
Tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, Selva kembali melangkah ke atas dengan menunjukkan wajah cemberutnya. Ganindra yang melihat itu bergegas mengejarnya dan berusaha membujuknya.
"Tiana... Aku janji tidak akan menyakiti mu jika kamu mau berada di sisiku."
Selva yang sudah sampai di depan pintu kamarnya berbalik badan begitu mendengar apa yang Ganindra katakan.
"Dalam status apa Aku harus di sisi Anda? Bukankah Anda masih memiliki istri?"
Mendengar itu, Ganindra mendekati Selva dan memegang lembut bahunya. "Kita bisa bicara di dalam, Dengan kepala dingin?"
Dengan tatapan sinisnya Selva menoleh ke tangan Ganindra yang berada di bahunya. Membuat Ganindra yang takut Selva semakin marah padanya langsung menurunkan tangannya. Setelah itu Selva mengizinkan Ganindra masuk dan mempersilahkannya duduk di kursi kayu yang terletak di samping ranjang.
"Tiana, Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu, Apalagi kamu tidak berangkat kerja, Apa kamu benar-benar marah padaku dan berniat berhenti dari pekerjaan mu?"
"Gila, Baru sehari saja Ganindra sudah sebucin ini, Bagaimana kalau Aku benar-benar merayunya." Selva membatin antara senang dan tak habis pikir dengan Ganindra yang begitu mudah jatuh cinta meskipun statusnya masih memiliki istri.
"Tiana, Kamu tidak menjawab pertanyaan ku?"
"Oh-aku... Tadi ada urusan jadi Aku gak masuk kerja."
"Jadi kamu tidak berniat keluar dari pekerjaan mu?" tanya Ganindra bahagia.
"Jika Aku tidak bekerja bagaimana Aku akan membayar kost-an ini, Untuk Aku makan dan kebutuhan lainnya. Mungkin Aku akan mengundurkan diri setelah Aku menemukan pekerjaan lain."
"Aku tidak akan membiarkan itu. Aku tidak akan membiarkan kamu bekerja apalagi bekerja di tempat lain. Cukup kamu berangkat ke kantor dan temani Aku maka Aku akan membayar berapapun yang kamu inginkan."
"Berapa pun yang ku inginkan? Apa Tuan serius?"
"Yah, Aku tidak pernah bercanda dengan apa yang sudah ku tawarkan."
"Terimakasih untuk tawaran dan kebaikannya, Tapi gaji yang sudah tertera pada saat Aku melamar kerja, Itu sudah cukup untuk bayar kost dan kebutuhan hari-hari. Aku harus menerima gaji sesuai dengan apa yang Aku kerjakan."
"Kamu menolak kesempatan untuk mendapatkan banyak uang dengan mudah Tiana?"
"Mungkin istri dan anak Tuan lebih berhak mendapatkannya daripada Tuan menghamburkan uang untuk seseorang yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan."
"Ya, Untuk masalah istri kamu harus tahu jika sampai hari ini kami masih bersama, Itu hanya untuk menjaga nama baik dan kehormatan di mata para kolega bisnis kami. Tidak ada lagi cinta diantara kami sehingga pada saat kamu memecahkan bingkai foto keluarga kami, Sedikitpun Aku tidak marah, Karena itu memang bukan sesuatu hal yang penting untuk ku."
Mendengar penjelasan Ganindra Selva terdiam seakan tak percaya dengan semua kata-katanya. Namun Selva tidak menunjukkan ketidak percayaannya demi untuk memuluskan rencananya.
"Bagaimana rasanya tinggal dalam satu atap tapi tidak saling mencintai?" tanya Selva yang berpura-pura iba.
"Sangat menyiksa batin Tiana..."
Entah ceritanya benar atau tidak, Tapi Ganindra benar-benar memasang wajah sedihnya di depan Selva seolah meminta belas kasihan Selva yang kini menjadi dambaan hatinya.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Selva merubah sikapnya dengan membuatkan kopi untuk Ganindra. Setidaknya dengan bersikap demikian Ganindra tidak akan begitu mencurigainya karena Ganindra lah yang memaksanya.
"Terimakasih Tiana," ucap Ganindra mengambil cangkir kopi yang Selva berikan untuk nya.
"Oh ya, Tadi kenapa tadi penjaga keamanan bilang di sini tidak ada anak kost yang bernama Five Eightiana, Memang apa nama yang kamu gunakan untuk bisa tinggal di kost-an ini?"
Mendengar itu Selva terperanjat kaget, Ia benar-benar belum memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan jika Ganindra menanyakan itu, Karena alasan itu juga Selva langsung menarik masuk Ganindra ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan yang sama dari penjaga keamanan.
Bersambung...
Kemarin lihat view dikit banget jadi gak semangat nulisnya 🤣