Masa Lalu Kelam Gadis - 058

Masa Lalu Kelam Gadis - 058
Akankah Kembali Ke Dalam Jeruji Besi?


Sementara Selva tengah merenungi nasibnya yang harus kembali merasakan dinginnya jeruji besi. Air matanya di biarkan mengalir deras hingga membasahi leher dan juga pakaiannya. Dalam hatinya tengah merutuki nasibnya dan mempertanyakan kenapa Tuhan terus saja mengujinya seakan tak membiarkannya bahagia. Namun lamunan itu terhenti ketika pintu sel di buka oleh seorang petugas yang memanggilnya keluar.


"Saya?" tanya Selva memastikan.


"Iya kamu, Cepat!"


Selva pun bergegas bangkit mengikuti petugas yang membawanya ke ruang penjengukan. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang wanita tengah duduk memainkan ponselnya.


"Kak Maria." batin Selva yang bersamaan dengan Maria mengangkat wajahnya kemudian mengalihkan pandangannya kepadanya.


Melihat tatapan Maria, Selva semakin merasa gugup karena khawatir Maria juga akan menyalahkannya seperti Ratna mengalahkannya. Apalagi ketika Maria bangkit dan berjalan mendekatinya mbuat Selva terus menundukkan kepalanya sembari menggenggam erat celana longgarnya.


"Bersiaplah, Marvin sudah menunggu mu."


Kata-kata itu mengagetkan Selva yang sama sekali tidak percaya dengan apa yang di dengar. Ia menatap Maria seolah meminta Maria mengucapkan lagi kalimat yang lebih jelas.


"Ya, Aku sudah membayar jaminan untukmu, Jadi sebelum kamu terbukti bersalah kamu tidak akan di tahan, Sekarang ikut dengan ku karena Marvin terus menerus menyebut nama mu."


"E-Apa kak Maria percaya kepada ku?"


"Aku tidak tahu, Aku hanya melakukan ini untuk adikku. Tapi sepanjang perjalanan kesini Aku berpikir, Mungkin adikku berkelahi dengan pria itu untuk melindungi mu, Dan saat Marvin tumbang, Giliran mu yang menghajarnya. Disaat itulah wanita itu datang dan menuduhmu sebagai tersangka nya."


Mendengar itu Selva dapat sedikit bernafas lega. Setidaknya Maria berpikir positif dan tidak ikut menuduhnya sebagai penyebab Marvin terbaring di rumah sakit.


"Terimakasih Kak, Tunggu sebentar." dengan perasaan campur aduk, Selva bergegas kembali ke ruang tahanan untuk mengganti pakaian seragamnya. Setelah itu ia kembali dan mengikuti aturan yang berlaku sebelum ia meninggalkan tempat yang hampir mengurung dirinya seperti beberapa tahun lalu.


•••


Sesampainya di rumah sakit, Maria langsung membawa Selva menuju ruangan dimana Marvin di rawat. Namun langkah keduanya di hentikan oleh Narendra yang kembali mendorong mereka keluar dari kamar.


"Papa, Biarkan kami masuk," ucap Maria.


"Kamu bisa masuk, Tapi tidak dengan Selva!"


"Kenapa Papa, Marvin terus menyebut nama Selva. Mungkin dengan bertemu Selva Marvin akan cepat pulih."


"Kamu terlalu khawatir berlebihan sehingga tanpa bertanya pada Papa membawa gadis ini kesini, Padahal tanpa gadis ini kesini pun Marvin sudah sadar."


"Apa, Marvin sudah sadar?" tanya Maria memastikan. Sementara Selva yang seakan tak peduli dengan ucapan ketus Narendra tersenyum bahagia. Karena yang terpenting baginya, Marvin tidak berada dalam bahaya lagi.


"Ya, Sekarang Marvin hanya sedang tidur setelah meminum obatnya." jelas Narendra menurunkan nada suaranya sembari menatap sinis Selva.


Suasana menjadi canggung ketika tidak ada lagi perbincangan. Terlebih untuk Maria yang jadi serba salah kepada Selva karena Ayahnya kembali memperlihatkan ketidaksukaannya pada Selva. Untung kecanggungan itu tidak berlangsung lama karena terdengar suara berat Marvin memanggil kakaknya.


"Kak Mariaaa..."


Maria yang tersentak bergegas masuk meninggalkan Selva dan Narendra yang kini berdiri saling berhadapan. Membuat Selva semakin berdebar kencang menghindari tatapan tajam Narendra.


"Baru saja Aku berkumpul kembali dengan putra ku tapi kamu sudah membahayakan keselamatannya!" tegas Pria yang masih terlihat gagah meskipun usianya hampir mendekati setengah abad.


"Demi kebahagiaan putraku, Aku sudah rela melepaskan cinta ku, tapi jika hadir mu tidak mambawa pengaruh baik untuk putraku, Maka Aku harus memikirkan kembali keputusan yang telah Aku buat!"


"M-maksud Tuan?"


"Apa! Apa kamu berpura-pura tidak tahu jika Aku memutuskan hubungan ku dengan Hilda demi Marvin supaya bisa menikahi mu? Tapi belum apa-apa kamu sudah membuatnya terbaring di rumah sakit ini!"


"Tuan... Aku..."


"Papa, Biarkan Selva masuk," ucap Maria yang kembali keluar memotong ucapan Selva.


Narendra masih terdiam seolah masih merasa berat mengizinkan Selva menemui putranya.


"Kak Mariaaa... Mana Selva!" pekik Marvin dari dalam.


Mendengar itu, Maria tanpa sepertujuan Ayahnya menarik tangan Selva masuk menemui Marvin. Kemudian membiarkan Selva melangkah sendiri mendekati Marvin yang terus menatapnya seolah tidak sabar lagi ingin memeluknya. Sementara itu Maria hanya berdiri di dekat pintu memperhatikan dua insan yang saling menghawatirkan kondisi satu sama lain.


"Selva, Apa kamu baik-baik saja?" tanya Marvin meraih tangan Selva, Menggenggam nya erat dan meletakkannya di dada.


Selva hanya mengangguk dengan tetesan air matanya sembari mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Mendekatlah," ucap Marvin yang terlihat masih kesulitan bangkit.


Selva pun sedikit membungkukkan badannya sehingga jarak keduanya semakin dekat.


"Lebih dekat lagi,"


Beberapa kali Marvin terus meminta Selva supaya lebih dekat lagi sehingga hidung keduanya hampir beradu. Setelah merasa cukup, Marvin tersenyum dan mengusap air mata yang membasahi pipi Selva kemudian mengecup pipinya sekilas.


"Maafkan Aku karena telah membuat mu hampir menginap di tempat yang mengingatkan mu pada masa lalu kelam mu."


"Bukan hampir menginap, Tapi akan segera menginap!!!" uapan itu mengagetkan Marvin dan juga Selva, Tak terkecuali dengan Maria yang merasa paling kaget karena Ratna tiba-tiba menerobos masuk.


"Mbak Ratna..." lirih Selva yang langsung turun dari ranjang dan berbalik badan menatap Ratna.


"Apa maksud Mbak Ratna?!" tanya Marvin.


"Kalian belum tahu maksud ku?!" teriak Ratna yang kemudian mengundang Narendra masuk kedalam ruangan.


"Mas Roni telah tiada jadi dia harus di hukum atas perbuatannya!!!" teriak Ratna sembari menunjuk wajah Selva dengan penuh kemarahan.


Bersambung...


📌 Assalamualaikum... Bagaimana kabar kalian.


Maaf baru bisa lanjutkan di karenakan si kecil baru sembuh, Terimakasih untuk doa dan dukungannya 🙏❤️