
Dengan mata memerah dan tatapan kesalnya, Marvin masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia berikan. Namun seketika hatinya melunak tatkala Selva kembali memeluknya dan menumpahkan air mata di dadanya.
"Tidak." jawab Selva singkat.
Marvin yang sudah mencair meletakkan kedua tangannya di bahu Selva meskipun tak mengucapkan sepatah katapun.
"Katakan apa yang harus ku lakukan maka aku akan mengikuti apapun yang menurut mu baik." lanjut Selva yang membuat kecemburuan Marvin yang sebelumnya menguasai hatinya semakin mereda. Ada kebanggaan tersendiri dalam hatinya karena figurnya sebagai lelaki di taati oleh calon istrinya.
"Marvin... Katakan sesuatu, Kenapa diam saja, Apakah kamu tidak mau memaafkan ku?"
"E-tidak." saut Marvin yang tersentak dari lamunannya.
"Tidak? Kamu tidak memaafkan ku?" tanya Selva memastikan sembari melepaskan pelukannya dan menatap Marvin dengan sedih.
"E-bukan, Maksudku tidak, Aku tidak marah pada mu. Bagaimana mungkin aku bisa marah padamu jika kamu memasang wajah memelas seperti ini?" jelas Marvin sambil mencubit gemas pipi Selva.
Selva memegangi pipinya yang baru saja di cubit Marvin. Ia masih termangu menatap Marvin seperti tak percaya jika kekasihnya itu tidak lagi marah padanya.
"Sekarang kenapa kamu yang diam saja?"
Selva menggeleng pelan dan langsung di sambut senyum Marvin yang meraih bahu Selva kemudian menarik ke arahnya.
"Tadi kamu bilang akan menuruti apa yang ku katakan kan?"
Selva menganggukkan kepalanya sambil menatap Marvin yang mengajaknya duduk di tepi ranjangnya.
"Yang kamu perlu lakukan adalah menikah dengan ku dan tidak perlu menuruti perintah Tante Hilda."
"Tapi... Bagaimana jika Tante Hilda terus menerus menuntut ku untuk membebaskan Galvin?"
"Memang apa yang bisa Tante Hilda lakukan? Dia tidak bisa melakukan apapun sekalipun melalui Papa."
"Kenapa kamu begitu yakin?"
"Karena aku putranya, Aku percaya Papa lebih memilih putranya sebagaimana Tante Hilda memilih putranya."
Mendengar itu Selva terdiam tenang meskipun dalam hati dan pikirannya masih sedikit mengganjal tentang bagaimana nanti jika Hilda terus menganggu hidupnya dengan menggunakan Selvi sebagai alasannya.
"Apa yang sedang Papa pikiran?" tanya Maria yang baru masuk kamar.
Narendra yang tersentak langsung menoleh ke arah Maria yang kini melangkah mendekati sembari membawa buku di tangannya.
"Tidak ada. Kamu sendiri, Apa yang kamu bawa?" Narendra balik bertanya sambil mengambil buku yang Maria berikan padanya.
"Daftar tamu undangan untuk pernikahan Marvin dan Selva." saut Maria.
"Jika masih ada yang kurang, Papa bisa tambahkan." lanjutnya lagi.
Mendengar itu, Narendra menghelai nafas sembari menutup buku daftar tamu undangan tersebut. Hati kecilnya serasa masih tidak rela melepaskan putra kesayangannya untuk menikahi Selva yang menurutnya tidak sepadan dengan nya.
"Pa..." ucap Maria lembut.
"E-ya." saut Narendra sedikit gelagapan.
"Papa tidak sedang berpikir untuk membatalkan rencana pernikahan ini kan?"
"Apa Papa masih bisa membatalkannya?" Narendra balik bertanya dengan tatapan serius.
"Tidak." saut Maria tak kalah seriusnya.
"Jika tidak untuk apa kamu bertanya. Kamu yang memutuskan segalanya. Papa hanya mengikuti apapun keputusan mu untuk adik mu."
Maria terdiam sejenak melihat sikap Ayahnya. Namun mengingat janjinya kepada Marvin. Membuat Maria tetap teguh pada pendiriannya.
"Sekarang Papa mungkin masih menerima ini dengan terpaksa, Tapi aku yakin, Kelak Papa akan berterimakasih kepada ku karena telah memilih Selva menjadi menantu Papa."
Setelah mengatakan itu, Maria meninggalkan kamar Narendra.
Sementara Narendra hanya diam menatap kepergian Maria sambil bergumam dalam hati apa yang bisa di banggakan dari Selva yang tidak memiliki apa-apa bahkan telah memiliki anak di luar pernikahannya.
Bersambung...