My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Caca Vino...


Hana langsung masuk kerumah tanpa menunggu Farzan yang memarkirkan mobilnya, sedari tadi Hana hanya menimpali jawaban dengan deheman saja. Ternyata sampai sekarang Hana masih merasa kecewa.


Farzan yang melihat istri kecilnya itu hanya bingung, dan memilih menyusul Hana ke kamar.


"Hana!" Panggil Farzan pelan saat membuka pintu kamar mereka. Namun Hana tidak ada.


Zraaassss...


Farzan mendengar suara di kamar mandi, "Mungkin Hana di dalam." Ucap Farzan pelan.


Pria itu menaruh tas nya di meja kerja lalu duduk bersamdar di kursi kerjanya. Farzan bernafas lega karena rencana malam tadi berhasil. Bima benar benar bisa melakukan tugasnya meletakan cctv semut di dasi bagian atas karyawan magang itu.


Farzan langsung membuka laptopnya dan memeriksa rekaman cctv di ruangan lain yang Rudi sebar cctv semut. Tidak ada yang mencurigakan selama ini, namun Farzan harus tetap mengawasi sampai akhir


Ceklek..


Hana keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.


"Kamu udah selesai? Sekarang giliran aku." Farzan pun berdiri saat hendak menghampiri Hana, istri kecilnya itu menghindar.


Kening Farzan mengerut, Ada apa dengan Hana. Batinnya.


Farzan pun memutuskan untuk mandi dan Hana memilih keluar kamar.


Hana mendengus dan terus saja mendumel.


"Mas Farzan gak minta maaf gitu.. Gak nanya aku kenapa juga.. Kok kesel ya cuma begitu doang.. Astagfirullah.." Hana mengusap dadanya dan beberapa kali Istighfar.


Hana berjalan menuju dapur lebih baik dirinya membuat puding buah biar otak sama hatinya adem.


Farzan turun dari tangga setelah selesai mandi dan berpakaian, lalu melihat Hana yang sibuk di dapur.


"Mau aku bantu?" Suara Farzan mengagetkan Hana, untung saja puding yang ada di tangan Hana tidak tumpah apalagi itu masih panas.


"Gak usah.. Udah mau beres kok." Jawab Hana sedikit ketus.


Farzan menghampiri Hana lalu mengukungnya dari belakang saat Hana menyimpan loyang yang beridi pusing untuk di dinginkan.


"Mas!!" Pekik Hana terkejut dengan tingkah Farzan.


"Kamu kenapa, hemm?" Farzan tidak membiarkan Hana lolos. Gadis itu mencoba untuk keluar dari kukungan Farzan.


"Gak kenapa napa tuh." Jawab Hana.


"Gak mungkin.. Kamu jarang marah kalo gak ada sebab."


"Itu tau sendiri kenapa nanya.." Gadis itu sekarang diam dan tidak memberontak.


"Makanya aku nanya karena aku gak tau kamu marah ke aku karena apa??" Farzan membakikan Hana agar menghadapnya.


Mata Hana membelalak, Farzan ini sungguh tidak baik bagi kesehatan jantungnya.


"Jadi kenapa?" Tanya Farzan lagi.


Wajah Farzan kini semakin lama semakin mendekat, Hana berusaha untuk memundurkan kepalanya, namun jika terus begini bagian lehernya bisa keseleo.


"I-iya aku kasih tau.. S-sekarang mundur dulu." Tangan Hana sudah di depan dada Farzan untuk menahan.


"Kenapa?" Farzan melihat Hana memejamkan matanya, pria ini lalu tersenyum dan memundurkan wajahnya.


Hana yang merasakan itu langsung menghirup udara sebanyak mungkin. Bisa bisa kena asma bukan serangan jantung saja.


"Apa alasannya?" Farzan ini tidak sabaran ,Hana masih memasok nafasnya itu juga ulah Farzan.


"Gak ada." Istri kecilnya itu menepis tangan kanan Farzan dan Hana berhasil keluar dari kungkungannya.


"Heii jangan kabur." Farzan mengejar Hana yang berlari keruang tengah.


"Gak mau.. Mas Farzannya nyebelin.. Blee." Ucap Hana menjulurkan lidahnya.


Hana terus berusaha menghindar dari kejaran Farzan bahkan sampai melempari bantal sofa.


"Apanya yang nyebelin?? Mas gak apa apain kamu juga." Ucap Farzan dengan nafas yang ngosh ngoshan karena Hana terus menghindar.


"Aahhh.. Aku cape." Farzan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa nafasnya sudah memburu.


Hana menghampiri Farzan lalu duduk disampingnya, "Sama aku juga cape, Mas."


Mereka saling pandang lalu satu detik berikutnya mereka berdua tertawa bersama, menertawakan kelakuan mereka sendiri yang tidak berfaedah itu.


Farzan menggenggam tangan Hana dan menarik nafas sejenak, "Mas minta maaf kalo ada salah ya.. Jangan cuekin Mas kaya barusan, lebih baik kamu bilang kesalahan Mas." Ucap Farzan membuat Hana tertegun.


Mungkin memang dirinya yang terlalu sensi atau memang Farzan yang terlalu polos tidak tahu mana yang sebenarnya. Ah, sudahlah Hana memilih mengangguk hal kecil ini tidak perlu di besar besarkan. Hana percaya pada Farzan.


"Bentar aku cek dulu takut masih panas." Farzan mengangguk dan Hana pergi ke dapur untuk mengecek puding yang tadi dia buat.


🌸


🌸


Caca masih menunggu supir pribadinya menjemput karena hari ini mobil yang biasa Caca pakai sedang di bengkel, sudah hampir satu jam Caca menunggu di dekat pos satpam namun tidak ada tanda kehadiran jemputannya.


"Hahh.. Gimana gue pulangnya? Mana sekolah udah sepi.. Pak Mamat lama banget ihhh.." Gadis itu misuh misuh sendirian.


Bunga sudah pulang duluan karena ada urusan sama Ibunya, dan Hana juga sudah pulang bersama Farzan sedari tadi. Sekarang langit mulai terlihat mendung dan udara semakin dingin.


Caca memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya namun masih tetap dingin. "Lupa gak bawa jaket deh.. Huhuu :(" Caca semakin cemberut, nasibnya kenapa semenyedihkan ini.


Caca berharap ada seseorang yang menolongnya, siapa pun juga tidak masalah agar Caca bisa cepat pulang kerumah dan rebahan di kasur kesayangannya.


Mata sipit Caca mulai berkaca kaca meminta tolong Hana dan Bunga tentu saja tidak mungkin, "Lalu gue harus gimana?" Satu tetes air matanya mengalir begitu saja.


Caca merasa takut sendirian disini, tadi Pak satpam malah pergi kedalam untuk mengecek setiap kelas namun belum juga kembali.


"Bundaa..." Lirih Caca menangis.


Vrrrmmmmmm....


Vvrrrmmmmm....


Caca menoleh ke arah sumber suara, Caca tidak bisa melihat jelas siapa cowok yang ada di parkiran siswa itu karena terhalang oleh air matanya sendiri.


Caca mengusap matanya namun tetap tidak jelas, motor tinggi itu mulai melaju dan Caca semakin takut karena motornya tepat berhenti di depannya.


Caca menunduk dan kembali menangis.


"Caca takut.." Cicit Caca pelan.


"Lo kenapa belum pulang?" Satu kalimat yang membuat Caca mendongak karena mengenali suara ini.


"Vinooo.." Caca malah menangis histeris lalu siapa sangka cewek ini memeluk Vino.


"Ehhh.. Lo ngapain meluk gue.. Apa sih lo nangis??" Vino berusaha melepaskan pelukan Caca namun susah karena pegangan Caca kuat.


"To-tolongin aku, hiks.." Tubuh Caca bergetar, Vino bisa merasakannya.


"Lo kenapa?" Tanya Vino, sekarang pria ini tidak berusaha melepaskan pelukan Caca.


Namun Caca melepaskan pelukannya dan menatap Vino dengan wajah yang kacau, mata merah dan semakin sifit lalu hidung yang juga memerah.


"Lo kacau banget sih." Vino mengusap wajah Caca membuat gadis itu kembali menangis. "Ehh.. Ehh.. Jangan nangis lagi dong, gue gak apa apain lo juga." Vino mengacak rambutnya setelah tadi melepas helm nya.


"T-tolong anter hiks.. Anterin pulang hiks.." Ucap Caca dengan sesegukan.


"Lo gak bawa mobil?" Caca menggeleng, "Gak di jemput??" Caca mengangguk. "Hahh..." Vino menghela nafas.


Caca menundukan kepalanya dan meremas jari jarinya, "Ta-tadinya ada yang jemput.. T-tapi gak dateng sampe satu jam." Caca menjelaskan dengan suara yang parau, untuk masih terdengar oleh Vino.


Vino menatap sekeliling yang sudah sepi dan langit yang semakin gelap, "Ya udah gue anterin lo.. Ayo naik."


Caca langsung mendongak dan mengangguk, "Makasih." Gadis itu di bantu Vino naik kemotornya yang tinggi.


"Untung gue belum pulang karena di tahan sama pelatih.. Coba kalo gak ada gue, nasib lo begimana?? Lo harus berterimakasih sama gue." Vino memasangkan kembali helmnya saat merasakan Caca memgangguk. "Pegangan nanti lo mental." Tangan Caca memegang ujung tas Vino.


"Udah." Suara Caca semakin serak.


Vino pun langsung melajukan motornya menuju rumah Caca sebelum hujan turun.


.


.


TBC.


Wooww.. Mengejutkan!!


Mana tim Caca dan Vino.. ??


Tim Hana dan Farzan???


Komen next yang banyak dong...


:*:*:*


See you....