
Louis yang baru masuk kamar melihat istrinya yang tangannya terkepal dan sorot mata yang mendelik membuatnya terkejut dan khawatir
"Ada apa?mengapa kau terlihat marah?apa ada yang menganggumu lagi?siapa?akan kupanggil dia!" Tanya Louis khawatir
"Ada apa?" Tanya Louis lagi karna tak ada balasan dari sang istri
"Acara pemberitahuaan kehamilanku sudah bukan?maka besok pulang!" Ucap Rona
"Ada apa?mengapa mendadak?kita baru sampai" Tanya Louis terkejut
"Nanti kau lelah sayang,katakan ada apa?jangan terlalu mendadak setidaknya disini dulu selama satu minggu atau beberapa hari" Ucap Louis
"Pria itu tidak bisa dibiarkan!" Gumam Rona kesal
"Pria siapa?" Tanya Louis
"Om tua itu telah menikahi bunda!" Ucap Rona
"Om?tuan Aldrich?" Tanya Louis
Yah dari mereka tidak ada yang memanggil tuan Aldrich ayah ataupun ayah mertua
Sebab Rona yang belum terbiasa dan Louis yang ikut ikut Rona
"Iyaaaa!" Ucap Rona kesal
"Sudahlah biarkan saja sayang mereka juga ingin bahagia dan bersama jika memang bunda sudah menerima kenapa kau tidak?yang hidup dengannya kan bunda bukan dirimu" Ucap Louis
Rona melotot mendengar itu meskipun ucapan Louis ada benarnya namun entah mengapa ia masih kesal saja
Entah itu karna acara pernikahan tanpa adanya dirinya atau hal lainnya
"Ya tapi kan aku masih belum percaya padanya" Ucap Rona
"Kenapa?jika bunda saja sudah percaya mengapa kau tidak?biarkan mereka melakukan apapun yang diinginkan itu hidup mereka bukan hidupmu" Ucap Louis
"Dia ayahmu,jika mendengar cerita tentang kehidupan kalian aku merasa tuan Ulrich memang bersalah tapi dia sudah meminta maaf bahkan secara berkali kali" Ucap Louis
Melihat Rona yang tak mengucapkan sesuatu membuat nya mengguncang tubuh istrinya
"Ada apa?kenapa melamun?kau mendengar ucapanku bukan?" Tanya Louis
"Yaaa" Balas Rona malas
"Sudahlah kapan menemui sibajingan itu?sipenebar benih?" Tanya Rona
"Besok" balas Louis
"Dimana?" Tanya Rona
"Disekolahannya,dia satu sekolah dengan Zahra aku akan memaksanya untuk ikut denganku karna sudah kuhubungi tak pernah dijawabnya" Ucap Louis
"Kau bilang dia temanmu?lalu mengapa dia masih bocah tengik?kupikir temanmu seangkatan umur" Ucap Rona
Memang dasar yaah jaman sekarang masih sekolah pun sudah banyak tingkah
Membuat Rona geleng geleng kepala saja
"Dia adik dari temanku,kami sudah mengenal lama" Ucap Louis
"Bochiell tokcer juga yah" celetuk Rona
" Apa?" Pekik Louis
"Hehe enggak" Ucap Rona cengengesan
"Aku juga tokcer sayang buktinya dalam waktu sebentar kau sudah bunting" Ucap Louis
"Bunting bunting ucapanmu itulo difilter dulu!" Ucap Rona
Memang apa yang salah?
"Memang ada apa?benar bukan?" Tanya Louis
"Sudahlah aku ingin menghubungi bunda!jangan ganggu!" Ucap Rona melototi Louis
"Iya baiklah" ucap Louis
.
.
.
Louis didampingi Rona berjalan menuju kelas Dio dengan seorang guru yang membimbing arah
"Terima kasih" ucap Rona saat sudah mencapai tempat
"Sama sama bu" Ucap Guru
Mereka masuk dengan langsung mencari sesosok pria bajingan yang bernama Dio
Menjadi sorotan banyak siswa dan siswi
Pria itu berada dibarisan belakang dan pojok dengan bersender dan mencoret coret buku
"Permisi saya ingin berbicara dengan Dio,saya permisi membawanya pulang sekalian" Ucap Louis
"Ada masalah apa pak?" Tanya Guru
"Saya sudah izin guru yang ada dikantor!" ucap Louis yang sudah tak sabar menonjok pipi pria yang gelagapan disana
"Baik pak" Ucap guru
Dengan cepat Louis berjalan mengambil tas dan menggenggam tangan Dio dan menyeretnya keluar
Tak ada yang berbicara hingga Louis membawa Dio kesebuah tempat sepi
'Ehh Kecill kali dia,kok bisa bisanya buntingin anak orang nggak tanggung jawab lagi! Dasar bochil banyak tingkah!' batin Rona menatap tak suka Dio
"Benar kau menghamili Zahra?" Tanya Louis mencari kejujuran Adik temannya
"Iyaaa" Ucap Dio jujur
"Dan kau menyuruhnya menggugurkan?" Tanya Louis dengan tangan yang sudah terkepal kuat
"Yaa"
"Bajingan!" Maki Louis dan
BUGH
BUGH
BIGHH
BAGHH
BOGHHH
Pukulan bertubi tubi dipukulkan Louis dengan kuat dan tanpa ampun seakan orang didepannya adalah sebuah mainan
"Kau seenaknya sendiri memakai lalu kau buang hah?kau pikir kau siapa?" Ucap Louis marah
Dio yang sudah tak tahan dan tak terima dengan cepat langsung membalas pukulan
Terjadilah adu gelutt diantara mereka
"Sudah!" Ucap Rona menengahi membuat Louis berhenti memukuli dan Dio melakukan hal yang sama
"Dengan menghajarnya tidak ada jaminan membuatnya mau bertanggung jawab" Ucap Rona menatap Louis
Dia mendekati Dio dan menanyakan suatu pertanyaan
"Apa benar kau tidak mau bertanggung jawab pada zahra?" Tanya Rona
"Tidak" Balas Dio singkat
"Beri alasan" Ucap Rona
"Karna aku tidak mencintainya" Ucap Dio enteng
PLAKKKK
"Bukankah enak menjadi pria?kau mengeluarkan benih dengan kenikmatan sementara zahra akan mengeluarkan benihmu dengan kesakitan"
"Kau tidak merasakan rasa sakitnya dengan hanya bertanggung jawab menafkahinya hidup bersamanya,membesarkan anak kalian bersama apakah kau tidak menginginkannya?" Tanya Rona
"Tidak" Balas Dio datar
"Baiklah,mendengar jawabanmu yang memang terlihat tidak memiliki rasa kepada adik iparku dan mungkin niatmu memang hanya memakainya" ucap Rona
"Jadi kami tidak akan memaksamu bertanggung jawab lagi" Ucap Rona membuat Dio terkejut
Bersambung.