya sayang.."
Hana hanya menganggukan kepalanya saja biar cepat lalu pamit pada Farzan.
Biaaanya setiap kali sudah mau masuk gerbang mobil Farzan sudah melaju, tapi saat Hana berbalik mobil itu masih ada disana.
Hana jadi membayangkan jika didalam sana Farzan tengah melototi dirinya dengan banyak petuah. Lebih baik langsung masuk saja bisa-bisa tuh kaca mobil yang hitam jadi transparan.
"Halo selamat pagi.." Sapa Hana pada Bunga dan Caca yang sudah ada dikelas.
"Tumben telat say?" Tanya Bunga yang memberikan jalan untuk Hana duduk di kursi sebelahnya.
"Ya biasalah.." Jawab Hana sambil menyimpan tasnya.
Tentu saja telat karena ulah Farzan.
"Idih..." Sahut Bunga, lalu semuanya terkekeh.
"Ca, bawa gak?" Tanya Hana yang di angguki Caca.
"Lo gak bosen apa makan ini cake tiap hari? Bukannya kemarin lo pesen juga?" Tanya Bunga lagi yang semakin penasaran.
"Enak sih cakenya, jadi mau lagi deh perutnya.. Hehe," Jawab cewek itu sambil melahap cake yang Caca kasih.
"Lo beneran hamil ya?" Curiga Bunga menyipitkan matanya.
Namun Hana tidak menjawab pertanyaannya dan fokus makan cake coklat ini.
Hana masih belum mau mereka tau sebelum cek ke dokter, biar pasti aja.
"Wihhh ada cake coklat nih, mau ya?" Tiba-tiba Dika datang dan menyomot cake di depan Hana.
"Boleh, tapi satu ya." Ucap Hana lalu membawa sisa cake ke pangkuannya.
"Lah, pelit amat non," Pekik Dika dengan mulut penuh.
Dika memandang Bunga dan Caca, entah sudah seperti kebiasaan seolah mereka bisa bertelepati dengan hanya bertatapan. Dan anehnya mereka juga selalu pas dengan tatapan yang sering mereka lakukan.
"Han, lo gak papa kan?" Dika mencoba bertanya kondisi Hana, namun Hana menggelengkan kepalanya. "Lo gak sakit?" Tanya Dika sekali lagi.
"Engga kok, alhamdulillah aku sehat, kenapa?" Jawab Hana sambil memandang ketiga temannya.
"Eh, e-engga sih, ya alhamdulillah kalo sehat," Sahut Dika menggaruk tengkungnya yang tidak gatal.
Sejak pagi itu Hana benar-benar menuruti petuah yang di berikan Farzan, cewek ini saat istirahat pun tidak ke kantin dan memilih ke taman sekolah yang sejuk karena banyaknya tanaman.
Bahkan sampai pulang pun juga Hana bersikap tidak biasanya, membuat keempat temannya ini garuk-garuk kepala. Tapi tetap saja mereka mau melakukan apa yang Hana minta tolong.
Farzan menjemput sangat tepat waktu, atau mungkin dirinya sudah tiba lebih dulu, Hana membuka mobil setelah sampai.
"Assalamualaikum, Mas." Ucap Hana lalu menyalimi Farzan.
"Walaikumsalam sayang, gimana gak terjadi apapun kan?" Tanya Farzan yang di jawab anggukan oleh Hana. "Gak makan pedes?" Hana kembali mengangguk, "Ka lari-lari?" Hana sampai menghela nafasnya, Farzan menyalakan mesin mobilnya, "A-aku khawatir," Lanjut Farzan dan melajukan mobilnya.
"Aku gak kenapa-kenapa kok ini," Ucap Hana, dan sekarang giliran Farzan yang mengangguk.
"Aku udah booking jadwalnya Dokter Vanya, sahabatnya Kak Reza,"
Istri kecilnya ini sedang memainkan ponselnya begitu fokus sehingga membuat banyak pertanyaan curiga didalam otaknya.
Farzan mikirnya kemana-mana mulu.
-_-
Sampai mereka tiba di lokasi, tak lupa Hana menggantikan bajunya didalam mobil dengan baju setelan yang Farzan bawa.
Hana pun keluar dari mobil bersama dengan Farzan, dan langsung menghampiri pusat informasi.
Untuk pertama kalinya Hana mengunjungi salah satu 'Milik' Keluarga Mahardika, banyak pasang mata yang memperhatikannya.
Hana memegang lengan Farzan kuat, dan pria itu merasakannya. Farzan merangkul pinggang Hana lalu tersenyum.
"Gak papa, jangan di dengerin." Ucap Farzan,
Ya, Farzan pun sedikit mendengar bisikkan-bisikan mereka soal istrinya. Setelah mendapatkan informasi jika Dokter Vanya sudah menunggu, Farzan mengajak Hana keruangan Dokter Vanya.
"Ayo sayang," Mereka akan tau apa akibatnya jiga berurusan dengan Mahardika, bukan kaleng-kaleng yang bekerja sama dengan keluarga ini. Salah satu contohnya kekuarga Bree yang memiliki pasukan ribuan orang.
Tentu saja tidak hanya itu, perusahaan tentang persenjataan pun keluarga Mahardika ikut berkerjasama. Jadi jangan sampai menggores setengah centi saja.
"Permisi," Farzan mengetuk lalu membuka pintu ruangan Dokter Vanya.
"Ya, ayo masuk," Ucap Vanya, "Ini Hana ya?" Lanjut Dokter Vanya.
Hana mengangguk, "Iya dok," Jawab Hana gugup.
"Jangan gugup, perkenalkan saya Vanya Ardesta, bisa dibilang teman suami kamu walau dia dibawah dua tingkat saat kuliah, saya juga teman dekat Reza." Lanjut Vanya memperkenalkan diri.
"Ah, iya Dokter Vanya,"
"Ya udah langsung periksa yu, kamu tiduran disini," Hana pun langsung berbaring diatas brangkar dan dokter Vanya sedang melakukan sesuatu yang Hana tidak tau apa.
"Maaf ya dibuka sedikit, cuma ada saya dan suami kamu saja," Izin Vanya dan Hana mengangguk.
"Ah," Hana terkejut saat merasakan rasa dingin di permukaan kulit bagian perutnya, dokter Vanya mengolesi sesuatu berbentuk gel.
Lalu dokter Vanya mulai meletakan alatnya di perut Hana, Hana merasa geli dan dingin sekaligus.
"Ah, kelihatan.. Kalian bisa lihat?" Ucap Vanya, Hana dan Farzan melihat kearah monitor.
Mereka terharu saat melihat ada titik disana, ternyata Hana benar mengandung anaknya, generasinya, darah dagingnya.
Farzan mengecupi tangan Hana berkali-kali dan menggumamkan kata terimakasih untuk Hana.
"Ahh, kalian coba lihat lagi ini, ada dua titik ternyata." Ucap Vanya yang langsung membuat pasangan suami istri ini merasa bahagia luar biasa.
"Selamat buat kalian berdua, saya ikut senang, selamat buat bayi kembarnya dan usia kandungannya sudah masuk tujuh minggu."
"Terimakasih sayang, terimakasih," Farzan mengecup seluruh wajah Hana. Bahkan Hana sampai meneteskam air matanya mendengar ada dua nyawa didalam perutnya.
Hana pun kembali duduk bersama Farzan dan dokter Vanya, menjelaskan apa yang boleh dan yang tidak boleh untuk Hana di kehamilan awal.
Banyak sekali yang harus Hana perhatikan, ditambah lagi Hana mengandung dua bayi dan usia Hana masih muda, jadi dokter Vanya banyak sekali memberi masukan untuk Hana.
Tak lupa dokter Hana pun memberikan poto hasil usgnya dan buku untuk Hana cek up sesuai jadwal nanti.
Pasangan ini benar-benar sangat bahagia, Farzan langsung menuju rumah orangtuanya setelah pulang dari rumah sakit untuk memberi tahu jika Hana sedang mengandung.
.
.
TBC.