
“Ada masalah apa?” tanyaku.
“Pak Yanto pasti akan membunuh kami!” ujar Roni.
“Hah?!”
Aku menarik ponsel, sejenak memperhatikan layar. Waktu panggilan menunjukkan angka 1 dan 38 yang menandakan, kami sudah berbicara selama satu menit tiga puluh delapan detik. Tapi, semua ini masih saja membingungkan.
“Baru masuk aja, Heri udah disuruh berlari keliling lapangan!” jelas Roni.
“Emangnya ada apa?” tanyaku, semakin tak mengerti.
“Dia nyuruh kami ngasih analisis video.” Roni.
“Video, bukannya masih ada Galih?”
“Galih kabur, takut disuruh menganalisis,” jelas Roni, “tolonglah, nggak ada yang berani berurusan dengannya selain elu, Lang!” lanjutnya.
“Gue masih ada urusan, besok baru bisa balik,” jawabku, “lagipula, gue cuman cuti dua hari, kok!”
Aku menambahkan.
“Sebelum lu kembali, semua rekan-rekan lu pasti udah lenyap!”
Roni mendramatisir.
Seketika aku mendesah. Suaranya kedengaran putus asa, membuatku tidak tega. Om Yanto memang orang yang sangat keras, apalagi kalau berurusan dengan kasus.
“Baiklah, kirimkan video itu lewat WA!” seruku, “gue akan menganalisis secara visual, lalu melengkapi teknikalnya besok. Kalau gue kembali sekarang, gue juga nggak akan sampai dalam keadaan selamet,” lanjutku.
“Gilang!!!”
Tiba-tiba, mama berteriak.
“Udah dulu, ya! Gue benar-benar bakalan dicincang, kalau terlalu lama ngobrol!”
Aku langsung mematikan telepon, lanjut mengganti celana dengan terburu-buru. Baru kusadari, harusnya aku memarahi Roni. Sayangnya, mama sudah menunggu di bawah tangga.
Bagai atlet halang rintang, aku berlari menuruni tangga, dan segera menghampirinya. Sesampainya di bawah, aku berdiri di posisi siap, menunggu hasil penjurian layaknya upacara bendera.
“Lumayan, tutup resletingnya dan cepatlah berangkat!” perintah mama, seraya berbalik.
“Siap, komandan!”
Sambil menutup resleting, aku memberi hormat dan memicingkan bibir.
Tahu begini jadinya, harusnya aku menolak perjodohan saja.
Lagipula, kenapa mama tiba-tiba bersikap seperti ini lagi?
“Katanya, mau membiarkanku memilih jalan sendiri!” gerutuku.
“Kenapa, Lang?”
Mama langsung menyambar.
“Sepertinya, aku harus segera berangkat sebelum terjebak macet,” jawabku, sembari senyum.
“Tunggu apa lagi?” mama.
“Kalau gitu, Gilang berangkat, ya!” pamitku.
"Entar dulu!"
Dari belakang, mama tiba-tiba menarik tudung hoodie-ku.
"Apa lagi, sih?" protesku.
Sambil menyodorkan sebuah parsel berisi buah-buahan, ia berkata, “titip salam buat mamanya Fira!”
Aku berbalik, mengambil parsel itu, seraya mengangguk. Jam sudah menunjukkan angka sembilan lewat. Walaupun sudah membuat janji, bisa saja kami terpaksa mengantre.
Tak mau buang-buang waktu, aku langsung masuk ke dalam mobil dan membunyikan klakson, pamitan untuk segera berangkat. Mama melambaikan tangan, sehingga membuatku berhenti dan balas melakukan hal serupa.
Dari spion, dia terlihat menyilangkan tangan dan mengatakan sesuatu. Tapi karena terlalu jauh, aku tidak tahu apa yang beliau katakan.
“Mau bagaimana lagi?” pikirku.
Aku menutup jendela rapat-rapat dan menyalakan AC. Polusi di jalananan tidak sehat untuk paru-paru, sehingga aku harus meminimalisir kontak.
Untungnya, aku bisa segera sampai tanpa terjebak macet sama sekali. Bahkan, hanya dalam beberapa menit, aku sudah sampai di depan pintu gerbang komplek. Tentunya, itu berkat menganalisis trafik sebelumnya.
Saat siang hari, ternyata portal dibuka lebar. Pos penjagaan pun, kelihatan sepi. Orang-orang bebas keluar masuk komplek begitu saja. Hal-hal yang tidak berubah ialah; kerapian, kebersihan, hingga tata letak bangunan yang terlihat sangat memanjakan mata.
“Namanya juga perumahan elit,” gumamku, segera masuk.
Sesampainya di rumah Fira, seorang wanita paruh baya bergegas membukakan pintu gerbang. Saat itu, aku baru saja membuka pintu mobil. Tadinya aku bermaksud memencet bel. Melihat halamannya kelihatan luas, tanpa pikir panjang aku langsung menutup pintu dan bergegas memasukkan mobil.
Segera setelah itu, wanita tadi menghampiri dan mengetuk kaca jendela. Aku segera menekan tombol jendela yang ada di sakral sentral. Mendengar suara motor power window yang begitu halus membuatku merasa; mobilku hanyalah sebuah rongsokan.
“Cari siapa, ya mas?” tanya si wanita.
“Lah, kirain udah tahu,” jawabku.
Sama-sama bingung, kami berdua saling tatap.
“Suruh dia masuk, Nur!” seru seorang wanita dari dalam rumah.
Mendengar karakteristik suaranya, sepertinya itu mamanya Fira.
Aku buru-buru mengambil parsel titipan mama, dan mengikutinya. Tapi sebelum masuk, aku melepas sepatu terlebih dahulu, karena teras rumah Fira kelihatan sangat bersih. Wanita tadi juga melepas alas kakinya, sehingga membuatku melakukan hal serupa.
Dari teras ukuran 1 x 3 meter, kami naik sekitar setengah meter menuju ruang tamu. Bagian kanan merupakan carport dengan lebar 3 meter. Itu artinya, lebar ruang tamu sekitar 7 meter dengan panjang 5 meter. Dengan ruang tamu seluas itu, mereka menempatkan satu set sofa besar berwarna krem. Sangat cocok dengan lantai keramik putih yang digunakan. Dan di ujung, terdapat sebuah tangga bermodel letter “U.”
Aku menyukai desain itu. Benar-benar rumah modern yang bagus. Selain bagian luar, aku juga menyukai pemilihan yang berani di dalam rumah. Dibanding tembok, mereka memilih sekat kayu setinggi satu meter yang membuat dapur mereka kelihatan jelas. Artinya, yang tertutup tembok hanyalah bagian carport.
Antara ruang tamu dengan dapur dihubungkan sebuah tangga berorientasi turun. Itu artinya, fondasi ruang tamu sengaja dibuat lebih tinggi setengah meter. Kemungkinan, tujuannya adalah memudahkan pembuatan tangga dan membuat pembagian wilayah yang elegan.
Panjang ruang tamu sekitar lima meter, terpotong satu meter untuk teras. Berarti, panjang carport kira-kira empat meteran.
“Empat kali tiga, ya?” gumamku.
“Lagi ngitung apa?” tanya mama Fira.
Seperti dugaan, dia sudah menunggu di dalam rumah.
“Eh, pagi tante!” sapaku.
“Udah hampir siang baru datang!” sahutnya, duduk santai di sofa.
Terlihat marah, aku hanya senyum.
“Saya sudah buat jadwal, kok!” jelasku, “jam 9 juga baru buka. Niatnya, sih, mau datang tepat jam 9. Tapi, jalanan nggak bisa ditebak,” lanjutku, beralasan.
“Oh gitu?” maklum mama Fira, “duduk sini, Fira lagi ganti baju. Sebentar doang, kok, pokoknya anggap aja rumah sendiri!” imbuhnya.
“Baik tante!” anggukku, sembari senyum, “oh iya, ini, ada titipan bingkisan dari mama, sama salam katanya,” lanjutku, menyerahkan parsel sebelumnya.
Sambil menerima, mama Fira menjawab, “duh, ngapain repot?”
“Enggak, kok, orang cuman bawa doang!” jawabku.
“Salam balik ke mama kamu, ya, sama bilangin, ‘terima kasih!” ucapnya, “oh, iya, mau minum apa?” lanjutnya, menawari.
Aku tak suka basa-basi, tetapi di saat yang sama tak ingin dianggap tak tahu malu. Daripada menolak atau menyebutkan sesuatu, aku lebih memilih seadanya saja.
“Apa aja, tante, yang penting minuman,” jawabku, sembari senyum.
“Ya masak ngasih racun?” kelakarnya, “duduk sini, ngapain malu-malu begitu?” lanjutnya.
Sambil menggaruk kepala, aak cengar-cengir salah tingkah. Keadaan jadi semakin canggung, karena ia langsung pergi ke dapur, begitu aku duduk.
......................
Tak lama, ia kembali membawa beberapa cemilan. Wanita paruh baya tadi juga ikut dengan membawa beberapa gelas minuman berwarna merah.
“Duh, nggak usah repot, tante!” ucapku, sungkan.
“Nggak repot, tinggal bawa doang, kok!” jawabnya.
Aku hanya senyum kecut, teringat ucapanku sendiri sebelumnya.
“Boleh nanya, nggak, tante?”
Aku meminta izin sebelumnya.
“Tanya apa?” jawabnya.
“Panjang dapurnya berapa meter?” tanyaku.
“Ealah, kirain apa, tadi itu kamu ngitung luas garasi, ya,” gumamnya, “5 meter, emangnya kenapa?” lanjutnya.
“Berarti, kolam renangnya luas, ya?”
“Pengen lihat?”
“Pengen, sih, tapi kapan-kapan aja, deh.”
Aku masih sibuk lihat-lihat, sampai akhirnya menyadari tatapannya berubah. Kurasa, ia mulai tak nyaman dengan ulahku yang sudah seperti pegawai survei bank.
“Oh, saya cuman terkesan sama arsitektur rumah aja, kok, yang desain pasti jago,” ujarku, tak ingin dianggap orang yang gila properti, “kalau nanti tabungan udah cukup, boleh dikenalin sama yang bikin desain, nggak, tante?” lanjutku, menambahkan.
“Oh gitu?”
Mama Fira tiba-tiba senyum.
“Kalau kamu jadi nikah sama Fira, berarti nanti desain rumahnya gratis, dong?” lanjutnya.
“Kok gitu?” tanyaku.
Ia mengendikkan tangan, memintaku supaya mendekat. Begitu cukup dekat, ia berbisik, “saya sendiri yang desain rumah ini.”
Aku hanya melongo, terdiam menahan malu.
“Ngomongin apa kalian?” tanya Fira, tiba-tiba saja datang menuruni tangga.
Saat itu, ia mengenakan terusan putih bermotif bunga. Dibanding semalam, riasan wajahnya jauh lebih sederhana. Tapi anehnya, aku tak bisa melepaskan pandangan darinya.
"Kenapa dia bisa secantik ini?"
Seketika aku menoleh.