
Maria menunggu Narendra dan Marvin mengatakan sesuatu tentang apa yang sudah ia katakan tentang rumitnya hubungan antara Selva dan juga Hilda jika Ayah dan anak itu tidak ada yang mau mengalah. Hingga pada akhirnya Marvin lah yang memecahkan keheningan.
"Papa bisa menikah dengan Tante Hilda."
Mendengar itu, Maria terkejut. Begitupun dengan Narendra yang belum percaya dengan apa yang putranya katakan.
Sementara dari sudut lain tanpa sengaja Selva yang sebelumnya berniat pamit untuk pulang mendengar apa yang Marvin katakan. Begitupun dengan Hilda yang berdiri di belakang Selva langsung tertawa jahat dan merasa telah menang dari Selva.
"Kamu dengar itu Selva, Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, Marvin pasti mengalah untuk kebahagiaan Ayahnya."
Mendengar itu Selva menghapus air matanya yang nyaris jatuh. Selva tidak ingin Hilda melihatnya meneteskan air mata meskipun hanya setetes. Kemudian Selva pergi melewati Hilda dan tanpa ingin tahu lagi apa yang Marvin bicarakan dengan kakak dan Ayahnya. Sementara Hilda terus menguping apa yang keluarga Narendra bicarakan.
"Papa bisa menikah dengan Tante Hilda tapi Aku tidak akan kembali lagi ke rumah ini!" lanjut Marvin meneruskan ucapannya.
Sekali lagi Maria dan Narendra begitu tercengang dengan keputusan Marvin. Terlebih Hilda yang sebelumnya telah merasa diatas angin.
"Apa yang kamu katakan Marvin, Kamu baru saja kembali ke rumah setelah pergi lebih dari lima bulan, Dan sekarang kamu ingin kembali meninggalkan rumah ini? Meninggalkan Papa?"
"Papa tidak mau kan meninggalkan Tante Hilda, Jadi biarkan Aku pergi agar Aku juga bisa bersama dengan Selva."
"Papa! Apa Papa akan biarkan Marvin pergi demi wanita itu, Apa Papa tidak ingat bagaimana Papa memohon kepada ku untuk pulang ke Indonesia demi bisa membujuk Marvin kembali ke rumah, Dan setelah Marvin kembali Papa akan membiarkannya pergi lagi demi wanita itu, Wanita yang jelas-jelas tidak punya hati kepada gadis kecil yang telah di hamili oleh putranya?!"
Hilda yang terus menguping pembicaraan mereka merasa tegang dengan apa yang Maria katakan. Hilda khawatir jika ucapan Maria akan mempengaruhi Narendra dan memutuskannya demi anak-anaknya. Namun yang terjadi Narendra hanya diam saja. Narendra sendiri benar-benar merasa bingung memilih antara Marvin dan Hilda, Dua orang yang begitu ia cintai.
"Sudahlah kak, Tidak perlu menekan Papa seperti itu, Aku tahu bagaimana rasanya mencintai jadi biarkan Papa menikahinya. Papa juga sudah terbiasa tanpa Aku jadi itu bukan sesuatu yang sulit untuk Papa."
"Diamnya Papa sudah memperjelas keputusan Papa. Baiklah, Jika Marvin pergi, Aku juga ikut pergi. Ayo Marvin kita bersiap." Maria memegang lengan Marvin dan menariknya pergi bersamanya untuk bersiap.
Setelah memikirkan bagaimana jika anak-anaknya kembali pergi meninggalkannya, Narendra melangkah untuk menyusul mereka. Namun baru beberapa langkah, Hilda langsung menghentikan Narendra dengan menarik tangannya.
"Mas Narendra!"
Narendra menoleh ke belakang melihat Hilda yang berdiri di depannya. Ia seolah baru mengingat jika Hilda masih berada di rumahnya.
"Mas ingin meninggalkan ku demi anak-anak Mas?"
"Hilda Aku..."
"Aku rela meninggalkan suamiku dan mengabaikan anak ku demi bisa bersama mu, Tapi sekarang Mad ingin meninggalkan ku?"
"Hilda tolong jangan bicarakan ini sekarang, Aku harus mencegah anak-anak ku pergi terlebih dahulu. Aku tidak ingin mereka pergi lagi."
"Lalu bagaimana dengan ku Mas, Apa Mas rela jika Aku pergi?"
"Hilda ku mohon..." ucapan Narendra terhenti saat melihat Marvin dan Maria kembali turun membawa kopernya masing-masing.
Sama halnya dengan Narendra dan Hilda yang terdiam menatap mereka, Marvin dan Maria juga terdiam menatap Ayahnya yang terlihat lebih berat hati melepaskan Hilda dibandingkan anak-anaknya.
Bersambung...