
Semua orang masih terdiam dengan kegundahan hati dan pikirannya masing-masing. Hingga pada akhirnya suasana hening pun pecah ketika seorang wanita yang suaranya tidak asing di telinga mereka masuk ke ruangan.
"Apa kamu cukup pintar untuk memeras keluarga Tuan Narendra?" tanya wanita itu pada Ratna.
"Hilda..." lirih Narendra.
"Tante Hilda..." lirih yang lainnya. Mereka begitu merasa terkejut dengan kehadiran Hilda di tengah-tengah mereka, Terlebih ia dengan penuh percaya diri menyerang Ratna seolah ingin menjadi pahlawan untuk keluarga Narendra.
"Siapa kamu sehingga berani ikut campur dalam urusan ku?!" tanya Ratna.
"Kamu tidak mengenal ku? Bukankah kamu baru saja melibatkan putra ku?"
Ratna terdiam sejenak mengingat-ingat apa yang baru saja ia katakan. Sementara yang lainnya juga merasa bingung dengan maksud dan tujuan Hilda datang.
"Biar ku perjelas! Aku adalah ibu dari Galvin. Ayah kandung dari anak kecil yang kamu ingin jadikan mesin pencari uang!"
Semua orang tercengang menatap Hilda, Mereka terkejut karena rupanya Hilda mendengar apa yang Ratna katakan kepada Selva dan keluarga Narendra.
"Hilda apa kamu mendengar pembicaraan kami?" tanya Narendra memastikan.
"Ya. Bukan hanya mendengar, Tapi Aku tahu kejadian yang menimpa putra mu karenanya." saut Hilda seraya memandang Selva dingin.
"Apa maksud Tante mengatakan mengetahui kejadian di rumah Ratna?" tanya Marvin.
"E-Marvin..." Hilda melembutkan ucapannya dan melangkah mendekati Marvin. Ia memasang wajah simpatinya dan mulai menjelaskan apa maksud perkataannya.
"Sebelumnya Tante minta maaf Marvin, Setelah Tante keluar dari rumah mu, Tante tidak langsung pergi dari sana, Saat itu Tante benar-benar merasa sedih sehingga Tante menangisi keputusan Papa mu di dalam mobil, Dan disaat kamu keluar, Ntah firasat apa sehingga tanpa Tante sadari Tante mengikuti mu hingga ke rumah wanita ini, Di situlah Tante melihat mu berkelahi dengan pria itu karena pria itu mencoba memperkosa Selva."
"Jangan mengulangi cerita dengan apa yang sudah Anda dengar!" tegas Ratna!"
Melihat itu semua Ratna begitu terperangah seolah tak percaya dengan perbuatan Roni yang ternyata masih belum berubah. Akan tetapi pikiran itu lagi-lagi di tepisnya dan kembali merasakan kebencian terhadap Selva yang membunuh Roni apapun alasannya.
Ia menatap Selva penuh kebencian dengan nafas yang gemuruh karena rasa terkejutnya dan kekesalan di hatinya.
Melihat perubahan Ratna, Marvin meminta ponsel Hilda dan melihat bukti yang Hilda tunjukkan. Namun seketika Marvin mengernyitkan keningnya ketika melihat video itu tidaklah lengkap.
"Kemana lanjutan videonya Tante, Video disaat pria itu kembali bangkit dan menyerang ku dari belakang sehingga Selva menyerang pria itu karena melihatku tersungkur?"
Mendengar itu, Hilda langsung mengambil ponselnya dari tangan Marvin. "M-maafkan aku Marvin, Aku tidak tahu jika pria itu akan kembali bangkit dan menyerang mu, Jadi Aku tidak merekamnya lagi."
"Sudah ku duga, Pasti ini hanya akal-akalan kalian saja kan, Kalian semua telah sekongkol!" teriak Ratna.
"Cukup!!! Sudah cukup kamu bicara semau mu, Sekarang giliran ku yang bicara!" tegas Maria yang langsung membuat Ratna diam.
"Marvin, Tidak masalah video itu tidak sampai akhir, Video itu sudah cukup untuk membuktikan jika pria itulah yang bersalah. Kakak akan menelpon pengacara terbaik untuk segera menyelesaikan masalah ini!" setelah mengatakan itu, Maria keluar dari ruangan. Membuat Ratna yang merasa akan menghadapi kesulitan karena berani menentang keluarga yang berduit, Berpikir keras bagaimana supaya keadaan tidak berbalik menyulitkan hidupnya kelak.
Melihat situasi dimana Marvin tengah sibuk berbicara dengan Selva dan Narendra bersama Hilda, Ratna secara diam-diam keluar dari ruangan untuk lari dari masalah yang akan di hadapi. Namun langkah itu di sadari oleh Marvin dan Selva yang juga langsung menoleh ke belakang ketika melihat Marvin terus melihat ke arah pintu.
Menyadari kepergian Ratna, Selva langsung teringat akan kata-kata Ratna yang tidak akan membiarkannya bertemu dengan putrinya. Karena itu, Selva bergegas bangkit dan berlari keluar.
"Mbak Ratna..."
"Selva." pekik Marvin mencoba turun dari ranjang. Namun Narendra dan Hilda langsung menghentikan Marvin seolah membiarkan Selva pergi mengejar Ratna.
Bersambung...