Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Kembali Ke Rumah


Tiga hari kemudian Marvin pun di perbolehkan pulang. Marvin mengajak serta Selva dan putrinya untuk tinggal di rumahnya. Meskipun sebelumnya Selva sempat menolak karena sikap Narendra yang memperlihatkan ketidaksukaan nya, Namun karena desakan Marvin dan juga Maria, Akhirnya Selva setuju untuk tinggal di rumah besar itu demi kenyamanan putrinya.


Sementara Hilda menjadikan kesempatan itu untuk terus datang ke rumah Narendra dengan alasan ingin menebus kesalahan masa lalunya dan ingin mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada Selvi. Seperti hari ini Hilda kembali datang untuk ke tiga kalinya semenjak Selva dan Selvi tinggal di rumah Narendra. Ia langsung menghampiri Selvi yang terlihat asyik bermain dengan seorang pengasuh di halaman rumah. Tidak seperti saat di tinggal pergi oleh Ratna, Kini anak kecil itu terlihat sudah ceria dan tak jarang mengembangkan senyumnya.


"Aowwhhh..."


Rengekan kesakitan Hilda terkena bola yang Selvi lempar, Membuat anak kecil itu mematung menatap Hilda yang tengah memegangi keningnya.


"Non Selvi... Ayo minta maaf," ucap sang pengasuh sambil menarik lembut pergelangan tangan Selvi dan menuntunnya menuju Hilda.


"Anak perempuan kok di kasih mainan bola!" ucap Hilda menahan kekesalannya.


"Maaf Nyonya, Sebelumnya sudah saya larang tapi Non Selvi terus merengek."


"Ada apa ini?!" tanya Narendra yang datang melihat perdebatan keduanya.


Melihat kedatangan Narendra, Hilda berakting seakan-akan ingin jatuh pingsan sembari memegangi ujung keningnya.


"Hilda, Kamu kenapa?" tanya Narendra yang langsung menangkap tubuh lunglai itu.


"Kepala ku sakit Mas tadi terkena bola." ujar Hilda sembari menyipitkan matanya, Melirik kekhawatiran Narendra terhadap dirinya.


"Imah... Kamu gimana sih jagain Selvi nya, Masa anak kecil segitu bisa lempar bola sampai mengenai kepala Hilda?"


"Maaf Tuan, Ini salah saya, Seharusnya saya menangkap bola itu dengan benar supaya tidak terlempar mengenai kepala Nyonya Hilda." jelas pengasuh yang bernama Imah itu.


"Ahh sudah-sudah... Sejak datang ke rumah ini, Anak kecil itu memang selalu saja membuat masalah!" ujar Narendra yang kemudian membawa Hilda masuk kedalam.


•••


Sementara Selva tengah mengantarkan obat untuk Marvin yang berada di kamarnya. Meskipun luka dan kondisi Marvin sudah pulih. Namun ia harus menghabiskan obat yang Dokter berikan.


"Ini yang terakhir," ucap Selva sembari memberikan butiran obat di jari telunjuk dan ibu jarinya.


"Terimakasih telah merawat ku dengan sangat baik," ucap Marvin yang kemudian mengecup punggung jari-jemari Selva.


"Hanya ini yang bisa ku lakukan," ucap Selva yang langsung menundukkan wajahnya.


"Kenapa kamu terlihat sedih, Semua masa buruk sudah berakhir, Kita akan segera menikah dan membuka lembaran baru dengan bahagia."


"Papa mu belum sepenuhnya setuju." saut Selva sedih.


"Tidak perlu menghiraukan itu, Papa tidak ada pilihan lain selain menyetujui pernikahan kita, Seiring waktu Papa akan terbiasa dan menerima pernikahan kita dengan sepenuh hati. Percayalah."


"Marvin benar," ucap Maria yang langsung nyelonong masuk ke kamar Marvin. Membuat Selva dan juga Marvin serentak menoleh ke arahnya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang Papa karena Aku sudah menemui salah satu pihak wedding organizer untuk mengurus pernikahan kalian."


"Apa! Kak Maria sudah menemui wedding organizer?" tanya Marvin terkejut sekaligus bahagia tak terkira.


"Ya, Kamu terima beres saja, Kakak yang akan mengurus segalanya."


"T-tapi apakah ini tidak terlalu cepat?" tanya Selva.


"Apanya yang terlalu cepat Selva, Ini sudah terlalu lama, Lagipula aku ingin secepatnya kalian menikah supaya aku bisa bebas menikmati kehidupan ku seperti dahulu."


"Oh jadi menurut kak Maria aku jadi penghalang kebebasan Kakak?" protes Marvin.


"Bukan begitu Marvin, Maksudkuuu..." Maria tidak meneruskan ucapannya karena Marvin berlari mengejarnya.


Melihat kakak beradik yang terus berkejaran melempar berbagai benda yang ada di dekatnya seperti anak kecil, Membuat Selva tersenyum pedih mengingat masa lalunya yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga dari saudara maupun kedua orang tuanya.


Bersambung...