
Selva bergegas bangkit. Merapikan pakaian dan juga rambutnya yang berantakan. Kemudian menundukkan sedikit badan dan kepalanya di hadapan Narendra. "S-selamat malam Tuan," ucapnya sedikit terbata. Sementara Marvin dengan gaya santainya berjalan mendekati Selva dan merangkul pundaknya.
Melihat tatapan mata Narendra yang terarah di bahunya. Selva langsung menyingkirkan tangan Marvin. Namun seperti biasa Marvin kembali meletakkan tangannya di bahu Selva. Bahkan kini ia menarik kearahnya hingga tak ada lagi jarak diantara keduanya.
"Lihatlah Papa, Dia berani menolak putra mu."
"B-bukan begitu Tuan, Saya hanya..."
"Masuklah!" Narendra langsung memotong ucapan Selva dan meminta mereka masuk.
Sikap dingin yang Narendra tunjukkan membuat Selva takut. Apalagi saat Narendra meminta Marvin untuk bicara berdua terlebih dahulu mengingatkan peristiwa lalu saat Ganindra melakukan hal yang sama dan berakhir dengan rencana yang membuatnya masuk penjara.
"Kenapa Aku bodoh sekali dengan mengulangi peristiwa yang sama, Seharusnya Aku tidak datang kemari." Selva bangkit dari duduknya dan bergegas pergi. Namun belum sempat ia keluar pintu. Marvin datang menghentikannya.
"Apa kamu ingin melarikan diri sebelum mendapatkan restu?"
Mendengar itu Selva berbalik badan melihat Marvin dan Narendra yang berdiri sejajar menatapnya. Kemudian dengan senyum di wajahnya Marvin meraih tangan Selva dan membimbingnya ke depan Narendra.
"Papa katakan sesuatu untuk calon istri ku." dengan senyum yang terus mengembang Marvin meminta Ayahnya mengatakan sesuatu yang sudah mereka sepakati.
"E-ya. Jika putra ku sudah memilih sendiri untuk menjadikan mu istri, Maka sebagai orang tua Aku hanya bisa memberikan restu ku dan mendoakan semoga kalian bahagia."
Selva tercengang mendengar apa yang Narendra katakan. "Benarkah itu, Apa Aku tidak sedang bermimpi?" gumam Selva dalam hati.
"Apa kamu sedang berpikir ini mimpi?" tanya Marvin sambil mencubit gemas pipi Selva.
"Aowwhh sakittt..." ringis Selva.
Melihat itu Marvin hanya tertawa. Sementara Selva mengusap-usap pipinya sendiri. Menyadari apa yang terjadi bukanlah mimpi, Selva menahan tawa bahagianya mengingat Narendra masih berdiri diantara mereka. Meskipun ingin sekali Selvaa bersorak saat itu juga Namun Selva harus menahannya dan hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada Narendra karena telah menerimanya dengan baik.
Setelah itu mereka melanjutkan dengan makan malam bersama. Sepanjang makan malam bersama, Tak banyak pertanyaan yang Narendra lontarkan pada Selva mengingat Marvin telah menceritakan banyak hal tentang Selva. Dan sepertinya itu tidak menjadi masalah besar untuk Narendra karena yang terpenting saat ini putranya sudah mau kembali ke rumah. Terlebih kini Marvin juga telah mengizinkan Narendra menikah kembali sebagai pertukaran syarat dengan restu yang Narendra berikan atas hubungannya dengan Selva.
Setelah makan malam selesai. Dan Narendra pergi untuk istirahat, Selva yang tidak melihat sosok ibu di rumah besar itu mempertanyakannya pada Marvin.
"Aku juga tidak, Tapi Mama pasti sedang melihat kita."
"Maksud mu?"
"Mamaku sudah lama tiada, Sejak usia ku masih enam tahun."
"M-maafkan Aku Marvin."
"Tidak papa, Lupakan itu kita kan sedang berbahagia, Aku yakin Mama di sana juga bahagia untuk ku."
Selva mengangguk-anggukkan kepalanya menatap Marvin yang terlihat sudah terbiasa dengan tanpa hadirnya sosok ibu di sisinya. "Ngomong-ngomong soal ibu, Selva jadi teringat dengan ibunya yang ntah bagaimana kabarnya kini. Apakah beliau baik-baik saja, Apa beliau masih mengingat ku atau malah sudah benar-benar melupakan ku?" berbagai macam pertanyaan terbersit di benak pikirannya. Ia merasa benar-benar sebatang kara karena kesalahannya di masa lalu.
Kembali mengingat akan masa lalunya, Seketika Selva berpikir bagaimana dengan mudah Narendra mau menerimanya. Ia menatap Marvin seolah mencari jawaban apa yang terbersit di pikirannya.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu Selva?" tanya Marvin yang menyadari tatapan Selva penuh selidik.
"Bagaimana Tuan Narendra dengan mudah menerima ku, Apakah ada rencana di balik restu yang ia berikan?"
"Oh astaga Selva, Apa kamu kembali ingin menyamakan Aku seperti mantan kekasih mu itu?!" Marvin cukup di buat kecewa atas pertanyaan Selva.
"B-bukan begitu Marvin, Aku hanya..."
"Hanya khawatir, Takut?"
"Marvin, Maafkan Aku, Aku benar-benar takut kebahagiaan ini hanya sesaat dan berganti dengan tragedi yang tidak pernah ku bayangkan."
Marvin menghelai nafas panjang dan meraih tubuh Selva ke pelukannya. "Aku tahu ada rasa trauma yang tersisa di hati mu, Tapi percayalah tidak ada rencana apapun di balik restu yang Papa berikan. Papa hanya meminta agar Aku mengizinkannya untuk menikah lagi. Yah selama ini Aku memang tidak pernah mengizinkan Papa untuk menikah lagi. Tapi sekarang Aku sadar, Aku terlalu egois karena telah membiarkan Papa menduda begitu lama sementara Aku dan kak Maria sibuk dengan urusan kami sendiri."
Mendengar penjelasan Marvin Selva dapat bernafas lega. Masa lalu kelam yang sudah ia lalui memang sering kali menghantui Selva. Terlebih kisah cintanya yang kini juga tidak jauh berbeda, Membuat Selva overtaking sewaktu-waktu.
Bersambung...