
Polisi memaksa masuk Selva yang masih saja berdiri menatap ke belakang, Berharap Marvin sadar dan menyelamatkannya. Namun hingga beberapa menit berlalu harapan Selva tinggalah harapan karena Marvin tidak juga sadarkan diri.
"Cepat masuk!" tegas salah satu polisi yang berdiri di belakang Selva.
"Tunggu sebentar Pak," ucap Selva yang langsung kembali lari masuk kedalam rumah Ratna. Ia memeluk putri kecilnya dan menciuminya bertubi-tubi. Rasa khawatir tidak akan bertemu lagi dengan putri kecilnya ketika ia di penjara membuat Selva seolah tak ingin melepaskannya.
"Lepaskan putriku!" ucap Ratna sembari menarik tangan Selvi.
Selva hanya bisa menangis pasrah ketika anak kandungnya diakui oleh sahabat yang sangat ia percaya selama ini. Sementara dua polisi menarik lengan Selva hingga berdiri dan memintanya kembali ke mobil.
Dengan linangan air mata, Selva hanya bisa menatap Marvin dan putri kecilnya sebelum pergi meninggalkan rumah Ratna sesuai arahan polisi.
Tak lama setelah mobil polisi meninggalkan rumah Ratna, Dua Ambulance yang telah di hubungi oleh polisi pun datang untuk membawa Marvin dan Roni ke rumah sakit.
Ratna mengajak serta Selvi untuk mendampingi Roni di dalam mobil Ambulance. Dengan terus memandangi wajah mantan suaminya yang bersimbah darah, Ia mengingat kata-kata manis Roni yang akan kembali melamarnya dan berjanji akan membahagiakannya tanpa sedikitpun menyakitinya lagi. Gambaran-gambaran tentang masa depan indah yang terlontar dari mulut Roni membuat Ratna menjadi kesal kepada Selva yang dianggapnya menunda kebahagiaan itu. Seketika pikiran jahatnya melintas ketika ia menyadari tangisan Selvi yang tak kunjung berhenti.
Rasa kasih sayang yang dulu tulus ia curahkan kepada Selvi seketika sirna karena rasa marah yang memuncak kepada Selva ibu kandungnya.
"Diamlah!!!" teriak Ratna mengagetkan Selvi dan petugas rumah sakit yang berada di dalam mobil Ambulance tersebut.
Anak berusia tiga tahun itu dengan sesenggukan mencoba menghentikan tangisnya karena rasa takutnya kepada Ratna yang selama ini tidak pernah membentaknya seperti itu. Sementara si Supir hanya melirik sejenak melalui kaca spion dan kembali fokus menyetir.
•••
Begitu sampai di rumah sakit dan telah di tangani oleh Dokter, Ratna menghubungi Ayah Marvin melalui ponsel Marvin yang di serahkan kepadanya oleh pihak rumah sakit. Sebelumnya ia hanya ingin mengabarkan kondisi Marvin. Namun mengingat kondisi Roni yang lebih parah dari Marvin, Timbul pikiran jahat untuk menjelekkan Selva di depan Ayah Marvin.
"Ya, Dan ini semua gara-gara Selva."
"Selva? Bagaimana bisa?"
"Kenapa Anda terkejut, Bukankah Anda tahu jika wanita yang Marvin cintai adalah mantan narapidana? Jadi apa yang tidak bisa ia lakukan, Dia itu wanita yang sangat berbahaya!"
"T-tapi Selva terlihat sangat lembut, Dia seperti wanita baik-baik."
"Yang terlihat baik belum tentu baik, Begitu juga sebaliknya! Terserah Anda mau percaya atau tidak yang jelas sekarang putra Anda sedang terkapar tak sadarkan diri gara-gara wanita berwajah malaikat itu!"
Tuttt... Tuttt... Tuttt...
Ratna pun mematikan panggilan teleponnya dan meligat lampu operasi yang belum juga mati. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Selvi yang sudah tertidur di bangku tunggu. Ratna menghampiri anak kecil itu dan menatapnya dengan kesal.
"Jika terjadi sesuatu pada Mas Roni, Aku tidak akan mengampuni mu!" gumamnya dalam hati.
•••
Tidak lama kemudian, Narendra dan Maria tiba di rumah sakit. Marvin pun telah di pindahkan ke ruang rawat. Namun sebelum mereka menjenguk Marvin, Ratna menghentikan mereka dan kembali meracuni pikiran Narendra dengan cerita buruk tentang Selva.
Narendra pun hanya diam mendengarkan dan menatap Selvi yang dikatakan Ratna sebagai anak Selva tanpa pernikahan. Begitupun dengan Maria yang semula begitu mendukung hubungan Marvin dan Selva kini tersirat keraguan di dalam hatinya.
Bersambung...