Kotak Merah

Kotak Merah
Box 9: I Just Wish I was Dead


Polisi? But why? Menyakiti semut pun, jarang. Mengapa mereka mendatangi pecinta damai sepertiku, orang berhati paling mulia? Kurang kerjaan, maybe? Ini sungguh keterlaluan.


Kulihat seorang petugas masuk tanpa permisi. Dengan seenaknya dia mengutak-atik komputer, sesuatu yang kuanggap separuh nyawaku.


“What do you want? What do you fu...”


“Lihat ini!” sergahnya.


Rekannya mendorong tubuhku ke lantai. Tubuhnya besar, dan berotot kekar. Cengkram tangannya sangat kuat, membuatku merasakan sakit hingga ke tulang. Tinggi badannya pun, sangat proporsional. Sekali lempar, tubuhku terpental sampai ke dalam.


Nyali ini seketika ciut. Saat diborgol pun, aku hanya diam tak berdaya. Aku sadar, tenagaku bukanlah apa-apa. Lucunya, aku selalu mengutuk orang-orang pergi ke gym.


Sudah buang tenaga, buang uang pula. Itulah argumen yang kupegang teguh saat itu.


I mean, kenapa tidak jadi kuli saja kalau mau tubuh berotot?


Kita bahkan bisa mendapatkan uang, sekaligus membangun untuk negara. Mulia bukan? Tapi rupanya konsepnya tidak-lah seperti itu.


Kalau bisa menyelam sambil minum air, why not?


Itulah kalimat pamungkas penutup debat yang menjadi jurus andalanku. Hari ini, akhirnya kutemukan jawaban atas argumenku sendiri.


Why not? Couse you gone be die!


Menyelam, menyelam saja tidak usah freestyle!


......................


“Apanya yang lucu!” bentak Si Petugas.


“What are you meaning? Kalian datang ke sini saja sudah sangat lucu,” jawabku.


Entah apa yang kupikirkan sehingga berani berkata demikian. Begitu Si Petugas mendaratkan bogem mentah, seketika itu penyesalan datang.


Sekali hantam pandanganku langsung buram. Kurasa, kepalan tangannya sebesar jeruk bali.


“Apakah kamu Dimas Alfian?” tanyanya.


“Kalian salah orang!” elakku.


Lagi-lagi, pukulan telak mendarat di wajahku. Kepala rasanya sangat pening. Dia memukul begitu kencang sampai-sampai telingaku berdengung.


“Kami sudah mengintai tempat ini selama satu minggu, jangan main-main!” serunya.


Sungguh, orang-orang ini sangat lucu. Kalau sudah mengintai, kenapa mereka menabur garam ke lautan?


Apa gunanya menanyakan sesuatu yang sudah pasti?


Ingin rasanya tertawa. Tapi wajahku pasti akan semakin tidak berbentuk. Aku masih berharap, suatu hari nanti ada agen model yang merekrut-ku.


“Ada 3 hal yang ingin kami ketahui, Redbox, kasus Anwar, dan kotak dengan nomor seri 12B117HG!” serunya lagi.


“Really? Saya, bahkan tidak mengerti apa yang kalian katakan!” jawabku, masih saja bertingkah tengil.


“Oh ya?”


Si Petugas mendengus. Nada suaranya terdengar kesal, itu membuat tubuhku gemetaran. Dia menarik tubuhku dengan sangat mudah, dan menempelkan sesuatu ke kepala.


Ku harap itu cuman botol minuman soda. Rasanya dingin. Teksturnya berlubang seperti tabung.


“Sumpah, pak saya tidak tahu apa-apa!”


Aku mulai merengek seperti anak kecil. Itu sangat memalukan. Dia menjambak rambut dan membenturkan kepalaku ke meja, memaksaku menatap monitor.


“Terus itu apa?” tanyanya.


Aku melongo, bingung memperhatikan monitor.


Apa masalah mereka? Mengapa membuka obralan reddut yang biasa kami gunakan? Tempat itu cuman digunakan untuk mendiskusikan hal-hal tidak penting.


Dalam forum itu, terlihat adanya lonjakan aktivitas. Hanya ada satu alasan tentang itu. Sesuatu yang heboh sedang terjadi.


Andai saja situasinya tidak seperti ini, aku yakin itu pasti akan seru.


(@evilp make a threat!)


@evilp


“Big news! Alex’s murder suspect, has been arrested!”


Aku menoleh, merasa sangat bingung. Sekali lagi bertanya pada diri, di mana letak kesalahannya?


......................


“Kamu, dan semua teman psikopat-mu sudah membunuh banyak orang!” tuding Si Petugas.


“No way!”


Aku menggeleng tak sepakat dan tambah bingung. Itu benar-benar tidak bisa diterima.


Maybe, mereka semua memang sedikit kurang waras. Tapi untuk apa? Apa untungnya menghilangkan nyawa seseorang?


Bahkan kalau pun, ada kenapa mereka tega?


Apa hubungannya denganku? Kenapa juga aku ikut-ikutan disalahkan?


Please, tell me!


Hanya karena pernah berkomunikasi, apakah itu menjadi alasan?


Tubuh dan pikiran seketika kehilangan sinkronisasi. Mulut rasanya pahit, gemetaran tak tahu harus apa. Logika mana yang harus kupakai agar orang-orang ini paham?


Image this, orang yang bahkan belum pernah kalian temui. Hanya saling chat gabut, membunuh orang. And then, someone tell you to take a responsibility for something that you didn't do!


What are they doing?


Apa yang mereka inginkan dariku?


Dari banyaknya tempat, mengapa kos-kosan menyedihkan ini yang dipilih?


Begitu banyak penjahat kelas kakap berkeliaran di luar sana, kenapa malah nge-prank warga tak berdosa sepertiku?


Kemarin hidupku memuakkan, sekarang hancur berantakan. Lagi-lagi, sesuatu yang dingin menyentuh kepalaku. Tubuh berkeringat. Isi kepala seketika kosong. Saat menoleh, kulihat sepucuk pistol.


Dunia terasa runtuh. Pandangan makin terasa gelap. Tanpa disadari celana sudah basah kuyup.


“Kamu pikir saya main-main?” tanyanya.


“S-Sumpah, pak ini jebakan! Saya tidak tahu apa-apa!”


“Tidak usah mengelak, kami sudah mengantongi bukti!”


Rekannya yang tadi mengutak-atik komputer menggeleng. Kulitnya coklat, sedikit kurus, tapi tak kalah tegap. Kurasa dia perokok berat, karena bibirnya sangat gelap.


Dilihat dari gelagatnya, sepertinya dia kurang menguasai komputer.


“Tidak ada apa pun, di sini,” ujarnya.


“Sini, biar aku yang mengecek!”


Rekannya yang bertubuh besar mengambil alih. Tapi gelagatnya tak menunjukkan perubahan signifikan. Setelah mengecek sebentar, ia kembali menghampiri-ku.


“Dimana kamu sembunyikan bukti-bukti kejahatanmu?” tanyanya.


“Kejahatan apa? Saya benar-benar tidak melakukan apa pun!” jawabku.


“Bagaimana caramu memecahkan kotak 12B117HG?”


Kotak? Mungkinkah yang mereka maksud itu...


“Salah satu dari kotak gratisan yang kupecahkan?” gumamku.


“Apa?!” sahutnya.


Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat antusias. Di awal dia juga menyebutkan perihal Redbox dan Anwar. Sekarang aku paham garis besarnya.


“Wait a minute! I can explain this!” jelasku, “izinkan saya menunjukkan sesuatu!” lanjutku, memohon.


“Menunjukkan apa?”


Petugas bertubuh besar menatap sinis. Aku tidak tahu kenapa orang ini sangat membenciku.


“Buka forum reddut beberapa bulan lalu, dan aplikasi robot yang ada di hard disk!”


Si Petugas besar menghadap monitor, melakukan instruksi arahanku. Dibandingkan yang kurus, dia kelihatan lebih mahir. Namun sifatnya benar-benar temperamen dan tidak bisa ditebak.


Tiba-tiba saja, dia menghampiri lagi.


Sambil menarik baju, ia bertanya, “maksudnya kamu memecahkan kotak itu dengan cara ini?”


Aku memperhatikan monitor. Kulihat, dia sudah menemukan aplikasi robot yang aku simpan di hard disk.


Keyboard terlempar. Belum sempat mengangguk, pria itu sudah mengamuk. Ia bahkan nyaris melempar monitorku, andai saja rekannya tidak menghalangi. Mereka juga mulai berdebat. Hal itu membuatku sedikit curiga.


Setelah menangkap target, seorang petugas biasanya langsung membawa target ke markas. Interogasi dan pengumpulan barang bukti baru dilakukan setelahnya. Entah mengapa, aku merasa mereka mecoba melakukan  semua hal dalam satu waktu.


“Lanjutkan di kantor saja!” seru petugas kurus.


Petugas tinggi besar hanya menunduk. Sambil memukul meja, dia berjalan pergi.


Petugas kurus mendekat. Tiba-tiba saja, ia membuka borgol di tanganku dan menyuruhku membuka baju. Setelah itu, dia memborgolnya lagi. Itu sangat membingungkan.


Is this real? Jangan-jangan, pria itu mengalami kelainan.


Aku benar-benar sangat takut.


“Sana mandi!” serunya, seraya menutupi hidung.


Aku tersentak. Rupanya semua yang kupikirkan salah. Dengan cepat, aku berlari ke kamar mandi. Ini benar-benar memalukan. Sepertinya, petugas itu menyadari keadaanku, dan berempati.


......................


Sebenarnya, aku tidak suka mandi di siang hari, karena air terasa lengket dan berbau amis. Tapi, tidak ada yang mau pergi dengan kondisi begini. Aku langsung melepas celanaku yang basah, dan segera membasuh tubuh.


Begitu sadar, tidak ada lagi kain bersih tersisa. Terpaksa aku menggunakan gayung untuk menutupi bagian vital. Dengan perasaan malu dan tubuh basah kuyup, aku berlari menuju kamar layaknya seonggok tuyul.


They laugh out loud!


Itu sangat memalukan.


Begitu selesai ganti baju, petugas menyeretku. Mereka bahkan tidak membiarkanku berdandan. Semua orang terus memperhatikan, meskipun aku menundukkan wajah.


Di masa depan, aku pasti akan kesulitan mencari jodoh. Mereka membuatku terlihat seperti topeng monyet.


Ku harap, aku mati saja.