
Setelah berpikir cukup lama, Akhirnya Ganindra memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, Ganindra hanya mengatakan jika antara dirinya dan Hilda sudah tidak ada lagi kecocokan sehingga tidak bisa lagi terus bersama dalam satu ikatan pernikahan.
"Ini lebih baik Galvin daripada kita saling menyakiti satu sama lain."
"Mama tidak pernah menyakiti Papa, Papa lah yang selalu menyakiti Mama!" setelah mengatakan itu, Galvin kembali pergi meninggalkan rumah.
Ganindra hanya terdiam dan membiarkan putranya pergi membawa kemarahannya.
•••
Setelah sampai rumah sakit, Galvin mengambil gambar ibunya dan mengirimkannya ke Selva, Berharap Selva dapat memberinya belas kasihan dan memaafkan kesalahannya.
Dan benar saja, Begitu Selva melihat foto Hilda yang terbaring tak berdaya di rumah sakit, Selva yang sebenarnya memiliki hati lembut seketika merasa iba dan bersalah. Ia langsung menelpon Galvin menanyakan apa yang sudah terjadi pada ibunya.
"Apa yang terjadi Galvin?" tanya Selva begitu Galvin mengangkat telponnya.
"Semua ini terjadi karena wanita yang membuat Papa kehilangan akal sehingga secara membabi-buta Papa memukuli Mama."
"Deg..." mendengar itu Selva semakin merasa bersalah atas apa yang terjadi. Meskipun ia menginginkan kehancuran keluarga Arkananta termasuk Hilda yang pada saat itu tanpa belas kasihan mengusirnya meskipun ia telah bersujud di kakinya meminta pertanggungjawaban atas perbuatan putranya. Namun Hilda dengan tega mengayunkan kakinya sehingga Selva tersungkur ke tanah.
Mengingat peristiwa itu, Tak terasa air matanya menetes.
Selva segera menghapusnya dan menepis rasa ibanya kepada Hilda.
"Dia pantas mendapatkan ini untuk menebus dosanya kepadaku." batin Selva. Seketika itu juga Selva tersentak ketika Galvin melanjutkan ucapannya.
"Jika Aku bertemu dengan wanita itu maka Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
Ucapan itu cukup membuat Selva cemas membayangkan bagaimana jika Galvin mengetahui jika wanita itu adalah dirinya. Namun kecemasan itu hanya berlangsung sebentar karena Galvin mengakhiri panggilannya karena Dokter ingin memeriksa kondisi ibunya.
Selva membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan apa yang akan terjadi esok. Tak berapa lama kemudian Selva pun tertidur dengan beban pikiran yang masih menumpuk di kepalanya.
•••
Keesokan harinya, Ganindra yang tidak diizinkan datang ke kost-an, Meminta Selva menemuinya di sebuah rumah yang di klaim sebagai rumah temannya. Meskipun awalnya merasa ragu, Tapi Selva memilih datang karena Ganindra mengatakan jika temannya juga ada di rumah bersama istrinya. Selain itu, Selva juga ingin tahu apa yang begitu penting sehingga Ganindra tidak bisa menundanya lebih lama lagi.
Selva hanya terdiam dingin. Ia melihat sekitaran rumah yang hanya terdapat pekarangan kosong. Tak satupun terdapat rumah lain yang berdekatan dengan rumah itu. Hal itu membuat Selva sedikit takut dan memutuskan untuk tetap berdiri di depan rumah.
"Kita bicara di sini saja," ucap Selva.
"Masa kita bicara sambil berdiri seperti ini, Gak enak dong."
"Gak papa, Aku juga tidak ingin berlama-lama." saut Selva yang semakin merasa takut dengan tatapan Ganindra.
"Tiana, Apa yang ingin kubicarakan sangat penting, Jadi masuklah!" kali ini Ganindra tidak bisa lagi bersabar dan langsung menarik Selva masuk ke rumah itu. Meskipun Selva mencoba memberontak namun Ganindra tak peduli.
Setelah sampai di dalam, Ganindra menghempaskan tangan Selva hingga tubuhnya terjatuh di atas sofa. Kemudian Ganindra menendamg pintu hingga tertutup begitu kerasnya.
"Selama ini Aku sudah bersabar menghadapi mu Tiana! Aku juga selalu menuruti semua keinginan mu, Bahkan demi dirimu Aku telah mengorbankan kehormatan dan nama baikku dengan menceraikan istri ku, Sesuatu yang tidak pernah ingin Aku lakukan meskipun Aku memiliki wanita lain selain istri ku, Tapi kenapa kamu terus saja menghindari ku Tiana, Kenapa! Apa kamu sengaja ingin mempermainkan ku?!"
"Mungkin di masa lalu Anda berbuat kejahatan yang membuat seseorang sakit hati sehingga hari ini Anda harus mengalaminya." saut Selva. Meskipun ada perasaan takut, Namun Selva ingin membuat Ganindra mengingat kejahatannya di masa lalu. Namun sedikit pun kata-kata Selva tak membuat Ganindra mengingat tentang kejahatan yang Selva maksud. Ganindra justru tidak mau mengambil pusing kata-kata Selva dan mendekati Selva.
"Kamu terlalu banyak alasan Tiana, Sekarang Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi darimu! Kamu sudah menghancurkan segalanya maka kamu harus bersedia membayarnya!" Ganindra berucap sembari memaksakan kehendak yang selama ini ia tahan.
"Lep-paass..."
Semakin Selva memberontak, Ganindra semakin menekan tubuh kecilnya, Membuka paksa kain yang menempel di tubuhnya.
"Tolooooong..." susah payah Selva mempertahankan pakaiannya agar Ganindra tidak dapat menembus pertahanannya. Namun pria itu semakin beringas seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Tolooo.... Eummmhhh..." teriakan Selva langsung di bungkam dengan bibirnya yang langsung melahapnya.
Sekuat tenaga Selva mencoba melepaskan diri dan berhasil menendang perutnya. Namun baru baru saja ia meraih gagang pintu, Ganindra berhasil menangkapnya dan kembali menjatuhkan Selva di atas sofa.
"Kamu tidak akan bisa lari dari cengkeraman ku, Kamu sudah berrani bermain-main dengan Ganindra Arkananta jadi bersiaplah menjadi budak ku selama yang Aku inginkan!"
Bersambung...