Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Di luar Rencana


Menyadari hal itu Selva langsung beringsut mundur dan menutupi lehernya dengan rambut panjangnya. Akan tetapi Ganindra terus mendekat dan memegang erat lengan Selva kemudian memaksa masuk di celah rambut yang menutupi lehernya.


"Tuan jangan Tuan! Jangan seperti ini Aku mohon," tangis Selva.


Melihat Selva menangis membuat Ganindra melunak dan langsung melepaskan cengkeramannya. Entah kenapa hatinya merasa perih melihat Selva menangis memohon untuk di lepaskan.


"Apakah karena selama ini wanita yang ku inginkan memberikannya dengan suka rela demi mendapatkan uangku?" batin Ganindra yang sebelumnya menganggap Selva tak berbeda dari wanita lainnya sehingga ia ingin memaksakan kehendaknya.


Seolah baru tersadar atas apa yang di lakukan, Ganindra kembali mendekati Selva. Namun kali ini Ganindra dengan kerendahan hatinya meminta maaf atas perbuatannya.


"Ini benar-benar di luar kendali ku Tiana, Aku sangat menyesal."


"Aku ingin pulang Tuan..."


"Tiana, Sekali lagi Aku minta maaf."


Selva terdiam menatap Ganindra "Sepertinya Ganindra benar-benar merasa menyesal atas apa yang di lakukan, Tapi Aku tidak boleh cepat Memaafkannya, Aku ingin lihat terlebih dahulu seberapa besar dia menyesal dan seberapa besar dia menginginkan ku." batin Selva yang kini merasa yakin jika Ganindra sama sekali tidak mencurigainya, Melainkan menginjakkan dirinya.


"Aku ingin pulang sendiri." Selva berpura-pura membuka pintu mobil karena Ganindra tidak menurutinya untuk pulang. Tapi dengan cepat Ganindra menahan pintu itu dan menyetujui keinginan Selva.


"Baiklah Kamu boleh pulang, Tapi izinkan Aku mengantar kan mu."


Selva terdiam dan kembali berpura-pura memikirkan tawaran Ganindra. Selain itu Selva juga masih ingin melihat seberapa besar Ganindra menginginkannya.


"Aku mohon, Please..."


"Baiklah."


Ganindra dapat bernafas lega karena akhirnya Selva menyetujuinya. Entah kenapa hatinya benar-benar merasa sangat takut jika Selva benar-benar marah dan meninggalkan perusahaannya.


Sesampainya di kost-an Selva langsung turun sebelum Ganindra sempat membukakan pintu mobil untuknya.


Tidak di beri kesempatan untuk membukakan pintu mobil, Ganindra bergegas mengambil barang-barang yang mereka beli di bagasi. Namun lagi-lagi Selva tak menghiraukan itu dan bergegas masuk sehingga Ganindra berlari mengejarnya.


"Tianaaa..."


Selva menghentikan langkahnya tanpa mau menoleh ke belakang.


"Tidak papa jika kamu masih marah padaku tapi tolong terima ini, Setidaknya sebagai tanda permintaan maaf ku."


Setelah berpikir beberapa menit, Selva mengambil semua barang di tangan Ganindra kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.


Ganindra hanya bisa melihat Selva masuk begitu saja tanpa bisa mencegahnya lagi. Entah kenapa ia mau saja bersikap seperti remaja bodoh yang tengah jatuh cinta sehingga rela menurunkan egonya sebagai seorang lelaki dan mengalah pada gadis kecil yang usianya sepantaran dengan anaknya.


Selva yang melihatnya dari jendela kaca tersenyum smirk karena telah berhasil membuat Ganindra jatuh cinta kepadanya. Ia benar-benar tidak menyangka rencananya akan lebih mudah dari yang ia pikirkan.


Setelah melihat Ganindra pergi dengan lesu, Selva melangkah mundur dari jendela. Namun baru saja ia memutar tubuhnya, Selva menabrak Marvin yang berdiri di depannya.


"Marvin..."


"Ada apa gadis lima lapan, Apa yang sedang kamu lihat?"Tidak..." Selva bergegas meninggalkan Marvin sembari menenteng semua barang pemberian Ganindra. Melihat tote bag dengan merek Dunia, Marvin bergegas mengikuti Selva yang menaiki tangga satu persatu.


"Keren juga kamu baru sehari bekerja sudah mendapatkan begitu banyak barang dengan merek ternama Dunia," ucap Marvin yang terus mengejar Selva hingga berjalan sejajar dengannya.


Selva sama sekali tidak mempedulikan ocehan Marvin, Baginya penilaian Marvin atau siapapun tidak penting baginya. Karena yang terpenting adalah tujuannya membalas apa yang Galvin dan keluarganya lakukan berjalan dengan lancar.


Bersambung...