
"Diam mu sudah menjawab semuanya."
Marvin menahan tangan Selva yang ingin keluar setelah mengatakan itu. Kemudian ia berdiri tepat di depan Selva.
"Apa kamu pikir Aku main-main sehingga tidak memikirkan ini?"
Selva mengernyitkan keningnya menatap bingung Marvin atas apa yang ia katakan.
"Aku hanya bercanda, Bagaimana mungkin hal sebesar ini tidak ku beritahu kepada kakak dan Ayah ku."
"M-maksud nya mereka sudah tahu Aku memiliki anak di masa lalu? Bagaimana tanggapan mereka, Apa mereka menerimanya?" tanya Selva penuh antusias.
"Jika mereka tidak menerimanya, Aku tidak akan berada di sini."
Selva terdiam bingung dengan jawaban Marvin.
Melihat kebingungan Selva, Marvin tersenyum dan mencubit pipinya dengan gemas.
"Dengar, Aku ini tinggal di kost-an dan bekerja sebagai pelayan demi menghindari perjodohan yang Papa inginkan. Lebih dari lima bulan Aku lari dari rumah. Sampai akhirnya kak Maria pulang dari Australia dan mengancam Papa jika masih terus memaksa ku menikah dengan anak sahabat Papa, Maka kak Maria tidak akan pernah pulang lagi ke Indonesia."
"Lalu?" tanya Selva yang masih penasaran dengan bagaimana Marvin bisa pulang dan mau bekerja di Cafe milik Ayahnya.
"Lalu saat kak Maria datang dan membujuk ku untuk pulang, Tentu ini menjadi kesempatan untuk ku mengajukan syarat pada Papa."
"Dan syaratnya?" Selva mulai berbunga dan menduga jika syarat yang di ajukan Marvin adalah tentang dirinya.
"Apalagi, Tentu Aku meminta agar Papa tidak lagi menjodoh-jodohkan ku dengan siapapun karena Aku ingin memilih sendiri wanita yang akan ku nikahi."
Selva bermasam muka ketika jawaban yang Marvin berikan tak sesuai dengan harapannya.
"Dan sekarang Aku sudah menemukan wanita itu, Ya itu kamu. Itu kan yang ingin kamu dengar?"
"Hah!" Selva ternganga ketika mendengar ucapan Marvin.
"Tidak usah berpura-pura begitu, Aku tahu kamu ingin aku mengatakan ini, Iyakan?" Marvin kembali mencubit pipi Selva kemudian memeluknya dengan mesra.
"Jangan khawatirkan apapun. Apa yang terjadi di masa lalu. Tidak akan terjadi lagi. Kakak dan Papa ku akan menerima mu dan putrimu dengan baik. Aku jamin itu."
Usia Marvin yang jauh lebih dewasa dari Selva memang membuat Selva nyaman. Terlebih perawakan Marvin yang tinggi dan cukup berisi membuat Selva merasa semakin aman terlindungi jika berada di sisinya.
"Karena pada akhirnya kita hanya akan hidup dengan karakternya. Bukan fisiknya."
Jawaban yang cukup singkat namun begitu bermakna bagi Selva membuat Selva tersenyum lega. Ia merasa benar-benar sangat beruntung karena bukan hanya sekedar cintanya di terima oleh lelaki pujaan hatinya. Tapi lebih dari itu, Ternyata Marvin juga mencintai dirinya lebih dari yang ia kira.
"Oh... Ya ampun... Kalian masih di sini?" tanya Maria yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Membuat Selva mencoba melepaskan diri dari pelukan Marvin. Namun dengan jailnya Marvin semakin mempererat pelukannya seolah menantang kakaknya yang melangkah mendekatinya.
"Marvin, Lepasin!" tegas Selva yang memerah malu.
"Tenang saja sayang." jawab Marvin dengan santainya.
"Ehem!!! Baiklah, Teruskan saja, Aku kesini cuma mau bilang malam ini Aku tidak pulang, Jadi kamu harus pulang temenin Papa, Kalau mau sekalian saja ajak Selva ke rumah biar di kenalin sama Papa juga." setelah mengatakan itu Maria langsung pergi meninggalkan ruangan seolah tak peduli dengan apa yang sedang adiknya lakukan.
Melihat Maria telah pergi, Selva langsung melepaskan diri dengan mendorong tubuh Marvin hingga terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Setidaknya jangan lakukan itu di depan kakak mu!" tegas Selva.
"Memang kenapa?" tanya Marvin dengan santainya.
"Kamu nasih tanya kenapa, Ya gak enak lah di lihat olehnya."
"Hey... Kak Maria itu sudah belasan tahun hidup di luar negeri jadi itu hal yang sangat wajar baginya. Jangankan hanya berpelukan berciuman dan melakukan hubungan s..."
"Ssstttt!!! Jangan di teruskan, Aku tidak ingin dengar!"
"Tapi kamu paham kan maksudku?" dengan ciri khas menggodanya Marvin kembali mendekati Selva memeluknya dari belakang dan menghembuskan nafasnya di belakang telinganya.
Tentu hal itu membuat Selva seketika meremang seolah aliran listrik mengalir keseluruh tubuhnya. Tak dapat di pungkiri, Terkadang Selva juga sangat merindukan hal itu sehingga untuk sejenak Selva memejamkan mata menikmatinya. Namun tiba-tiba bayangan masa lalunya muncul dan membuat Selva membuka mata dan melepaskan tangan Marvin dengan membentaknya.
"Lepas!" tegas Selva yang langsung berbalik badan menatap Marvin yang terlihat bingung.
"Ini tidak benar! Aku tidak akan pernah lagi berbuat kesalahan seperti yang ku lakukan di masa lalu!"
Bersambung...